MATARAM – Untuk menjaga diri dari kemaksiatan adalah senantiasa menggantungkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta’alah. Ketergantungan mutlak hanya pada Allah. Kesempurnaan sebagai manusia manakala bisa merawat hubungan-hubungan itu dengan semua dimensi yang ada sebaik-baiknya.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi mengemukakannya sewaktu bertindak sebagai khotib salah Jum’at di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, Jum’at 12 Januari 2018.

Zainul Majdi yang biasa disebut Tuang Guru Bajang (TGB), 46 tahun, mengingatkan perlunya senantiasa menjaga diri dengan semaksimal mungkin, baik kebersihan lahir bathin, dengan mengembangkan sifat rahmat dan kasih sayang sebagai prinsip utama maupun merawat diri dari segi kemanfaatannya. Yaitu bagaimana menjaga seluruh anggota tubuh ini dari perbuatan yang mengandung nilai kemaksiatan, di hadapan Allah SWT. ”Termasuk menjaga diri kita agar tidak terlena dalam kemaksiatan, sebagaimana yang terdapat dalam kisah Nabi Adam dan Iblis,” katanya.

Menurutnya kepada para jamaah, seluruh amal perbuatan harus berorientasi hanya kepada Allah SWT. Sebab, seberapapun nilai ibadah yang dilaksanakan, kalau diniatkan hanya untuk Allah SWT, maka nilainya akan tinggi. “Contoh kecilnya adalah menyingkirkan ranjau atau sesuatu yang dapat membahayakan orang lain,” ujarnya.

Selain itu, TGB juga menguraikan pentingnya kehidupan ini dihiasi dengan pandangan rahmat dan kasih sayang. Sebab, salah satu senjata pamungkas dari Rasul SAW sehingga hati manusia tersentuh untuk masuk ke dalam Islam karena lahir bathin Nabi SAW memancarkan rahmat dan kasih sayang. “Marilah kita ber-Islam dengan menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai prinsip utama dalam kita,” ucapnya.

Ia mengingatkan bahawa sikap dan tindak tanduk kita merupakan batu ujian yang nyata dalam kehidupan seorang muslim. Karena itu, tolak ukur kehidupan kita yang baik adalah memiliki akhlak yang mulia.

Usai sholat Jum’at dilanjutkan dengan kajian tafsir Al-Qur’an yang mengupas Surat Al Baqarah, Ayat 45, yang berbunyi, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

Dalam kajiannya TGB mengungkapkan bahwa sholat itu berat untuk dilaksanakan, kecuali bagi orang-orang yang khusu’. Khusu’ menurut TGB juga bermakna sabar dalam menghadapi urusan atau kesulitan-kesulitan. Artinya menahan diri dari hal-hal yang tidak baik dengan salat. Karena itu, Gubernur mengingatkan bagaimana pentingnya menegakkan sholat untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak baik.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here