by

1.000 Ekor Sapi Untuk Swasembada Daging di Lombok Tengah

LOMBOK TENGAH –  Guna memastikan Program 1.000 desa Sapi terlaksana dengan baik, serta mewujudkan swasembada daging sapi nasional di tahun 2026, Kementerian Pertanian RI melakukan kunjungan ke lima desa yang ditunjuk sebagai pilot project program 1.000 desa sapi, yang berada di Kecamatan Pujut Lombok Tengah.

Menurut Roy Malindo dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian,  kunjungannya ini bertujuan untuk memastikan kesiapan desa tersebut untuk mengawal program 1.000 desa sapi, dan juga melihat secara langsung progres pembangunan sarana prasarananya. “Saya lihat pembangunannya sudah mencapai angka 80 hingga 90 persen, semoga saja selesai dalam waktu dekat,” kata Roy Malindo, ketika melakukan kunjungan lapangan di Desa Sukadana Kecamatan Pujut – Lombok Tengah, Kamis, 10 Desember 2020.

Selain itu menurut Roy Malindo, NTB ditunjuk karena dinilai berperan dalam pengembangan usaha sapi potong. Dengan adanya program ini kedepan NTB diharapkan dapat berperan dan berkontribusi sebagai penyuplai daging sapi nasional.

NTB ditunjuk sebagai  lokasi pilot project program 1000 sapi karena dinilai memiliki banyak potensi. Tidak hanya karena luas lahan yang tersedia, namun juga dari potensi sumber pakan cukup tersedia.

Sehingga atas dasar usulan yang masuk, Pemerintah Daeraah Lombok Tengah ditunjuk sebagai lokasi pengembangan program seribu sapi oleh Kementan.

Asisten II Sekretaris Daerah NTB Ridwan Syah, menjelaskan bahwa program 1.000 desa sapi ini menandakan bahwa NTB membuktikan diri sebagai daerah yang siap menuju daerah industrialisasi. Ia menilai industrialisasi harus bersifat integratif dan memiliki output nilai tambah bagi masyarakat khususnya kelompok tani ternak.

Dilihat dari  sisi potensi dan ketersediaan pakan hingga mampu produksi pakan secara mandiri, itu jelas bahwa NTB mampu menjadi daerah industrialisasi. Untuk itu, seiring dengan peningkatan produksi dan penyediaan pakan secara berkelanjutan, maka  dibentuk dan dikembangkan kelembagaan atau unit usaha pakan yang mendukung penyediaan pakan secara mandiri, terjangkau, bermutu dan berkelanjutan. ”Serta dapat dikelola menjadi komoditi usaha baru bagi peternak berupa Bank Pakan,” ujar Ridwan syah.

Lebih jauh Ridwan Syah melanjutkan, lima desa penerima program 1.000 desa sapi ini masing-masing punya lahan hijau pakan ternak (HPT). Dari sana produknya kemudian dikirim ke bank pakan di Dusun Batu Guling Desa Mertak  untuk diolah dan disiapkan dalam bentuk silase baler.

Menggunakan mesin sederhana yang ada, produktifitasnya mampu memproduksi pakan hingga enam ton per jam, dan setelah dikalkulasi jika dihitung 1.000 ekor sapi akan menghabiskan sekitar 30 ton sehari. ”Pakan yang dihasilkan juga pakan yang awet karena sudah dikemas dengan lebih standar operasional,” ucap Ridwan Syah.

Tidak hanya dari penyediaan pakan, pengelolaan limbah kotoran sapi nantinya juga akan diolah menjadi sumber energi  biogas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat ditingkat lokal. Selain itu dengan  perkembangan teknologi yang ada energi biogas ini juga mulai digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Sedangkan produk sampingannya adalah  pupuk untuk tanaman.

Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Budi Septiani menyebutkan lima desa yang menjadi pilot project program 1000 sapi yakni Desa Teruwai, Mertak, Sukadana, Batu Guling dan Pengengat.

Masing masing desa mendapatkan 200 ekor, dengan rincian seratus indukan dan seratus batangan dan sudah dilengkapi alat kesehatan hewan.

Ia juga menyebut bahwa kelompok ternak yang ada sudah dibekali pelatihan dengan menghadirkan pakar ternak dari Kementan. ” Beberapa pelatihan sebelumnya sudah diberikan,” katanya.

Pelatihan yang diberikan kepada peternak adalah pemeliharaan sapi indukan dan batalan, pemberian pakan terhadap hewan ternak, mengolah biogas secara mandiri, kebersihan kandang hingga pelatihan ternak bisnis,” ujarnya.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed