by

Rp 600 Juta Untuk Akses Destinasi dan Atraksi di Desa Wisata Sesaot

MATARAM – Desa wisata Sesaot Kabupaten Lombok Barat mendapatkan bantuan anggaran sebesar Rp. 600 juta dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Bantuan anggaran tersebut diperuntukkan untuk akses jalan lingkungan menuju destinasi wisata dan penambahan atraksi wisata yang ada di Desa Sesaot.

Saat ini sudah mencapai pekerjaan 65 persen, menurut Kepala Desa Sesaot Yuni Hari Seni, pertama ada jalur untuk menuju air terjun Semporonan yang ada di Dusun Gontoran. Kemudian ada jalur yang menuju Hutan Kemasyarakatan (HKM). ”Dan di sebelahnya ada hutan pinus yang dijadikan camping ground,” kata Yuni.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Saepul Akhkam menyebutkan Sesaot adalah salah satu dari tiga desa yang dibantu oleh Kemendes dengan anggaran khusus untuk desa wisata. ”Ini menjadi menarik karena ini menandakan dan membuktikan bahwa pariwisata itu diyakini mampu memberikan dorongan kuat untuk pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Terutama dari aspek desa wisata itu berarti ekonomi kreatif yang berbasis kemasyarakatan berbasis mikro atau kecil. Di sisi lain, hal ini menurutnya justru menjadi tantangan. Dengan penambahan anggaran seperti ini, untuk  bagaimana menciptakan atraksi yang lebih variatif sehingga penawaran paket wisata ke destinasi menjadi lebih beragam.

Selain itu, Saepul Akhkam sudah menjadwalkan dua pelatihan yang akan dilaksanakan di minggu kedua bulan September ini. Pelatihan ini dikatakam Akhkam akan menyasar SDM yang ada di desa-desa wisata.

Dan melihat kecenderungan desa-desa wisata di Lombok Barat, maka diberikan pelatihan outbond buat desa wisata. ”Saya kira Desa Sesaot menjadi salah satu yang akan kami jadikan peserta, dan nantinya bisa menjadi contoh untuk pengembangan atraksi outbond itu,” uucap Saepul Akhkam.

Yang ke dua, lanjutnya, tentu supaya CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability),di destinasi wisata semakin kuat, dalam rangka mencari format zona hijau di destinasi wisata. ”Pemerintah tetap mengintegrasikan pelatihan-pelatihan dengan berbasis CHSE,” katanya.

Salah satu pelatihan khusus tentang CHSE itu temanya pengelolaan sampah di deatinasi wisata. Diharapkan adanya pelatihan khususnya mengenai pengelolaan sampah, pengelolaan sampah di suatu destinasi bisa menjadi lebih mandiri. ”Semoga pengelolaanya bisa lebih mandiri, dia berbasis 3R, dengan pendekatan daur ulang, supaya sampah ini tidak banyak dibawa ke TPA, tapi bisa dicarikan nilai ekonomisnya,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, Akhkam menyebutkan akan ada 40 peserta dari 13 desa wisata yang ada di Lobar. Pemilihan 13 desa sebagai peserta ini pun diakuinya berdasarkan beberapa hal terkait kondisi destinasi wisata yang ada di desa tersebut

Pemilihan dilakukan secara bertahap, dimana tiga belas desa pertama ini dianggap memiliki problem sampah yang cukup pelik di tengah destinasi wisata. Selain itu juga dengan melihat komitmen kelembagaan dan kemasyarakatannya kuat.

Menurutnya, dengan diadakannya secara bertahap, pelatihan-pelatihan yang diberikan bisa menjadi lebih terukur, dan memperlihatkan hasil yang kongkrit.

Jum’at 3 September 2021 lalu, bekerja sama dengan pemerintah desa, masyarakat hingga mahasiswa, Dinas Pariwisata Lombok Barat kembali turun melakukan aksi bersih-bersih di Pusat Rekreasi Masyarakat (Purekmas) Sesaot yang berada di Desa Sesaot Kecamatan Narmada.

Kepala Desa Sesaot, Yuni Hari Seni mengakui walaupun Purekmas Sesaot sendiri sudah mempunyai petugas kebersihan, agenda mingguan Dispar ini tidak melulu hanya memberikan bantuan berupa efek instan kebersihan lingkungan di hari itu saja. ”Tentunya bagi kami ini bukan sekedar gotong royong namun juga suntikan motivasi serta edukasi yang kita harapkan bisa berkelanjutan bagi pelaku pariwisata di sini,” ucap Yuni.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed