by

Dusun Wisata Alam Dusun Bual di Kaki Gunung Rinjani Dialiri Listrik

MATARAM –
Dusun Bual sekitar tujuh kilometer dari pusat desa Bayan di Dusun Karang Salah Kabupaten Lombok Utara. Memiliki keindahan alam persawahan terasering Dari Dusun Bual tersebut, pelancong bisa menikmati gunung Rinjani dan laut di utaranya Bayan. ”Dari Bual bisa tembus pandang menikmati alam laut dan gunung, ” kata Kepala Desa Bayan Satradi kepada Tempo, Ahad 19 September 2021 petang.

Dusun Bual tersebut juga merupakan jalur naik ke Bukit Stampol. Perjalanannya melalui dusun adat Dasan Tutul, Nangka Rempek. Teras Genit. Dusun Bual ini selama ini selama ini belum dijangkau listrik. Kami merasakan belum merdeka. Gubernur

Sejak pekan pertama Septeember 2021 lalu, PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat kembali menyalakan Dusun Bual yang berada di di desa adat Desa Bayan di Kabupaten Lombok Utara. Lokasi dusun yang mayoritas warganya bermatapencaharian berkebun ini berada di punggung Gunung Rinjani, di ketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB Lasiran menyebutkan PLN mulai membangun kelistrikan untuk Dusun Bual sejak April 2021. Perencanaannya sendiri sudah dilakukan sejak Januari 2021. ”Untuk melistriki dusun yang berjarak satu jam dari kota Tanjung ini, PLN NTB mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,35 miliar,” katanya.

Biaya tersebut digunakan untuk pembangunan Jaringan Tegangan Menengah sepanjang 1,752 kms, Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 3,535 kms dan satu buah trafo baru kapasitas 160 kVA.

Dari 38 pelanggan yang saat ini terlistriki, semuanya adalah pelanggan rumah tangga. 32 pelanggan adalah daya 900 VA, dan selebihnya 450 VA.

Nah untuk menuju Dusun Bual dari pusat desanya, akan menjumpai rumah – rumah adat yang ditempati para pemuka adat Wetu Telu. Jika berawal dari Dusun Karang Salah – pusat desa, bisa menjumpai Masjid Kuno Bayan Beliq yang disekitarnya terdapat rumah adat Karang Salah, Ketip Timuk Orong, Kampu Timu Orong, Pengulu, Pembekel Bayan Barat, Nangka Rempek. Terakhir rumat adat Bual, yang meruapakan rumah adat Peruumbak Daya yang berada ditengah hutan.

Rumah adat ini beratap alang-alang dan bambu kayu. Ukurannya sekitar lima kali tujuh setengah. Kelengkapannya adalah berugak sebagai tempat duduk – duduk khas Sasak. ”Hanya perumbak atau pemangku dan penyanding yang boleh tinggal di sana,” ujar Satradi yang menyebutkan mereka mengemban mengurus masalah isi bumi dan daratan. Mulai dari menjaga mata air hingga hewan.

Sebelum menuju Dusun Bual, pelancong bisa melihatMasjid Kuno Bayan Beliq di Dusun Karang Salah. Merupakan masjid adat penganut tradisi Wetu Telu. Memiliki keistimewaan tersendiri, yakni telah menjadi salah satu situs bersejarah yang ada di Indonesia. Masjid ini berdiri pada abad ke-17, yang berarti usianya telah lebih dari 300 tahun.

Bayan adalah salah satu gerbang masuknya Islam di pulau Lombok. Di sini, pertama kali Islam diperkenalkan, dan Masjid Bayan Beleq merupakan masjid pertama yang berdiri di pulau ini.

Hamapir tidak berbeda dengan beentuk rumah-rumah sekitarnya. Sederhana masjid ini berukuran sembilan kali sembilan meter. Dinding-dindingnya rendah dan terbuat dari anyaman bambu, atapnya berbentuk tumpang yang disusun dari bilah-bilah bambu, sedangkan fondasi lantainya terbuat dari batu kali.

Sedangkan lantai masjid terbuat dari tanah liat yang telah ditutupi tikar buluh. Di sudut-sudut ruang masjid terdapat empat tiang utama penopang masjid, yang terbuat dari kayu nangka berbentuk silinder. Di dalam masjid tersebut, juga terdapat sebuah beduk dari kayu, yang digantung di tiang atap masjid.

Di utara Bayan, juga ada desa tetangga yaitu Desa Senaru Kabupaten Lombok Utara ini merupakan desa budaya yang terkenal dengan rumat adatnya. Di desa ini pula sebagian para pendaki Rinjani memulai perjalanannya. Pintu pendakian lainnya adalah Sembalun di Kabupaten Lombok Timur.

Kepala Desa Bayan Satradi mengapresiasi PLN yang melistriki Dusun Bual ini. Penyalaan listrik ini memberikan dampak positif. ”Sekarang warga bisa belajar, mengaji pada waktu malam,” kata Satradi.

Tak hanya itu, warga sekarang juga bisa menonton TV dari rumah masing masing dan membuat es batu sendiri, tanpa harus pergi atau mencari hingga ke luar dusun.

Sebelumnya, listrik di dusun ini menyala menggunakan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi yang merupakan program Nawacita dari Kementerian ESDM. Bahkan sebelumnya pernah menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro swadaya pemerintah, namun saat ini sudah tidak lagi beroperasi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed