by

Pertumbuhan Ekonomi dan Perbankan di NTB Triwulan II – 2020

SENGGIGI – Selama triwulan II-2020 , ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kontraksi yang laju pertumbuhannya minus 1,41 persen (yoy).

Pada sisi permintaan, penurunan terjadi di semua lini akibat pandemi COVID-19 kecuali kinerja ekspor yang masih bertumbuh didorong oleh ekspor hasil tambang konsentrat tembaga. Impor juga mengalami peningkatan dengan adanya impor mesin untuk konstruksi & pertambangan, serta bahan baku gula oleh industri gula di Kabupaten Dompu Provinsi NTB.

Pada sisi penawaran, penurunan terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja sektor perdagangan, transportasi, dan akomodasi makanan dan minuman (akmamin) akibat pembatasan mobilisasi masyarakat dimasa pandemi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat (KPw BI NTB) Heru Saptaji mengemukakannya sewaktu berbicara pada Pertemuan dan Pelatihan Wartawan Ekonomi NTB di Hotel Qunci Villas Mangsit Senggigi, Jum’at 9 Oktober 2020 sore. ”Ya yang menolong ekonomi NTB ini adalah adanya ekspor tembaga. Kalau tambang dikeluarkan maka akan terjadi minus besar,” katanya.  Ia membandingkan dengan angka nasional yang mengalami minus 5,32 persen.

Di NTB, menurutnya, yang paling terpengaruh terkena dampak paling dalam adalah sektor pariwisata yang terdiri dari penumpang pesawat udara, hotel, dan mobilitas masyarakat. Kemudian sektor perdagangan kontraksinya cukup dalam minus 7,62 persen,

Namun, ia meyakini stabilitas sistem keuangan masih terjaga dengan baik. Ia juga mengajak pelaku usaha untuk mengelola hasil komoditasnya menjadi ekonomi kreatif. ”Jangan kirim bahan mentah agar ada nilai tambahnya,” ujar Heru Saptaji yang baru tiga minggu ditempatkan di KPw BI NTB.

Heru Saptaji juga mengulas kehadiran pembangunan sirkuit MotoGP yang sejauh ini masih on track dengan target penyelesaian di triwulan II-2021. Pembangunan sirkuit akan berdampak langsung pada pertumbuhan investasi dan sektor konstruksi, menyerap tenaga kerja secara signifikan (menjadi source of income bagi sebagian masyarakat). ”Pada akhirnya akan mendorong konsumsi,” ucapnya.

Setelah sirkuit selesai, apabila MotoGP terlaksana akan menjadi salah satu main attraction pariwisata NTB berkaitan dengan okupansi hotel meningkat, transportasi meningkat, konsumsi perdagangan meningkat, jasa-jasa seperti tour travel meningkat.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB Farid Faletehan menjelaskan tingginya pertumbuhan aset perbankan. Jika angka nasionalnya pertumbuhannya hanya 8,13 persen sedangkan perbankan di NTB ,mencapai 18,19 persen.  ”Kalau aset bank umum syariahnya 15,38 persen sedangkan bank umum konvensional 19,74 persen,” katanya.

Mengenai perkreditan, Farid Faletehan menunjuk tingginya pertumbuhan kredit perbankan NTB yang mencapai 21,48 persen. Untuk perkreditan bank umum syariah yang mencapai  15,48 persen dan bank umum konvensional 23,31 persen. ”Padahal angka nasional hanya 1,33 persen. ”Perkembangan kredit di NTB ini luar biasa. Mau ngomong apa lagi,” ujarnya.

Dijelaskan bahwa perkembangan kredit berdasarkan 10 sektor terbesar yang pertumbuhannya besar adalah pertambangan (112,76 persen), pertaniana, perkebunaan dan keheutanan (49,33 persen), penyediaan amamin (35,33 persen), industri pengolahan (23,82 persen), transportasti, pergudangan dan komunikasi (15,43 persen), penerima akredit bukan lapangan usaha (6,67 persen), perdagangan besar dan eceran (3,74 persen), jasa kemasayrakatan dan sosial budaya (0,23 persen), konstruksis (-1,75 persen), real estaae, usaha peresewaan dan jasa perusahaan (-6,27 persen).

Adapun perkembangan rasio kredit bermasalah (bukan hanya kredit macet) di NTB hanya 1,39 persen dibandingkan nasional sebesar 3,33 persen. Tetapi jika dirincikan untuk bank umum syariah sebesar 1,86 persen dibandingkan bank umum konvensional 0,87 persen. Sedangkan rasio kredit bermasalah di BPR 15,77 persen dan BPR Syariah 2,61 persen.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed