by

Teh Kelor dari Pengusaha Jamu di NTB

MATARAM – Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya dikenal kawasan wisatanya. Mulai dari Senggigi, Gili Trawangan, Mandalika, Gunung Rinjani di pulau Lombok hingga pulauo Moyo di Sumbawa dan Gunung Tambora di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.

Kulinernya juga bukan hanya Ayam Taliwang, Pelecing Kangkung, atau masakan ikan laut Singang Sepat di Sumbawa. Sejak 2016 telah hadir minuman teh kelor yang mulai masuk hotel sebagai welcome drink di dalam kamar hotel maupun menjadi komoditi ekspor ke mancanegara.  Untuk penjualan eceran, juga tersedia di gerai Transmart Mataram Lombok.

Menurut pemilik CV Tri Utami Jaya Nasrin H Muhtar yang membuat teh kelor tersebut, khasiat kelor yang nama latinnya Moringa Oleifera ada tiga yang utama. Pertama meningkatkan imunitas tubuh, kedua untuk detok keluarkan racun dalam tubuh, ketiga produksi bakteri yang menguntungkan bagi tubuh. ”Kalau imun nya bagus, racun dalam tubuh berkurang, dan bakteri yang menguntungkan itu banyak, maka tubuh pasti sehat,” kata Nasrin, Kamis 31 Desember 2020 petang.

Menyebut khasiat kelor  sebelumnya dikenal di negeri Belanda guna menjaga kesehatan jantung, kolestelor, hipertensi, kanker prostat, kista,, myom (semacam tumor jinak), kanker rahim dan kanker otak. ”Juga bisa untuk menambah ASI, vitalitas (stamina), kecerdasan otak, stunting, ” ujarnya.

Ada tiga brand teh kelor yang dibuat Nasrin di Mataram ini yaitu Sasambo Dom Kidom dan Mori Kai (dari bahasa Bima artinya sumber kehidupan.  Mori Kai singkatan dari Mori Kilo Asli Indonesia). Semula sebagai produksi jamu menggunakan perizinan PIRT

Semula Tri Utami Jaya menghasilkan produk teh celup isi 25 sachet Moringa Kidom.  Sekarang bikin kapsul. Ia menjual 10 sachet harganya Rp 20 ribu, 15 sachet – Rp 30 ribu, 20 sachet – Rp 50 ribu, 25 sachet harganya Rp 75 ribu. Yang kecil tidak banyak menggunakan amplop.  ”Yang 25 sachet ini masuk hotel sebagai menu welcome drink di kamar dalam hotel di Mataram dan Sekotong Lombok Barat,” ujarnya.

Setiap hari, menggunakan mesin yang dibelinya seharga Rp 200 juta dari Cina, produknya  1.000 kaleng isi 150 gram, teh celup isi 25 sachet bisa 1.000 kotak. Sesuai permintaan distributornya ada 10 sachet,  15 sachet, 20 sachet dan  25 sachet. Sesuai permintaan distributor.

Kemasan teh kelor ini menggunakan lima bahasa mulai dari Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang, Arabian.  Katanya, ia sudah mengekspornya ke13 negara. ”Juga menjadi barang bawaan para pelancong dan diaspora, sebagai oleh – oleh.

Sejak Tahun 2020 tidak hanya teh kelor tapi juga menghasilkan masker wajah sebagai masker kecantikan, sabun kopi kelor, dan biskuit kelor,

Ia sejak September 2020 mulai bangun pabrik yang memiliki standar CP OTB (cara produksi  obat tradisional yang baik) dan standar internasional produk makanan HACCP (Hazard Analysis & Critical Control Point),  Ukuran pabrik 190 meter persegi dua lantai 2. Luas bangunan keseluruhanya 300 meter. Moringa terdaftar halal MUI dan HAKI di Kemenkumham.

Untuk mendukung usahanya tersebut, Nasrin memiliki kebun kelor di kampung halamannya di Kilo Kabupaten Dompu. Sekarang ini sudah ada 100 hektar. Seterusnya ia akan mengembangkan lahan budi dayanya se  NTB kurang lebih 150 hektar.

Nasrin mengatakan usaha teh kelor ini selama ini diekspor dalam bentuk bubuk kering, daun kering dan produk jadi.  Keunggulan produknya itu adalah kelor pertama yang sudah terbit PRnya di Indonesia. Yang kedua, yang paling banyak stock bahan baku budi daya. Sarana dan Prasarana memadai.

Sejak 2016 ini menjadikan Kelor ini sebagai produk jamu.  Ceritanya, ia mendapatkan order dari orang Jerman itu mencari daun kelor sebanyak satu ton setiap bulan. Waktu itu sekilo kelor dihargai Rp 100 ribu. ”Setelah saya peroleh dan diolah dalam bentuk bubuk, orangnya tidak muncul,” katanya. Walaupun orang Jerman itu sudah memberikan uang persekot Rp 25 juta.

Akhirnya, ia menjadikannya jamu. Sebelumnya, Nasrin yang pernah bekerja sebagai cleaning service perusahaan jamu di Makassar,  menjadi pembuat jamu merek Sasambo terdiri dari jamu Sehat Lelaki, Sehat Wanita, Sehat Pinggang, Pegal Linu.  Bahan lainnya, kacebeling, temulawak, jahe, kayu Songgak, meniran, ada 50 an bahannya.

Mengutip penjelasan orang Jerman yang memesan satu ton bubuk kelor tersebut, ada 300 manfaat kelor untuk kesehatan. Karenanya, ia menginisiasi menjadi teh kelor. ”Kalau dibuat jamu ada kendala,” ujarnya.

Yaitu pertama jamu diminum zaman kolonial. Kedua, walaupun manis tapi dianggap pahit.  Ketiga, orang minum jamu ingin langsung sembuh. Keempat regulasi pemerintah.

Akhirnya terlintas menjadi teh. Satu bisa diminum milenal dan orang tua. Tidak ada pikiran pahit. paling sepet. Kalau diminum ada khasiatnya itu bonus.  Regulasi mudah karena tergolong PIRT bisa dijual.  Maka produksi dalam kemasan kaleng isi 150 gram. Merek Teh Moringa Sasambo.  Berjalan satu ton habis. Malah permintaan pasar meningkat. Mataram dan seluruh jaringan jamu.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed