by

Inklusi dan Literasi Keuangan NTB Di Bawah Nasional

TANJUNG – Tingkat inklusi keuangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) 62,7 persen atau masih di bawah angka rata – rata nasional sebesar 76 persen. Tingkat literasi keuangan NTB juga sebesar 34,6 persen atau lebih rendah dari angka nasional sebesar 38 persen.

Anggota Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB Tirta Segara mengemukakannya sewaktu berbicara di Kota Tanjung Kabupaten Lombok Utara, Selasa 26 Oktober 2021 pagi. Padahal, NTB memiliki potensi diantaranya pariwisata dan pertanian. Karenanya, perlu diupayakan,” katanya.

Oleh karena itu, segala upaya untuk mengakselerasi inklusi keuangan yang merata dan menjangkau masyarakat terdepan, terluar, dan tertinggal, dan dibarengi dengan upaya peningkatan literasi keuangan, menjadi sangat penting dan strategis.

Seluruh pemangku kepentingan di sektor keuangan, baik Pemerintah Daerah, OJK, Bank Indonesia, maupun Industri Jasa Keuangan, ditantang untuk bersinergi dalam menyediakan layanan keuangan yang paling tidak memiliki 3 karakteristik, yaitu accessible, flexible, dan affordable.

Sebagai salah satu upaya mendekatkan masyarakat dengan produk dan layanan keuangan, sejak tahun 2016, OJK bersama-sama dengan Kementerian/Lembaga dan Lembaga Jasa Keuangan, telah menginisiasi penyelenggaraan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) setiap Bulan Oktober, sebagai agenda nasional. Pelakanaan Bulan Inklusi Keuangan Tahun 2021 ini akan mengangkat tema “Inklusi Keuangan untuk Semua, Bangkitkan Ekonomi Bangsa”.

Kegiatan BIK ini dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia mulai tanggal 1 – 31 Oktober 2021. Sebagai rangkaian BIK 2021, salah satu agenda acara yang akan dilakukan adalah pameran produk dan layanan keuangan atau Financial Expo (FinExpo) BIK, yang diinisiasi oleh Industri Jasa Keuangan. FinExpo BIK 2021 akan digelar secara virtual pada tanggal 18 Oktober – 2 November 2021, yang dapat diakses melalui website dan mobile phone pada alamat www.finexpo-bik2021.id.

Dalam kaitan ini, Tirta Segara menyambut baik pelaksanaan “Gebyar Inklusi Keuangan NTB Gemilang”, terutama 2 program inklusi keuangan yang sangat penting dalam memperluas akses keuangan dan kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Yaitu pertama, OJK juga menginginkan Sektor Jasa Keuangan yang inklusif bagi semua golongan masyarakat, termasuk pelajar. Untuk itu, OJK terus berupaya melaksanakan program inklusi keuangan dalam rangka mendekatkan pelajar Indonesia dengan produk dan layanan keuangan formal.

Dalam rangka menanamkan budaya menabung sejak dini, OJK bersama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, dan Kementerian Agama, telah meluncurkan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Diharapkan, dengan Satu Rekening Satu Pelajar, setiap pelajar di Indonesia akan memiliki rekening tabungan.

Data di NTB sampai Triwulan II/2021, Program KEJAR menjangkau 42,03 juta pelajar atau 63 persen total pelajar. Target 2021, Kejar dapat dinikmati 70 persen pelajar Indonesia. Sampai dengan Triwulan II/2021, terdapat 50 TPAKD yang mengimplementasikan Kreddit/Pembiayaan Melawan Rentenir, dengan 104 ribu debitur, dan nominal penyaluran lebih dari Rp 1 Triliun.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed