by

Potensi Petahana dan ASN Tidak Netral

MATARAM – Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu RI Alfitra Salamm menengarai petahana dalam pemilihan kepala daerah 2020 berpotensi memiliki kekuatan polittik untuk meraih dukungan suara.

Menurutnya, ada 270 petahana yang mengikuti pilkada 2020 diantaranya dilakukan oleh 220 orang yang antara lain merupakan istri, anak, kenolakan dan lainnya dari pejabat sebelumnya. Datanya, petahanan jarang kalah.

Selain itu, tanpa melakukan kampanye pun petahana tidak masalah untuk memperoleh suara. Ia pun mengatakan bahwa jika menguasai aparat sipil negara (ASN), adalah menjadi kekuatan politik. ”ASN memiliki hak suara jadi bisa tidak netral,” katanya sewaktu bertemu wartawan dalam kegiatan Ngetren Media – Ngobrol Etika Penyelenggara Pemilu,dengan Media di Hotel Lombok Astoria, Sabtu 3 Oktober 2020 malam.

Selain itu, karena pilkada ini dilaksanakan pada masa pandemi Covid-19, maka dinyatakan para peserta pilkada akan banyak memiliki dana untuk digunakan sebagai politik uang. sebabnya, terjadi penghematan karena tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk transportasi dan lainnya selama masa pandemi Covid-19 ini.

Selama ini hampir tidak ada pemanfaatan kampanye menggunakan daring ataupun media sosial. ”Media effektif dalam pilkada adalah uang. Ini adalah ancaman serius,” ujarnya. Jadi kalau sebelumnya sudah dikenal serangan fajar menjelang pemungutan suara, Alfitra Salamm menyebut adanya serangan Dzuhur, Asyar atau Maghrib untuk melakukan politik uang.

Apalagi masyarakat menganggapnya sebagai kewajaran untuk mendapatkan uang dari para calon. Tidak malu-malu menerima uang sebagai pengganti biaya transport, ataupun sebagai yang harian. Dari pengalaman pemilu mulai 2010, 2015, 2018, 2019, dan 2020, regulasi tidak dapat mencegah terjadinya politik uang. ”Regulasi masih lemah,” ucapnya.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed