by

Potensi Pengembangan Energi Baru Terbarukan di NTB

MATARAM – PLN terus berkomitmen terhadap pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat ini, penggunaan EBT di NTB adalah sebesar 38 MW, yang memanfaatkan dua jenis sumber daya alam yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dan juga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Komposisi bauran energi untuk EBT adalah pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) 16 MW dan pembangkit listri tenaga surya (PLTS) 22 MW. ”Totalnya 38 MW, dari total daya mampu pembangkit sebesar 310 MW, ” kata  General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB Lasiran, Selasa 29 Desember 2020 sore.

Potensi pengembangan EBT di NTB sendiri, saat ini telah tercatat sebesar 102.74 MW dengan berbagai macam sumber EBT, yaitu air (PLTMH dan PLTA), bayu atau angin (PLTB – pembangkit listrik tenaga bayu), tenaga surya (PLTS), biomassa (PLTBm) dan juga arus laut (PLTAL). Dari total potensi tersebut, sebesar 61.38 MW berada di pulau Sumbawa, 21.36 MW di pulau Lombok, dan masing masing sebesar 10 MW berada di Selat Lombok dan Selat Alas.

Sebesar 19,2 persen  potensi EBT masih didominasi oleh PLTMH, yaitu sebesar 19,74 MW. Sedangkan potensi pengembangan EBT yang lain adalah PLTA sebesar 18 MW, PLTB 15 MW, PLTS 10 MW, PLTAL 20 MW dan PLTBm dengan potensi daya sebesar 20 MW.

Menurut Lasiran, proses pengembangan EBT ini masih cukup panjang. PLN UIW NTB harus melakukan beberapa kajian, misalnya terkait kelayakan operasinya. ”Yaitu bagaimana dampak dari pengoperasian EBT tersebut ke sistem kelistrikan yang telah beroperasi saat ini,” ujar Lasiran.

Nantinya, pengembangan potensi EBT ini akan sangat memerlukan dukungan dari banyak pihak. Tak hanya PLN saja, namun seluruh stakeholder dan juga seluruh masyarakat NTB. Hal tersebut dikarenakan banyak faktor dan juga persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses pembangunan EBT. ”Terlebih, ada target bauran energi yang harus dipenuhi yaitu sebesar 23 persen di tahun 2025,” ucapnya.

Pengembangan EBT ini merupakan salah satu wujud program transformasi PLN, yaitu “Green”. Ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami untuk menghadirkan energi bersih di masyarakat,” kata Lasiran.

Lasiran menyebutkan bahwa beban puncak sistem kelistrikan Lombok pada hari Ahad, 27 Desember 2020 adalah sebesar 248 MW dengan total daya mampu pembangkit sebesar 310 MW. Sedangkan untuk Sumbawa, beban puncak sebesar 103 MW dengan total daya mampu pembangkit sebesar 134 MW. Terdapat cadangan daya sebesar 62 MW di Lombok dan 31 MW di Sumbawa yang  cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di NTB.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed