by

Tenaga Kerja dengan Skill Kejuruan Las sangat dibutuhkan

MATARAM – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nusa Tenggara Barat (Disnakertrans NTB) melalui Balai Latihan Kerja Dalam dan Luar Negeri (BLKDLN) Provinsi NTB melaksanakan Pelatihan Sub kejuruan Las untuk warga yang berada di area pertanian tembakau.

BLKDLN Prov. NTB  membuka satu paket kejuruan las yang diikuti oleh 16 orang berasal dari Desa Gontoran dan pemuda/pemudi dari desa sekitarnya. Pelatihan diselenggarakan selama 340 jam atau 43 hari dari tanggal 27 Juli-16 September 2022 yang dibiayai melalui Dana APBD DBHCHT.

Peserta pelatihan akan menerima sertifikat dari BKDLN dan sertifikat uji kompetensi dari BNSP jika lulus uji kompetensi.

Tujuan kegiatan ini adalah memberikan dan meningkatkan keterampilan dan kompetensi daya saing peserta sesuai dengan kejuruannya, mengurangi pengangguran angkatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan angkatan kerja.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi mengajak peserta pelatihan kejuruan las untuk menyiapkan diri memasuki dunia kerja, baik untuk menjadi pekerja maupun menjadi pengusaha yang profesional dan kompeten.

Ia menyebut bahwa tenaga kerja  yang kompeten adalah SDM yang memiliki skill dan sikap mental yang baik dalam bekerja. Jika hard skill adalah kemampuan dan keterampilan bekerja, maka soft skill adalah sikap mental yang baik menyangkut disiplin dan semangat atau motivasi untuk maju.

“Modal awal memasuki dunia industri adalah memiliki skill dan etos kerja yang di dalamnya ada disiplin, kejujuran, sifat optimis dan semangat juang tinggi untuk sukses,” kata Gede saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Program Pelatihan dan Produktivas Tenaga Kerja Berdasarkan Klaster Kompetensi Kejuruan Las, di Aula BLKDLN Prov. NTB, Kamis 28 Juli 2022.

Berdasarkan data Asian Welding Federation (AWF) kebutuhan pasar tenaga kerja bidang pengelasan, saat ini dibutuhkan 100 ribu pengelasan yang bersertifikat internasional. Dari jumlah itu masih ada kekurangan 50 ribu tenaga kerja ahli dalam pengelasan tersebut. Tenaga pengelasan dibutuhkan untuk peningkatan pembangunan infrastruktur yang berkembang, di antaranya proyek pembangkit listrik hingga 35 ribu megawatt.

Bahkan pada 2030 mendatang, kebutuhan tenaga ahli pengelasan di dunia  diperkirakan membutuhkan setidaknya 3,2 juta orang. Karena itu ini merupakan peluang sangat besar bagi calon-calon tenaga ahli bidang pengelasan Indonesia.

Saat ini Provinsi NTB dalam masa pembangunan, sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja di bidang konstruksi. Oleh karena itu, memiliki keterampilan las menjadi nilai plus apalagi ditambah adanya setifikat dari BNSP.

“Dengan adanya keterampilan dan sertifikat BNSP, saat ada lowongan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi ini, baik di dalam maupun di luar negeri, kalian bisa langsung mendaftarkan diri. Tapi ingat untuk selalu mengikuti prosedur sesuai ketentuan bila ingin bekerja di luar negeri. Jangan sampai sudah mengikuti pelatihan supaya pintar malah dibodoh-bodohi oleh calo diajak jadi PMI Non-Prosedural. Jangan pernah mau menjadi PMI Non-Prosedural,” ucap Gde.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed