by

PLN Bantu Petani Buah Naga Tingkatkan Produksi

MATARAM – Di tengah pandemi, agrikultura termasuk salah satu jenis usaha yang mampu bertahan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Di dalam pengelolaannya, PLN ikut berperan dalam proses penyediaan energi listrik untuk meningkatkan produktifitas dari setiap bidang usaha.

Salah satunya adalah penggunaan metode penyinaran di perkebunan buah naga yang terletak di Dusun Dasan Baru, Desa Murbaya, Kecamatan Pringgarata Kabupaten. Lombok Tengah. Dua perkebunan buah naga seluas empat hektar (ha) milik Kadri dan juga 4.5 ha milik Sapi’i meningkat produksinya setelah menggunakan metode penyinaran, yaitu dengan menempatkan satu buah lampu di atas pohon buah naga.

Manager PLN Unit Layanan Pelanggan Praya Samrun Haji, menjelaskan bahwa kedua kebun buah naga tersebut dilayani melalui program MCB On Game – Goes to Agriculture Market. ”Program ini dibuat khusus yang ditujukan bagi para pelaku usaha, khususnya di sektor agrikultura,” katanya.

Program ini menawarkan fleksibilitas layanan listrik, di mana para pelaku usaha dilayani dengan listrik pra bayar sehingga dapat membeli token sesuai dengan kebutuhan listriknya.

Daya yang terpasang untuk buah naga dua konsumen tersebut total 5.5 kVA. ”Karena dilayani dengan program MCB On Game, jadi tidak perlu membayar biaya penyambungan, ” katanya.

Saat ini, di provinsi NTB, total sebanyak 50 pelaku usaha di bidang agrikultura telah memanfaatkan program ini, yaitu terdiri dari sektor peternakan, perikanan dan kelautan, tambak dan juga perkebunan.

“Ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan PLN untuk terus mendukung usaha yang berkelanjutan. Kami berharap, dapat membantu meringankan beban masyarakat di tengah pandemi ini”, ujar Samrun.

Menurut Kadri, 48 tahun, lampu ini membuat pohon menjadi hangat pada saat malam. Serangga juga akan lebih tertarik pada lampu, dan tidak mendekati bunga atau buah. ”Jadi, produksi kebun saya naik,” kata Kadri. Dari semula menghasilkan 100 kkilogram (kg)  setiap kali panen, sekarang menjadi 200 kg.

Petani buah naga yang lain Sapi’i juga merasakan hal yang sama. Petani, 37 tahun, juga mengalami peningkatan produksi, dari yang sebelumnya 200 kg setiap kali panen, naik menjadi 300 kg.

Sapi’i menjelaskan bahwa setelah menggunakan metode penyinaran, buah naga yang dihasilkan juga semakin besar. Bunganya juga selalu ada dan jarang ada yang rusak. Selain itu, buah naga yang dihasilkan juga terasa lebih manis.

Dikatakan oleh Sapi’i, ia mampu menghasilkan panenan dalam sebulan bisa dua kali panen. Penghasilan jelas bertambah. Dengan harga buah naga Rp 8.000/kg, dari yang sebelumnya mendapatkan penghasilan Rp 1.8 juta per sekali panen, sekarang menjadi Rp 2.4 juta. ”Alhamdulillah, sangat membantu sekali,” ujar Sapi’i.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed