by

Sheraton Senggigi Barista Competition 2021

SENGGIGI – Selama tiga hari, Kamis – Sabtu 28 – 30 Januari 2021, para penyeduh kopi dari Lombok dan bahkan ada yang dari Bali mengikuti Sheraton Senggigi Barista Competition yang diselenggarakan bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat.

Dengan perubahan zaman yang semakin trendi, minum kopi kini telah merambah ke berbagai kalangan. Bukan hanya orang tua, namun seiring berkembangnya kafe atau kedai kopi, pemuda juga menyukai budaya minum kopi.

Selain itu banyak pencinta kopi yang menjadikan profesi barista sebagai jalan untuk menambah wawasan mengenai kopi. Dengan budaya minum kopi yang kini kian menjadi bagian dari gaya hidup lintas generasi, Sheraton Senggigi Beach Resort menggelar Sheraton Senggigi Barista Competition.

Ini adalah kegiatan dalam upaya membangkitkan kembali gairah wisata di Kabupaten Lombok Barat setelah teradinya pandemi Covid-19 yang mematikan industri pariwisata. Sebagai pembuka kompetisi, kegiatan diawali dengan acara Sheraton Talk. Kegiatan ini diikuti puluhan calon peserta kompetisi dan para narasumber seperti Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Saepul Akhkam, Cerentia Gisella dari PT. Boncafe Indonesia, Prawira Adhiguna selaku Founder Hungry Bird Coffee Roaster, dan  Restu Sadam yang merupakan Barista and Head Trainer Hungry Bird Coffee.

Berkolaborasi dengan Hungry Bird Coffee Roaster dan Dinas Pariwisata Lombok Barat,  Sheraton Senggigi Barista Competition digelar selama tiga hari. Kegiatan didukung oleh PT. Boncafe Indonesia, Bank NTB Syariah, Bank Indonesia, Greenfields, Aqua, Garuda Indonesia, dan Melala.id.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat Saepul Akhkam, di tengah kekhawatiran dan ketakutan terhadap pandemi Covid-19, harus ada sisi dimana tetap semangat dan pulih secara ekonomi. Dan dimana pulih secara ekonomi sangat tidak boleh meninggalkan kondisi saat ini. Ia sangat apresiasi kegiatan ini terlebih dahulu diawali dengan  pemaparan protokol kesehatan. ”Saya berkeyakinan, di tengah kondisi saat ini, Sheraton Barista Competition menjadi salah satu role mode kita memulai dan menjalani tahun 2021,” kata Saepul Akhkam saat mengisi Sheraton Talk.

General Manager Sheraton Senggigi Beach Resort, Teezar Mirza mengatakan, melalui event ini pihaknya berusaha untuk memajukan barista sebagai sebuah profesi penting dalam industri kopi yang berkembang secara pesat. Besar harapan agar acara ini dapat memberikam dampak positif untuk industri kopi di pulau tercinta, serta komunitas-komunitas yang terlibat di dalamnya. Selain itu, berharap agar ajang ini dapat menjadi sebuah permulaan bagi para talenta lokal untuk berkarya dan bersaing di pentas yang lebih besar,” kata Teezar.

 

Sabtu 30 Januari 2021 kemarin. hari ketiga Sheraton Senggigi Barista Competition ditutup dengan Kompetisi Brewing. Kompetisi kali ini sudah dimulai sejak pukul 09.00 pagi. Selain kompetisi brewing, satu hari sebelumnya Jum’at 29 Januari 2021, Sheraton Senggigi Barista Competition juga menggelar kompetisi Latte Art.

Pada kompetisi brewing, dengan metode manual brewing, para peserta hanya memiliki waktu maksimal 10 menit untuk mempresentasikan hasil karyanya kepada para juri. Manual brewing sendiri merupakan salah satu cara menyajikan kopi, yang diseduh secara manual, tanpa menggunakan mesin.

Salah satu juri dalam Sheraton Senggigi Barista Competition, Restu Sadam mengatakan, dalam kompetisi Brewing penilaian dititikberatkan pada keseimbangan rasa. “Karena ini kopinya sama, jadi ibaratnya kita cari barista mana yang bisa ngeluarin karakreristik si kopi ini dengan rasa yang balance dan after taste yang clean,” ujar Restu.

Restu menjelaskan, sistem penilaian diambil dari scoresheet World Brewers Championship. Karena kompetisi ini sistemnya battle, lanjutnya, cara penilaian difokuskan by taste langsung. “Lebih detail kriterianya itu dari sweetness, acidity, cleannya, after tastenya, bodynya. Lebih ke balance sih jatuhnya,” katanya.

Kalau di kompetisi Latte Art kemarin sistemnya battle juga. Kalah gugur tanpa ada scoresheet, langsung tunjuk pemenang on the spot. Kriteria penilaian tetap mengikuti World Latte Art Championship. ”Tapi disini lebih disederhanakan, disini kita nilai by visual saja,” ucap Restu Sadam.

Antusias kompetisi barista yang baru pertama kali digelar Sheraton Senggigi Beach Resort berkolaborasi dengan Hungry Bird Coffee Roaster dan Dinas Pariwisata Lombok Barat ini mendapat respon positif dari para batista lokal maupun luar Lombok. Panitia terpaksa membatasi hanya 60 peserta saja, masing-masing 24 peserta kompetisi Latte Art, dan 36 peserta kompetisi Brewing.

Antusias peserta oke, karena slot yang disediakan itu terisi penuh. Seru dan semangat alagi dalam suasana pandemi sekarang ini. Dengan adanya acara seperti ini kita bisa membantu untuk buat para barista tetap semangat untuk belajar. Prospek buat barista di Lombok itu sebenarnya semua bisa untuk berkompetisi, entah barista yang baru maupun yang lama, tidak ngaruh sebenarnya, tinggal dia harus mempersiapkan skill, knowledge dan tentunya mental terutama saat berkompetisi,” kata Restu Sadam – barista dan juara Indonesian Latte Art Championship 2019 ini.

Kompetisi Brewing berhasil dimenangkan oleh Mizan Rahman. Barista Kinta Coffee yang berlokasi di Mataram ini mengaku dirinya tak menyangka berhasil keluar sebagai juara pertama. “Kompetisi ini saya taunya dari sosial media. Untuk kompetisi ini saya latihan selama empat jam sehari. Saya juga tidak menyangka bisa jadi juara 1 dalam kompetisi ini,” ungkap barista

Ini dia juara-juara Sheraton Senggigi Barista Competition.

Kompetisi Latte Art :

Juara 1: Ni Luh Ayu Sukreni (Coffee Cartel, Bali)

Juara 2: Samsul Anwar (Maktal Coffee Bar, Mataram)

Juara 3: Imam Fathurrahman (Rota Kopi, Mataram)

Kompetisi Brewing :

Juara 1: Mizan Rahman (Kinta Coffee, Mataram)

Juara 2: Marta Arisman Ratnadi (ION Café, Mataram)

Juara 3: Muhammad Sa’dullah (Rumah Dedek Coffee, Mataram)(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed