MATARAM – Sebuah ruangan berukuran empat kali enam meter di sebelah timur kompleks Kantor Dinas Perdagangan Nusa Tenggara Barat (Disdag NTB) menjadi sebuah studio mini. Di sana, ada Muhammad Robiulazan, Samsir, Suhermanto, Edi Waskita Putra bertugas sebagai admin I-Shop NTB yang melayani calon pembeli. Sebuah layar besar berukuran 40 inch terhubung proyektor yang memuat benda-benda kerajinan (handycraft) yang ditawarkan oleh mereka yang tergolong usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Di sebelah ruang studio mini, juga disiapkan sebuah ruang pamer benda kerajinan UMKM. Berukuran 11 kali lima meter, di sana dipajang 257 item produk UMKM tersebut. Mulai dari benda asesoris ruang tamu, meja makan, kerajinan cukli (kulit kerang), buah kering, perhiasan mutiara, makanan kering hingga kain tenunan daerah.

Kehadiran I-Shop NTB yang diresmikan oleh Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi bertepatan perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan 17 Agustus 2017 lalu, menurut Kepala Disdag NTB Hajah Ni Putu Selly Andayani merupakan program inovasi. ”Dihajatkan menjadi solusi pelaku UKM NTB dalam memasarkan produknya,” katanya kepada Tempo, Rabu 3 Januari 2018 pagi.

Menurutnya, selama ini produk UKM NTB sering dirugikan karena diklim daerah lain dan surat keterangan asal (SKA) komoditi ekspor tidak diterbitkan oleh Disdag NTB. Sehingga produk unggulan NTB tidak tercatat di Badan Pusat Statistik. ”Selama ini data ekspor NTB tinggi tetapi dihasilkan produk tambang. Bukan dari pelaku UKM,” ujarnya.

Kehadiran I-Shop NTB sudah dipermaklumkan ke Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangana Ekspor Nasional (Ditjen PEN) agar bisa disosialisasikan untuk meningkatkan ekspor NTB dari sisi UKM seperti handicraft… Jawaban dari Ditjen PEN, sangat mengapresiasi I SHOP NTB. ”Sehingga nantinya anggota I Shop akan diberikan pelatihan Training of Export dan Designer Dispatch Service,” ucapnya.

Kepala Balai Pengembangan Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah (BP3ED) M Taufik Rahman menyebutkan ada 23 pelaku usaha handicraft yang memperoleh kesempatan terlibat dalam I-Shop NTB. Mereka sudah memiliki kwalifikasi ekspor. ”Ini sebagian dari 100an pelaku usaha yang pernah mengikuti pelatihan,” kata Taufik Rahman.

Dikatakan bahwa pengunjung I-Shop NTB rata-rata 20 orang setiap hari. Tidak hanya dari Denpasar, Malang, Surabaya, Ciamis, Jakarta, Depok, Tangerang, Medan. Tetapi juga berasal dari Kuala Lumpur, Hanoi, Taipei, Amsterdam, Pasadena.

Diakui Taufik Rahman, belum banyak transaksi yang terjadi. Dilakukan oleh 82 orang pengakses yang nilai belanjanya sebanyak Rp 10,631 juta. Prosesnya, pengakses menghubungi admin dan menyelesaikan transaksi yang dibatasi berlangsung selama tiga hari. Jika sudah selesai, baru admin akan menghubungi pemilik barang untuk diselesaikan pengirimannya.

Keberadaan I-Shop NTB ini merupakan hasil kerja sama dengan Bank BNI dan PT Pos Indonesia. Semua fasilitas online diberikan oleh Bank BNI yang memperoleh kepercayaan untuk menampung transaksi penjualan melalui rekening BNI. Sedangkan PT Pos Indonesia menjamin pengiriman yang cepat dan murah.

Pemilik Irmaya Bag di Kelurahan Pagutan Mataram, Hafiz Axugo yang sudah lima tahun menjual kerajinan tas berbahan kain tenun dan kulit mengaku usahanya bisa berjalan lebih banyak melalui online. ”Sebelum ada I-Shop NTB, saya sudah melakukannya sendiri,” ujarnya. Katanya, 70 persen hasil penjualan diperoleh melalui online. Karenanya, ia berharap I-Shop bisa mendukung penjualan produknya.

Sebelumnya, ia melakukan promosi melalui iklan di Facebook (FB) yang berbayar Rp 100 ribu sehari. Jika iklan Irmaya menjaring 30 ribu pengakses FB, maka 1.500 diantaranya membuka akses penawarannya. Sampai 50 orang yang menghubungi melalui telepon kepada empat orang admin yang dipekerjakan Irmaya Bag. Setiap hari menjual 4-5 biji barang yang harga jualnya Rp 500 ribu – Rp 850 ribu.

Pemilik usaha kerajinan ukiran kayu dan anyaman Ketak Nusa Indah Workshop, Awidi, di Dusun Peresak Timur Karang Bayan Lingsar Lombok Barat mengaku sudah pernah melayani empat orang pengakses I-Shop NTB. Yang belanja baru satu orang asal Malaysia yang membeli 30 biji tas anyaman seharga lebih Rp 1 juta perbijinya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here