by

Sekda NTB Yakin Investor Kereta Gantung ke Rinjani Jamin Lingkungan

MATARAM – Pembangunan kereta gantung ke Rinjani dijamin kelestarian lingkungannya. Investornya PT Indonesia Lombok Resort selaku penanam modal asing asal Cina yang membiayai pembangunaannya senilai Rp 2,2 triliun tidak menyepelekan tanggung jawab lingkgungannya.

Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat Lalu Gita Ariyadi mengatakan masalah ekologi di kawasan menuju Rinjani tersebut sebagai bentuk jualannya investor. ‘’Saya melihat di Cina, ekologi kereta gantung tersebut dijadikan jualannya,’’ katanya.

18 Desember 2022 lalu, peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah di Deaa Karang Sidemen Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Layanan Terpadu Satu Atap NTB Mohammad Rum mengatakan pembangunan proyek pariwisata ini akan berlangsung hingga 2025. Sesuai peraturan yang berlaku, peraturan Kementrian kehutanan Nomor 22 pasal 14 disebutkan harus memiliki Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup ( UKLUPL ) ‘’Izin usaha sudah keluar sesuai peraturan yang berlaku saat itu Maret 2021. Setelah peraturan berubah harus ada analisa mengenai dampak lingkungan (amdal). ‘’Ya kita ikuti peraturan pemerintah dengan menyusun amdal,’’ ucapnya.

Menurut Mohammad Rum, saat ini belum ada kegiatan sampai liburan Imlek selesai karena team kereta gantung akan datang survey berikut boring untuk mengetahui lapisan batuan didalamnya agar bisa menggunakan teknologi yang tepat untuk tiang gantung. Kalau untuk boring dan survey tidak perlu amdal karena kita belum membangun dan ukl upl sudah cukup untuk pengujian sampel tanah.

Perihal pro dan kontra kehadiran kereta gantung ini, dari segi pro pembangunan ini lebih minim merusak hutan karena konsep kereta gantung ini hanya memakai lahan yang tidak begitu luas jadi hanya tiang pancang saja yang memerlukan sedikit lahan kecuali untuk stasiun memerlukan lahan lebih besar dan itu pun tidak sembarang menebang pohon karena kita harus mempertahankan serindang mungkin lokasinya baru ada daya tarik wisatanya.

Rum menjelaskan bahwa karena yang ditawarkan adalah wisata alam terutama hutan rindangnya. Kalau para pemerhati lingkungan ingin melihat lihat bagaimana pengembangan kereta gantung bisa dilihat di negara tetangga yaitu Australia. Kereta gantung mereka juga ada didalam kawasan hutan lindung. ‘’Apakah hutan mereka rusak karena kereta gantung?. Kita juga menandatangani kesepakatan untuk reboisasi dengan menanam seribu pohon di kawasan hutan yang kita kelola,’’ katanya.

Satu hal yang penting lagi kawasan yang dikelola adalah 500 hektar bukan berarti tanah seluas 500 hektar bisa seluruhnya dibangun karena peraturan pengelolaan kehutanan adalah hanya 10 persen wilayah yang bisa dikelola dan itu juga sudah berikut jalan setapak. Jadi resort ada di dalam lokasi 500 hektar itu secara terpisah di beberapa tempat jadi tidak kumpul di satu tempat. Seperti contoh villa untuk villa yang pertama menuju villa kedua ada jarak agak jauh supaya menghindari penebangan pohon. Apabila semua villa kumpul satu tempat maka lahan terbukanya akan luas dan itu mengakibatkan akan menebang pohon.

7 Desember 2022 mendatang, investor China akan membangun kereta gantung sejauh 7 – 9 kilometer dari Karang Sidemen Lombok Barat. Lokasinya berada di Taman Hutan Raya Nuraksa Kawasan Pemangkuan Hutan Rinjani Barat. Titik akhir lintasan kereta gantung tersebut masih menyisakan dua kilometer perjalanan datar menuju puncak Rinjani setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Layanan Terpadu Satu Atap Nusa Tenggara Barat Mohammad Rum menjelaskan bahwa fasilitas kereta gantung ini peruntukannya para orang tua  usia lanjut yang terkendala fisik pendakian. ‘ Kereta gantung ini tidak sampai di puncak Rinjani atau kawasan danau Segara Anak. Masih ada lintasan perjalanan kaki sejauh dua kilometer,’’ katanya.

Pembangunan lintasan kereta gantung  ke kawasan Rinjani ini menjadi salah satu lintasan terpanjang di dunia.

Selama ini pendaki Rinjani memiliki pilihan enam pintu pendakian mulai dari Senaru, Torean Lombok Utara, Sembalun, dan Timbanuh, Tete Batu Lombok Timur  dan Aik Berik Lombok Tengah. ‘’Adanya jalur kereta gantung untuk kepentingan orang tua tidak mengurangi selera penjelajahan,’’ ujarnya.

Karena daya tariknya, Gunung Rinjani di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ditetapkan menjadi geopark dunia pada sidang Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unesco).

Selama delapan bulan 2022 ini, total pengunjung mencapai 41.017 orang yang berasal dari mancanegara 4.764 orang atau 11,61 persen dan lokal Indonesia sebanyak 36.253 orang atau 88,39 persen.

Gunung Rinjani, masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Kawasan ini mencakup empat wilayah di Pulau Lombok, mulai dari Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Timur.

Salah satu pesona unggulan TNGR, adalah Danau Segara Anak yang berada pada ketinggian 2.010 meter dari permukaan laut. Danau Segara Anak berada di sebagian Gunung Rinjani yang tingginya mencapai 3.726 meter dari permukaan laut.

Geopark Rinjani telah mendapatkan pengakuan sebagai global geopark sejak 2018. Rekomendasi sebagai global geopark tersebut tidak lepas dari peran Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB dalam mendorong Kawasan Rinjani sebagai geopark nasional pada 2018. Pada tahun yang sama juga ditetapkan sebagai zona inti dari  area Cagar Biosfer Lombok.

Geopark Rinjani termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Pengembangan  Pariwisata Nasional (KPPN) NTB. Kompleks hutan Gunung Rinjani memiliki luas 125.000 hektare yang terdiri atas beberapa fungsi hutan. Di mana 41.330 hektare atau 32,86 persen merupakan hutan konservasi yang dikelola Balai TNGR. Gunung Rinjani juga menjadi satu-satunya sumber air untuk 54 sungai atau sekitar 90 persen sungai di Lombok berhulu di Gunung Rinjani.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed