by

Ekspedisi Rupiah Berdaulat dilepas di Pelabuhan Gili Mas Lombok Barat

LEMBAR – Berlangsung di Pelabuhan Gili Mas Lombok Barat, Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) menggunakan kapal TNI Angkatan Laut KRI Tongkol 813 dilepas Selasa 9 Juli 2024 sore ini. Selama sepekan, 9 – 15 Juli 2024 kapal ini akan mendatangi Pulau Moyo, Medang, pulau Bajo Pulo, Desa Pusu, pulau Medang dan pulau Marihngkik di kawasan pulau Sumbawa membawa Rp 8,085 miliar uang rupiah berbagai pecahan untuk melayani penukaran yang diperlukan warga.

Menurut Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggarra Barat Winda Putri Listya, Sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2023, Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut telah melaksanakan 114 kali kegiatan Kas Keliling 3T (terdepan, terpencil, terluar) dengan menyasar 565 pulau 3T terkunjungi. ‘’Pada tahun 2024 Ekspedisi Rupiah Berdaulat ke Pulau 3T akan dilaksanakan sebanyak 18 kali di 18 Provinsi dengan target 90 pulau yang dikunjungi,’’ katanya.

Ekspedisi Rupiah Berdaulat di NTB akan dimulai sejak tanggal 9-15 Juli 2024 merupakan penyelenggaraan kesembilan kalinya pada tahun 2024 ini, dengan mengunjungi lima pulau yaitu: Pulau Moyo, Pulau Medang (Kabupaten Sumbawa), Pulau Bajo Pulo, Desa Pusu (Kabupaten Bima), dan Pulau Maringkik (Kabupaten Lombok Timur) menggunakan KRI Tongkol 813 membawa fisik uang tunai untuk melayani penukaran uang pada lokasi tujuan sebesar Rp8,085 milyar, sedikit meningkat dari tahun lalu Rp8,040 miliar.

Kegiatan ERB NTB Tahun 2024 ini melibatkan 16 orang on board  dari 8 satuan kerja yaitu Departemen Pengelolaan Uang, KPw BI NTB, KPwBI Jawa Tengah, KPwBI Jawa Timur, KPwBI Yogyakarta, KPwBI Tasikmalaya, KPwBI Sulawesi Tengah dan KPwBI Bengkulu. Pemilihan pelepasan di Provinsi Nusa Tenggara Barat juga bermakna strategis karena Provinsi ini dengan luas wilayahnya berupa lautan sebesar 92,4% dan gugusan pulau sebanyak 395 buah juga banyak memiliki pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Terdapat  tiga  tantangan utama Bank Indonesia dalam mengedarkan Rupiah. Pertama, adalah kondisi geografis NKRI yang memiliki ribuan pulau (17.499 pulau, berbatasan dengan 11 negara tetangga) dengan keterbatasan infrastruktur sehingga mempengaruhi jangkauan Bank Indonesia dalam menyediakan uang kepada masyarakat, termasuk diantaranya untuk kepulauan di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Terluar (3T). Kedua, keberagaman  tingkat pendidikan masyarakat yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memperlakukan uang. Hal ini tentunya mempengaruhi kualitas uang Rupiah kita. Dalam konteks ini, tantangan ini perlu kami jawab dengan edukasi. Ketiga,  penggunaan uang selain Rupiah sebagai alat pembayaran  khususnya di wilayah perbatasan.

Dalam menghadapi tantangan dan menjalankan misi tersebut  maka BI selalu mengupayakan adanya perluasan jangkauan layanan ke seluruh wilayah NKRI. Selain melalui 45 titik satuan kerja yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, BI juga bersinergi dengan semua elemen bangsa, seperti perbankan termasuk dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) yang berada di garda terdepan dalam menjaga kedaulatan NKRI melalui operasi patroli pengamanan yang menjangkau  seluruh pelosok tanah air dari Sabang sampai Merauke. Sinergi Bank Indonesia dengan TNI Angkatan Laut diperlukan sebagai salah satu upaya di tengah keterbatasan Bank Indonesia dalam melakukan pengedaran uang Rupiah, sehingga misi Bank Indonesia dalam menyediakan uang Rupiah ke seluruh wilayah NKRI khususnya wilayah kepulauan 3T dapat tercapai. Sinergi ini secara substansi mempertemukan dua kepentingan yang sama, dimana TNI AL berkepentingan menjaga kedaulatan seluruh wilayah NKRI dengan pertahanan dan BI  berkepentingan menjaga kedaulatan NKRI dengan Rupiah.

Sinergi strategis antara TNI AL dan BI telah dimulai sejak tahun  2012, melalui kegiatanpelayanan kas keliling di daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Terluar) di seluruh wilayah NKRI. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu penyediaan uang layak edar di pulau-pulau terluar yang sulit terjangkau dengan  transportasi umum. Selain kegiatan tersebut, juga dilakukan kegiatan lainnya meliputi sosialisasi atau edukasi Cinta, Bangga dan Paham Rupiah, Program Sosial Bank Indonesia  (PSBI) bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Penyaluran PSBI diantaranya berupa bantuan sarana pendukung di lingkup sekolah/pendidikan, lingkungan sosial dan kesehatan  seperti laptop, printer, proyektor, genset, Al-quran, alat kesehatan dan sembako kepada 22 penerima PSBI yang terdiri dari 17 Sekolah dan 5 Komunitas Desa/Pemuda.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *