by

Supir Angkot Mataram Mengeluh, Calon Walikota Janji Subsidi dan Aplikasi Digital

MATARAM – Untuk membenahi moda transportasi kota Mataram, calon Walikota Mataram Putu Selly Andayani akan mendesain aplikasi digital khusus untuk transportasi umum di Kota Mataram. Aplikasi online ini akan memudahkan para penumpang dan sopir angkot dalam bertransaksi, sehingga mengurai kemacetan.

Menurut Selly, aplikasi online juga akan digunakan sebagai wahana sopir angkot untuk menerima subsidi dari pemerintah daerah Kota Mataram. Subsidi tersebut berupa biaya sewa angkot dan juga biaya tarif perjalanan bagi warga Kota Mataram.

Selly kemudian menyebutkan jika setoran angkot bemo per hari Rp 40 ribu. Pemerintah Kota Mataram akan memberi subsidi Rp 20 ribu per hari kali 150 angkot yang masih beroperasi di kota Mataram. ”Maka subsidi pertahunnya tidak sampai Rp 1 miliar,” katanya sewaktu menerima belasan supir angkota bemo kuning di rumahnya, Jum’at 11 September 2020.

Selly yang sebelumnya menjabat di tingkat Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) menyebutkan Pemprov NTB pernah memiuliki program subsidi untuk maskapai penerbangan. Pemerintah pusatpun memberikan subsidi kepada DAMRI sebagai moda transportasi umum perintis.  Skema ini akan diterapkan untuk angkot di Kota Mataram. ”Tujuannya agar keberadaan angkutan umum ini tetap ada dan bisa menjadi moda transportasi publik di Kota Mataram,” ujarnya.

Mereka mendatangi Selly Andayani berkeluh kesah tentang nasib profesi sopir dan nasib transportasi publik Kota Mataram ini. Mereka menyampaikan keluhan-keluhan ini, terutama tentang nasib  sebagai sopir angkot bemo kota yang akhir-akhir ini tersisih. ”Kami berharap ada solusi,” kata Made Tjatur, salah seorang sopir.

Saat ini kondisi angkutan umum di Kota Mataram ini menyedihkan. Jauh berbeda dengan tahun 1990an dimana bemo kota masih menjadi transportasi umum favorit di Kota Mataram.

Menurutnya, penumpang semakin lama semakin sedikit. Dulu anak sekolah, mahasiswa dan pegawai masih banyak menggunakan bemo kuning. ”Tapi sekarang, hanya mengangkut pedagang pasar dan dagangannya, sangat sepi saat ini,” ujar Made Tjatur yang sudah puluhan tahun menjadi sopir angkot.

Sopir lainnya, Wannaro mengatakan, saat ini bemo kuning bukan hanya harus bersaing dengan moda transportasi lain seperti taksi dan cidomo. Tetapi juga transportasi berbasis teknologi seperti Grab, Gojek dan sejenisnya.

Dulu, era akhir dekade 80 an sempat jadi primadona transportasi lokal, kini bemo kota  termakan usia. Penampilan tidak menarik dan kondisi mobil yang rata-rata sudah cukup tua membuat masyarakat enggan memanfaatkannya. Hal ini berimbas pada ekonomi pemilik bemo dan juga para sopir bemo.

Para sopir mengaku pendapatan mereka pun hanya cukup untuk menutup biaya makan. Dari pemilik kendaraan, mereka wajib menyetor Rp40 ribu perhari, dan mengisi BBM angkot. Sementara jumlah penumpang terkadang tidak mencukupi, dengan biaya perjalanan Rp5 ribu perorang dengan rute Ampenan – Pasar Bertais  “Mau alih profesi juga nggak mungkin. Keahlian kami cuma sopir angkot,” ucapnya.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed