Pertamina Punya Andil Kemegahan, Peduli Lingkungan dan UMKM

Pertamina Punya Andil Kemegahan, Peduli Lingkungan dan UMKM

MATARAM – 28 Oktober 2025
Nama Pertamina terpampang megah di ujung selatan Mandalika. Menghadap pantai selatan di ujung tikungan & Sirkuit Mandalika. Tentu tidak sedikit sumbangan BUMN di bidang energi ini kehadirannya bisa diterima di sana. Apalagi sirkuit ini adalah arena kejuaraan dunia MotoGP.

Nama lengkapnya sirkuit yang memasang nama perusahaan Indonesia tersebut adalah Pertamina Mandalika International Street Circuit. Dibangun oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai pemacu kebangkitan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kawasan ini semula dikelola bernama Lombok Tourism Development Corporatioal (LTDC) yang dimiliki pengusaha nasional bersama Pemerintah Provinsi NTB. Namun perjalanan pertumbuhannya tidak kunjung semarak seperti yang diinginkan. Setelah berjalan lima periode kepemimpinan kepala daerah di sana, hadirlah ITDC dan sirkuit ini.

‘’Kami bersyukur Pertamina mendukung sirkuit ini,’’ kata Direktur Operasi ITDC Troy Reza Waroka di hari kedua Kejuaraan MotoGP 20254 Oktober 2025 lalu. Kehadiran Pertamina ini menyangkut kebanggaaan bangsa Indoneisa. ‘’Semestinya Pertamina yang hadir,’’ ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Ahad Rahedi.

Di sela penyelenggaraan hari kedua Moto GP 2025 tersebut, Pertamina juga menyempatkan membantu para pengusaha UMKM yang membuka kedai di sekitar beberapa lokasi tribun penonton. Direktur Pemasaran Regional Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto hadir bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan bantuan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berupa tabung gas ukuran 5,5 kilogram.

Juli 2025 lalu Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyelenggarakan media gathering mengundang rekan jurnalis se Nusa Tnggara Barat dan Nusa Tenggara Timur mengunjungi Mandalika. Di sana, memastikan kesiapan penuh pemenuhan energi. Mulai dari Avtur untuk penerbangan, BBM untuk transportasi darat, hingga LPG untuk mendukung aktivitas UMKM, seluruh pasokan energi dipastikan dalam kondisi aman.

Pj. Executive GM Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Wahyu Dodi Tri Marianggodo, menyampaikan bahwa untuk mendukung kelancaran event internasional ini, menambah pasokan Avtur, BBM, dan LPG di seluruh titik layanan utama. Misalnya untuk Avtur di Bandara Internasional Lombok, melakukan build-up stok serta memperkuat koordinasi dengan maskapai dan otoritas bandara agar layanan energi berjalan lancar. ‘’Sedangkan untuk BBM transportasi darat, build up stok dilakukan di SPBU guna mengantisipasi peningkatan konsumsi kendaraan penonton MotoGP,” kata Wahyu.

Menurutnya, kebutuhan LPG juga mendapat perhatian khusus mengingat tingginya aktivitas UMKM, terutama sektor kuliner, saat event berlangsung. Pasokan LPG ditambah lebih dari 148.000 tabung selama periode event agar pelaku usaha tetap bisa melayani lonjakan wisatawan dengan lancar. ‘’Juga memperkuat distribusi melalui SPBE, agen, dan pangkalan resmi Pertamina di NTB,” ucapnya.

Suplai energi selama periode 29 September – 8 Oktober 2025 diproyeksikan mengalami peningkatan signifikan. Konsumsi Avtur diproyeksikan naik menjadi 140 KL per hari dari 91 KL per hari, gasoline naik menjadi 1.739 KL per hari dari 1.578 KL per hari, gasoil naik menjadi 596 KL per hari dari 560 KL per hari dan LPG diperkirakan meningkat diatas rata-rata 475 MT per hari. Seluruh kebutuhan ini telah diantisipasi melalui penguatan stok, penambahan armada distribusi, serta koordinasi intensif dengan berbagai pihak.

Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan komitmen perusahaan untuk menyukseskan ajang internasional ini. Kesiapan energi adalah bagian penting dari keberhasilan Pertamina Grand Prix of Indonesia di Mandalika. Pertamina Patra Niaga berkomitmen memastikan pasokan Avtur, BBM, dan LPG dalam kondisi aman sehingga masyarakat, wisatawan, maskapai penerbangan, hingga UMKM dapat beraktivitas dengan kebutuhan pasokan energi yang mencukupi. Kami percaya bahwa dukungan ketersediaan energi ini, tidak hanya menyukseskan event balap dunia, tetapi juga memberi dampak positif bagi ekonomi lokal dan citra Indonesia di mata dunia,” tutup Roberth.

Tidak hanya itu kepeduliannya berkaitan dengan balap motor dunia tersebut. Sebelumnya, dua tahun lalu 10 Juni 2023, Pertamina pernah menylenggarakan Peringatan Hari Lingkungan Hidup di Pantai Nipah utara kawasan wisata Senggigi. Masih dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni PT Pertamina Patra Niaga regional Jatimbalinus bekerja sama dengan pemerintah Provinsi NTB beserta instansi terkait dan sejumlah kelompok masyarakat kembali melakukan aksi bersih-bersih pantai (Coastal Clean Up) di sepanjang pantai Nipah, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (10/6/2023).

Kegiatan Coastal Clean Up 2023 kali ini mengusung tema “Solusi Untuk Polusi Plastik”. Sehingga pembersihan pantai akan dilakukan secara menyeluruh baik di kawasan pesisir secara menyeluruh sepanjang 1,5 KM dan bahkan yang unik di pantai Nipah ini juga dilakukan pembersihan dibawah laut dengan kedalaman 5 meter.

Berdasarkan pembersihan yang telah dilakukan, sampah yang dominan ditemukan di kawasan pesisir adalah sampah plastik seperti sedotan, popok bayi, kemasan makanan, minuman dan sendok plastik. Sebagian besar plastik yang ditemukan sudah dalam kondisi rapuh dan mudah terurai menjadi butiran – butiran plastik yang lebih kecil.

Hal ini menunjukkan sampah plastik tersebut sudah berada di kawasan pesisir cukup lama dan tidak bisa terurai menjadi butiran – butiran kecil yang kita kenal dengan mikroplastik. Mikroplastik ini justru lebih berbahaya karena bisa terakumulasi dalam tubuh organisme laut.

Hari Lingkungan Hidup tahun 2023 ini mengusung tema Beat Plastic Pollution atau Solusi Untuk Polusi Plastik sebagai seruan untuk bertindak menangani sampah plastik dan sebagai tindak lanjut hal tersebut Pertamina Patra Niaga sebagai perusahaan yang berkomitmen menjaga dan melestarikan lingkungan menyelenggarakan Acara Coastal Clean Up Tahun 2023 di Pantai Nipah hari ini,” ucap Direktur Keuangan Pertamina Patra Niaga Arya Suprihadi.
Pantai Nipah merupakan wilayah pantai yang menjadi salah satu lokasi konservasi bagi habitat penyu. Pemilihan lokasi ini selain sebagai ajang kegiatan lingkungan tentunya sekaligus menjadi ajang edukasi bagi masyarakat dan juga peserta Coastal Clean Up,” kata Arya.

Dalam kegiatan Coastal Clean Up di Pantai Nipah ini melibatkan ratusan peserta yang terbagi dalam kelompok nelayan, kelompok UMKM, komunitas penggiat lingkungan, siswa, pemerintah kabupaten Lombok Utara dan pemerintah provinsi NTB.

Kegiatan ini merupakan bagian upaya menumbuhkan kesadaran semua pihak, supaya terus membersihkan pantai. ‘’Agar bebas dari polusi plastik dan polutan lain,” ujar Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Dwi Puja Ariestya.
.
Diharapklan Dwi Puja upaya penanganan sampah seperti ini tidak hanya parsial dan dilakukan sesaat saja. Harapannya kegiatan dapat terus-menerus dilakukan sehingga menjadi sebuah gerakan nasional menyeluruh dari hulu ke hilir.

Selama ini Nipah dikenal sebagai tempat wisata kuliner ikan bakar di tepi pantai. Tidak hanya di pinggir jalan jurusan Senggigi – Pemenang jika hendak menyeberang menuju ke pulau wisata Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Tetapi juga ada warung – warung ikan bakar di pinggir pantainya.

Ternyata diantara 48 warung tersebut juga ada konservasi penyu sebagai wisata edukasi yang dilakukan oleh Turtle Conservation Community (TCC) Nipah yang didirikan oleh pemuda setempat untuk membantu menyelamatkan satwa yang dilindungi.

Di pantai Nipah yang luas lautnya sekitar 30 hektar tersebut, berjarak 35 meter dari bibir pantai ada satu unit kolam sementara semi alami berpasir kedalaman 30 sentimeter diameter 35 sentimer untuk menangkar telur penyu. Lainnya, empat unit kolam pemeliharaan masing-masing berukuran lima meter kali dua meter.

Empat kolam pemeliharaan itu merupakan kolam pemeliharaan penyu yang ditetaskan dari empat jenis yang sering didapat yaitu penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), penyu Hijau (Chelonia mydas), penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu Tempayan (Caretta caretta). Bahkan mereka juga bisa menemukan adanya penyu Belimbing (Dermochelys coriacea).

Tanpa dipungut bayaran namun menerima pemberian donasi, pengunjung bisa mendapatkan penjelasan kegiatan konservasi yang dilakukan TCC Nipah sejak 2018. ”Rata – rata setiap hari dikunjungi 50 orang,” kata Ketua TCC Nipah Fikriludin, 40 tahun yang mengaku hanya berpendidikan sekolah dasar.

Nipah berada di Desa Malaka Kabupaten Lombok Utara (KLU). Menurut Pengendali Eksistem Hutan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) Kurniasih Nur Afifah, Nipah ini salah satu daerah yang masuk Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) KLU. ”Pengunjung bisa belajar tentang penyu di sini. Ini ekowisata berbasis konservasi penyu,” ujar Kurniasih Nur Afifah.

Mulai tahun 2021, kegiatan mereka didukung oleh BKSDA NTB, Depot Pengisian Pesawat Udara Bandara Internasional Lombok – Pertamina, Geopark Rinjani, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB.

Konseravasi penyu di Nipah ini adalah diantara beberapa kegiatan konservasi penyu yang dibawahi KEE. Di Lombok Barat yang dilakukan di Kerabat Penyu Lombok di Kuranji Dalam. Lainnya ada di kawasan Gunung Tunak dan Teluk Ujung di Lombok Tengah dan Gili Sulat dan Gili Petagan bagian selatan Lombok Timur.

Sekretaris TCC Nipah Dedi Eka Rahman menjelaskan bahwa kegiatan 31 orang warga anggota TCC Nipah melakukan konsevasi penyu ini karena prihatin. ”Dari sejarahnya, semula telur penyu yang dikonsumsi ini diperjual belikan di Pasar Kebon Roek Ampenan,” ucap Dedi Eka Rahman tamatan D3 Pariwisata Sekolah Tinggi Pariwisata dan semula bekerja sebagai waiter di sebuah hotel di Gili Trawangan.

Ketua TCC Nipah Fikriludin yang juga mengelola Warung Ikan Bakar Ibu Nisa di Nipah, mengatakan kegiatan TCC Nipah ini membuka konservasi konsep wisata edukasi. ”Pengunjung bisa bertanya tentang penyu,” katanya.

Ditambahkan bahwa kegiatan konservasi penyu ini juga menyangkut pemerliharaan terumbu karang di laut depan pantai Nipah seluas 30 hektar tersebut. Kegiatan konservasi penyu, terumbu karang dan bersih – bersih lingkungan seminggu merupakan sinergi penyu.

Di sana ada 325 media transplantasi karang yang ditempatkan . Berupa table, hexagola atau spider yang seperti laba-laba berbentuk enam sisi terbuat dari besi beton delapan mili. Antara satu sisi berkisar 30 senti meter.

Pengunjung diberikan penjelasan pengenalan dan manfaat penyu dan hubungan dengan terumbu karang. Empat jenis penyu ini punya fungsi dengan ekosistemnya. Contohnya penyu sisik dan penyu hijau merumput padang lamun. Kalau penyu sisik dia senang mencari makan diantara bebatuan karang dan mencari spon laut sebagai benalu yang ditempeli jazad renik sebagai benalu yang melekat dan menggangu perkembangan terumbu karang. ”Sehingga terumbu karang akan terbebas dari benalu yang bisa mengganggu perkembangannya,” ujarnya.

Di sana, saat ini menyimpan 4.000an butir telur yang didapat selama sekitar bulan April Mei Juni lalu. Hampir setiap malam menjelang pagi bisa ditemukan penyu bertelur. Mereka mengamankan wilayah pantai sekitar 500 meter di pantai pada kedatangan penyu ini karena ada perburuan dan predator biawak dan anjing.

Kegiatan konservasi ini berpartisipasi mengubah mindset berburu dan jual beli penyu. Selama ini sejak 2018 telah melepas 7.030 anak penyu. ”Setelah cangkangnya kuat, penyu ini dilepas,” ucapnya.

Untuk membesarkan anak penyu ini, warga setempat yang mata pencahariannya nelayan dan buruh bangunan menyediakan pakan ikan tongkol dan teri rata-rata untuk pakan Rp 25 ribu iuran gotong royong masing – masing Rp 1.000. Pemeliharaannya bisa memakan waktu 2-3 bulan untuk penetasannya tergantung cuaca dan pemeliharaan di kolam selama 2-9 bulan tergantung kebutuhan pelepasannya.

Pertamina juga menyentuh penanganan kehidupan pengrajin tenun di Desa Sukarara Lombok Tengah. Desa Sukarara terletak di Kabupaten Lombok Tengah. Di sana.tersebar di 10 dusun terdapat 3.200 orang wanita penenun kain songket tradisional Lombok. Ada rupa – rupa motifnya. Mulai dari yang sudah umum dikenal masyarakat diantaranya motif Subhanale, Keker, Bulan Getap, Bulan Bekurung,, Kembang Komak, Kemalo, Selulit, Ragi Genep, Rangrang, Bintang Empet, Wayang, Kiping,

Yang menjadi popular di situ diantaranya adalah Bulan Getap yang kini dijuluki motif Jokowi karena pernah digunakan sebagai kemeja Presiden Joko Widodo. ‘’Bapak Presiden pernah mengenakan kain motif Bulan Getap,’’ kata salah seorang warga Nasifatun Hasanah alias Inaq Heru sewaktu bertemu Tempo di Sekretariat Kelompok Mina Tenun di Dusun Ketangga Desa Sukarara.

Kain motif Bulan Getap tersebut selembarnya panjang empat meter, oleh Inaq Heru dijual di tempatnya seharga Rp 1 juta. Sedangkan motif lain yaitu Kembang Komak yang bisa disebut polos tanpa motif karena berupa kotak-kotak harganya Rp 350 ribu.

Sukarara sebagai salah satu desa pengrajin kain tenun tradisional Lombok sejak bekembangnya pariwisata, bermunculan artshop yang menyediakan berbagai macam kain songket dan asesoris lainnya. ‘’Setidak- tidaknya ada 90 orang pengunjung yang dibawa agen perjalanan ke sini,’’ kata Kepala Desa Sukarara Haji Saman.

Sejak setahun terakhir ini, tepatnya Desember 2022, pegiat bank sampah datang ke Dusun Ketangga Desa Sukarara. Pemilik Bank Sampah NTB Mandiri Aisyah Odist membawa plastik bekas kantong kresek belanjaan yang masih bersih ke sana. ‘’Plastik ini tidak ada nilai jualnya. Tapi di bawa kesini agar bisa dijadikan bahan tenunan,’’ ujarnya.

Nah, melalui Kelompok Tenun Wanita Mina Tenun yang diketuai Ani Apriani, anggotanya 10 orang wanita penenun Bnk Sampah NTB Mandiri menyalurkan kantong plastik bekas tersebut untuk dijadikan bahan tenunanmyang menghasilkan sarung bantal, dompet, taplak meja. Harga mulai dari Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. ‘’Pembuatnya bisa mendapatkan keuntungan 30 persen,’’ ucap Ani Apriani.

Melalui artshop yang dimiliki Aisyah Odist di Kelurahan Sayang-Sayang Mataram, hasil tenunan mereka ini dibeli oleh wisatawan bule yang datang dari Belanda bahkan diekspor walaupun belum dalam jumlah banyak. ‘’Mereka tahu kalau bahannya dari sampah kantong kresek,’’ katanya.

Menenun plastik ini untuk menghaislkan tas belanjaan, sarung bantal atau taplak meja lebih cepat jadinya sekitar seminggu dibanding jika menenun kain songket yang memerlukan waktu sebulan lebih,’’ ujarnya.

Agar bisa menjaga kebersihan lingkungan dari plastik kantong keresek dan membantu meningkatkan pendapatan penenunnya,

Pertamina Patra Niaga Jawa Timur Bali Nusa mendorong mereka melalui pelatihan dan memberikan fasilitas yang diutuhkan. Area Manager Comm., Rel. & CSR Pertamina Patra Niaga Region Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan program tenun seperti ini memang sudah familiar.

Namun kegiatan menenun sampah plastik yang sejalan dengan mendukung kebijakan zero waste masih sangat minim ada. Sehingga, program ini akan menjadi program yang baru. ‘’Selain itu program ini nantinya akan menjadi program pelestarian lingkungan yang mampu memunculkan lapangan kerja baru sebagai bentuk komitmen,’’ ucapnya.

Pertamina dalam meningkatan kualitas hidup masyarakat menuju komunitas yang mandiri guna mencapai pengembangan yang berkelanjutan. Program ini juga sebagai wujud dukungan Pertamina untuk dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 yakni menyediakan kesempatan kerja produktif dan layak untuk semua, serta mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.

Waktu itu, Operation Head Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Bandara Lombok (DPPU) Bandara Internasional Lombok I Nyoman Ana mengatakan program kampung tenun wanita di desa sukarara ini hadir sebagai komitmen PT Pertamina Patra Niaga DPPU BIL dalam menjaga dan melestarikan budaya.

Program ini didesain mendorong pengembangan Desa Sukarara yang memiliki ciri khas tersendiri. Mengolah bahan sampah plastik sebab plastik merupakan sampah rumah tangga terbanyak yang kita temukan. ‘’Sampah plastik tersebut kami kreasikan menjadi suatu kerajinan,’’ ucapnya.(sk/*)

SUPRIYANTHO KHAFID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed