by

Inflasi Gabungan di Mataram dan Bima Lebih Tinggi Dari Angka Nasional

-Berita, Ekonomi-180 views

MATARAM – Perkembangan inflasi gabungan dua kota (Kota Mataram Dan Kota Bima) Februari 2021 lalu, sebesar 0,24 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,49 pada bulan Januari 2020 menjadi 104,74 pada bulan Februari 2021. Angka inflasi ini lebih besar dibanding angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0.10 persen.

Secara terpisah, untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,34 persen dan Kota Bima mengalami deflasi sebesar 0,14 persen.

”Inflasi gabungan dua kota bulan Februari 2021 sebesar 0,24 persen terjadi karena adanya kenaikan harga. ”Yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada delapan kelompok,” kata Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB M. Saphoan

Rinciannya,  Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,74 persen; Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 0,29 persen; Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga sebesar 0,23 persen; Kelompok Pakaian dan Alas Kaki sebesar 0,20 persen; Kelompok Kesehatan sebesar 0,17 persen; Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 0,07 persen; Kelompok Rekreasi, Olahraga, Dan Budaya sebesar 0,05 persen; dan Kelompok Pendidikan sebesar 0,00 persen.

Sedangkan penurunan indeks terjadi pada Kelompok Transportasi sebesar 0,37 persen; Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,32 persen; dan Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,04 persen.

Laju inflasi Gabungan Dua Kota tahun kalender Februari 2021 sebesar 0,93 persen lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender Februari 2020 sebesar 0,50 persen. Sedangkan laju inflasi “tahun ke tahun” Februari 2021 sebesar 1,03 persen lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan Februari 2020 sebesar 1,80 persen.

Pada kesempatan yang sama, menjelaskan perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) NTB Februari 2021 NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani .

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

NTP Februari 2021 sebesar 109,01 atau turun 0,29 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani menurun sebesar 0,52 persen, lebih besar dari penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani sebesar 0,23 persen.

Sebagian besar NTP bernilai di atas 100 kecuali untuk subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yaitu sebesar 92,23. NTP sub sektor lainnya masing-masing sebagai berikut : Tanaman Pangan 111,49 ; Hortikultura 110,63 ; Peternakan 106,61, dan subsektor Perikanan sebesar 107,83.

Pada bulan Februari 2021, terjadi deflasi di daerah perdesaan di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 0,34 persen. Deflasi disebabkan karena terjadinya penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pada beberapa kelompok yaitu kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau; Dan Perawatan pribadi dan Jasa Lainnya.

Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) bulan Februari 2021 sebesar 109,17 atau turun  0,54 persen dibandingkan dengan bulan Januari 2021 sebesar 109,76. Penurunan NTUP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani menurun sebesar 0,52 persen sedangkan biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) naik sebesar 0,02 persen.

Sebagian besar NTUP bernilai di atas 100 kecuali untuk subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yaitu sebesar 91,90. NTUP sub sektor lainnya masing-masing sebagai berikut : Tanaman Pangan 111,89 ; Hortikultura 110,72 ; Peternakan 105,83 ; dan Perikanan 109,99.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed