by

Wisata Jelajah Alam ke Matemega Sumbawa

MATARAM – Jika menyukai jelajah alam, inilah tantangan yang menuntut fisik dan moril kuat untuk menempuh tujuan selama tujuh jam menuju Dusun Matemega (artinya awan yang mati karena lokasinya berada di ketinggian ). Bukan hanya sekedar jauh, tetapi medannya yang berat karena menuruni dan menaiki bukit yang terjal guna mendatangi ladang kopi dan buah-buahan selain juga penghasil madu Sumbawa.

Selasa 27 Oktober 2020 lalu, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah sewaktu berada di Kota Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat menerima info adanya dusun yang masih terpencil meskipun memiliki potensi alam yang luar biasa, spontan ia mengajak bawahannya di Pemerintah Provinsi NTB mendatangi lokasinya

Setelah menginap semalam di masjid Desa Rarak Ronges (ketinggian 600 mdpl) Kecamatan Brang Rea Kabupaten Sumbawa Barat, Zulkieflimansyah memulai perjalanannya. Ia menyusuri jalan setapak, melintasi hutan rimba yang sangat lebat, menuruni dan menaiki bukit terjal hingga 80 derajat harus dilalui. ”Warga Rarak Ronges memiliki hubungan kekerabatan dengan warga Matemega,” kata Haris Sudarta yang mengikuti kepada Tempo.

Dari kota Taliwang menuju Rarak Ronges bisa menggunakan roda empat sejauh 16 kilometer. Tetapi setelah itu, sulitnya medan, jangankan musim hujan, sewaktu musim kemarau saja tanahnya becek. Pada lintas jalan yang bisa dijangkau mengggunakan mobil hardtop empat gardan saja, rodanya harus menggunakan ”selimut” rantai untuk mengatasi jalan berlumpur. Lintasan perjalanannya melalui hutan perawan dan pastinya banyak mata airnya.

Sebenarnya, jarak terdekat adalah dari kota Kecamatan Alas di Kabupaten Sumbawa. Matemega berjarak sekitar 12 kilometer. Namun, hanya lima kilometer yang bisa dijangkau kendaraan off road atau roda empat hardtop dan motor trail.  Tetapi untuk berkendaraan harus menunggu siang setelah jalanan agak kering terkena sinar matahari.

Pegiat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sagara (singkatan dari nama tiga air terjun di Marente yaitu Saketok, Agal dan Sebra) Robby Sahrullah mengatakan kepada Tempo, Kamis 29 Oktober 2020 pagi, Matemega yang berdampingan dengan dusun Lamede, memiliki potensi Kemiri, durian. ”Air terjun Matemegaa ketinggiannya sekitar 20 meter. Kolam tumpahnnya bergaris tengah tujuh meter. ”Nyaman untuk berenang,” ujar Robby Sahrulllah yang menjadi Wakil Ketua Pokdarwis Sagara.

Robby Sahrullah menuju Matemega langsung dari tempat tinggalnya di Marente sejauh perjalanan waktu tempuh tiga jam. Ia melintasi tiga gunung dan menyeberangi tiga sungai. Di perjalanan, kata Robby Sahrullah, bisa menikmati kicauan burung yang tidak bisa disebut nama-namanya.  ”Saya naik motor trail. Tapi saya tingga di tengah jalan karena masih pagi jalanan belum kering,” ucapnya. Dari tempat tinggaalnya di Dusun Marente Beru jarak ke Matemega sekitar 15 kilomter dan ke kota Kecamatan Alas sekitar empat kilomter karena sudah beraspal bisa ditempuh dalam waktu empat menit.

Menurut Robby Sahrullah, Matemega memiliki daya tarik berwisata di kebun kopi. ”Daya tariknya bisa petik sendiri. Sangrai dan meneumbuk sendiri, ” ujarnya

Suasana perkampungan Matemega layaknya perkampungan etnis Samwa (Sumbawa) yang tempat tinggalnya berupa rumah panggung.  Warganya merupakan benar-benar asli Sumbawa yang logatnya agak beda dengan masyarakat Sumbawa yang lain.

Penduduk Matemega sebanya 570 jiwa ayau 157 kepala keluarga. Ia mengakui jika dijangkau dari Taliwang memang harus melalui jalan setapak. ”Sedangkan jika dari Alas bisa bisa menggunakan motor atau mobil jip jika musim kemarau,” kata Kepala Dusun Matemega Suha, 28 tahun Sarjana Pendidikan jurusan Bimbingan Konseling tamatan tahun 2016.

Warga Matemega bisa disebut petani kopi Robusta. Jika musim panen kopi sekali setahun bulan Agustus bisa mendapatkan rata-rata 8 panen. kalau musim hujan bagus . kemarin gagal panen.  satu dua ton satu orang per hektar.

Biasanya pengunjung yang datang dari dari kota Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat dan kota Sumbawa Besar. ”Biasanya datang refreshing.  Biasanya setiap musim kopi mereka datang,” ujarnya. Di sana mereka menikmati air terjun Matemega dan air terjun Lamede.  Selain menikmati segarnya Brang (sungai) Lamede,  Brang Telita dan Brang Smit.

Sebagian yang datang adalah para pencinta alam, mereka diantaranya kelompok berkendaraan Trabas Trail yang bersama ratusan orang pada waktu liburan. Merfeka datang dari berbagai kota diantaranya Mataram atau Alas dan Sumbawa Besar.  ”Musim durian bulan April banyak yang datang dan bisa menginap di rumah warga.  ”Oleh-olehnya kopi dan durian atau sayur pakis,” ucapnya,

Untuk membuka kendala akses, Gubernur NTB Zulkieflimansyah yang mengajak belasan stafnya. “Ini ekspedisi gila, tapi sangat menantang. Gubernur kita mungkin tipe pemimpin yang tidak punya urat capek,” kata Assiten II Setda Provinsi NTB  Ridwan Syah.

Kawasan Matemega ini terletak di ketinggian sekitar 560 Mdpl, dan juga terkenal sebagai penghasil kopi, madu hutan Sumbawa dari daerah ini juga sangat tersohor. Beberapa produk Kopi Luwak Robusta dan Madu Hutan Sumbawa berlabel Matemega Sumbawa, bahkan sudah terkenal di lapak e-commerce seperti BukaLapak, Shopie dan Tokopedia.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed