MATARAM – Sebagai bagian dari Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), sejak 2011,di Nusa Tenggara Barat (NTB) telah dilakukan Program Klaster Ketahanan Pangan. Hingga 2017 lalu, Kantor Perwakilan BI NTB sudah mengembangkan empat program klaster mulai dari usaha cabai yang berpengaruh terhadap inflasi, menghidupkan kembali sentra bawang putih, usaha tenunan lokal, dan usaha sapi.

Menurut Kepala Perwakilan BI NTB Prijono, kelompok usaha cabai di Kabupaten Lombok Timur sudah dapat mengembangkan produk turunan cabai (abon cabai, abon cabai kentang, saos sambal) yang dilakukan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT). ”Produk tersebut saat ini telah memperoleh izin pangan industri rumah tangga (PIRT) dan sertifikat halal,” katanya, Kamis 11 Januari 2018 siang.

Adanya pengembangan produk turunan, diharapkan dapat menyerap hasil pertanian kelompok ketika harga cabai sedang turun. Selain itu, pengembangan produk turunan dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi kelompok. Bantuan infrastruktur fisik sudah diberikan dengan membangun green house (rumah pembibitan). Pembangunan green house tersebut berdampak pada peningkatan penyediaan kebutuhan bibit cabai dan horti organik untuk kebutuhan kelompok maupun di luar kelompok.

Selain itu juga memberikan fasilitas pelatihan berupa pembuatan laporan keuangan bagi kelompok dan KWT. Kegiatan dimaksud bertujuan dalam rangka meningkatkan kemampuan kelompok dalam mengelola keuangan sehingga dapat merencanakan kebutuhan produksi dan penjualan baik hasil pertanian maupun produk turunan.

Mengenai usaha bawang putih di Sembalun, dikatakan oleh Prijono bahwa pengembangan demplot bawang putih organik sudah dilakukan oleh kelompok telah berjalan dengan baik. ”Bawang putih yang dihasilkan memiliki ketahanan dan aroma yang lebih baik dibandingkan bawang putih non organik,” ujarnya.

Bawang putih hasil pengembangan telah dilakukan uji lab di laboratorium Universitas Gajah Mada dengan hasil menunjukan kandungan kimia/ pestisida berada di bawah ambang batas, sehingga lebih sehat untuk di konsumsi.

Di bidang usaha Tenun di Pringgasela Lombok Timur, dilakukan pengembangan motif dan produk turunan berkolaborasi dengan designer ternama di Jakarta. Saat ini kelompok sudah dapat mengembangkan produk turunan berupa tas, pouch HP dan lainnya. Kain tenun kelompok telah didesign dan ditampilkan dalam fashion show yang diselenggarakan di Jakarta oleh Designer Wignyo Rahadi.

Adapun usaha Sapi di Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Sumbawa, dalam rangka mengintegrasikan sektor peternakan dan pertanian. BI membangun biodigester pada klaster usaha ternak sapi yang ada di KLU dan Sumbawa. Biodigester tersebut berfungsi mengolah limbah kotoran ternak sapi baik padat maupun cair menjadi pupuk organik yang dapat digunakan dalam pertanian. Biodigester juga dapat menghasilkan bio gas yang dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik untuk penerangan kandang komunal milik kelompok maupun kebutuhan lainnya seperti memasak. Untuk klaster sapi di KLU, kelompok ternak sudah terbentuk koperasi untuk menunjang keuangan kelompok.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here