by

Nilai Ekspor Non Tambang Merosot, BI NTB Adakan Virtual Meeting

MATARAM – Untuk mengangkat potensi ekspor komoditi non tambang Nusa Tenggara Barat (NTB), salah satu terobosan yang dilakukan oleh Bank Indonesia sejak awal tahun 2021 secara periodik telah melakukan beberapa kali kegiatan virtual meeting dalam konteks Regional Investor Relation Unit (RIRU).

Tujuannya, untuk mengundang investor baik dalam konteks investasi bangunan fisik maupun program konektifitas perdagangan luar negeri untuk komoditas unggulan non tambang dari Provinsi NTB.

Selama tahun 2020, produk domestik regional bruto Nusa Tenggara Barat ((PDRB NTB) mengalami kontraksi sebesar 5,19 persen. Kinerja ekspor non tambang mengalami penurunan

dari semula 2019 sebesar Rp Rp 8,86 miliar menjadi Rp 392,29 juta pada tahun 2020.

Kondisi ekonomi NTB tersebut dijelaskan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB Heru Saptaji dalam keterangan pers yang diberikan Rabu 24 Maret 2021.’Berdasarkan diskusi dan pendalaman yang dilakukan terlihat bahwa potensi pasar luar negeri sangat besar. ”Tetapi terdapat keterbatasan dari sisi suplai produk UMKM,” katanya

Sehari sebelumnya, BI NTB menyelenggarakan focus group discussion yang diikuti oleh Kepala Kantor Bea dan Cuka Mataram Putu Alit Ari yang mengungkap merosotnya nilai angka ekspor NTB.  Lainnya yang hadir dari Balai Karantina Perikanan, Balai Karantina Pertanian, Garuda Indonesia, PT. Pelindo.

Ada banyak faktor yang mengakibatkan keterbatasan ekspor tersebut antara lain faktor masih rendahnya produktifitas UMKM dalam memenuhi kuota pasar luar negeri, masalah perizinan seperti ketidaktahuan atau keengganan untuk mengurus izin ekspor.

Oleh karena itu perlu kiranya pendampingan khusus untuk meningkatkan produktifitas dan dibentuk tim/agency untuk mendampingi atau menjadi perantara proses perizinan yang dilakukan oleh UMKM.

Mernurut Heru Saptaji, BI memberikan dukungan penuh dan fasilitasi untuk terus meningkatkan produk unggulan ekspor non tambang untuk tercapainya pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dan bersifat inklusif.

Dari paparan dalam FGD mengenai kondisi usaha, potensi pasar dan gap tantangan atau kendala yang dihadapi oleh UMKM seharusnya ekspor non tambang bangkit. Ekspor non tambang harus didorong secara berkelanjutan namun tidak cukup melalui program-program yang normatif.

Diperlukan inovasi terobosan baru untuk peningkatan ekspor ditengah pandemi Covid-19 ini, karena ekspor non tambang inilah yang akan langsung berdampak kepada masyarakat secara umum yang pada akhirnya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed