MATARAM – Bakal calon Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah mengatakan kasus pengaduan seorang wanita yang mengaku sebagai istri keempatnya adalah pembunuhan karakter. ”Saya sudah melapor ke Bareskrim Mabes Polri. Kita serahkan ke penegak hukum,” katanya, selesai mendaftar di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi NTB, Rabu 10 Januari 2018 petang.

Menurutnya, pemilihan gubernur ini adalah pesta demokrasi bukan menghadapi perang. Dirinya sudah mengantisipasi adanya pengaduan Aries Suci Handayani yang mengaku ditelantarkan sebagai istri keempatnya. ”Ini pesta demokrasi jangan dinodai hal-hal character assassination,” ujarnya sewaktu menjawab pertanyaan dalam jumpa pers di KPU NTB tersebut.

Di depan pendukungnya dari jamaah Nahdlatul Wathan sekaligus bagian dari simpatisan Partai Demokrat dan anggota Partai Keadilan Sejahtera selaku pengusungnya, ia yang selain anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera dari daerah pemilihan Banten juga Rektor Universitas Teknologi Sumbawa, meminta disampaikan kepada lawan-lawan politiknya. ”Bahwa ini pilkada. Jangan mengasak golok,” ucapnya sewaktu berada di atas mobil jeep terbuka di jalanan depan kantor KPU NTB.

Sebelumnya, ia mengingatkan sejarah majunya Muhammad Zainul Majdi sebagai gubernur NTB pada tahun 2008. Di bawah pohon di Kalibata, sebagai sesama anggota DPR RI dari Partai Bulan Bintang, waktu itu Zainul Majdi pamit hendak menjadi Gubernur NTB. Ternyata selama 10 tahun dipimpinnya, NTB menjadi maju di tingkat nasional. Karenanya, setelah memenangkan pemilihan gubernur NTB 2018 ini, dirinya dan pasangannya Sitti Rohmi Djalilah – kakaknya Zainul Majdi ingin mewujudkan menjadi pemimpin nasional pada tahun 2019 mendatang.

Sitti Rohmi Djalillah mengatakan kepada para perempuan NTB dari ujung barat Ampenan sampai ujung timur di Sape Bima, dirinya maju menjadi calon wakil gubernur. Ia, yang tamatan S1 Teknik Kimia ITS dan doktor manajemen pendidikan Universitas Negeri Jakarta dan kini menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi Pancor Lombok Timur, berseru : Saya sebagai perempuan NTB hadir untuk kalian.”

Sebelumnya, selisih 90 menit, juga telah mendaftar pasangan Walikota Mataram Ahyar Abduh dan Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi datang diusung enam partai mulai dari Gerindra, PPP, PAN, PBB, PDIP dan Hanura. ”Saya akan wujudkan empat prinsip pembangunan yaitu Pro Poor, Pro Job, Pro Environment, Pro Growth,” kata Ahyar Abduh menjawab pertanyaan wartawan tentang nasib TKI NTB.

Ia yang semula anggota Partai Golkar dan pernah menjadi ketua DPD Partai Golkar Kota Mataram mengaku sudah melobi semua partai untuk memenangkan pemilihan gubernur periode 2018-2023. ”Saya sudah komunikasikan melalui lobi politik,” ujarnya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here