MATARAM – Setiap tahun, ribuan pekerja Indonesia di Malaysia mengikuti ujian pendidikan non formal paket A, paket B dan paket C. Di Semenanjung Malaysia yang ikut pendidikan paket 150 orang. Sedangkan di Sabah dan Serawak Malaysia Timur, lebih seribu orang yang mengikutinya. Umumnya, para tenaga kerja Indonesia di perkebunan kelapa sawit tersebut hanya memiliki latar belakang pendidikan Sekolah Dasar.

Kordinator Pendidikan Non Formal Atase Pendidikan Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur Taufiq Hasyim Salengke menjelaskannya, Jum’at 5 Januari 2018 malam. ”Mereka anak ekspatriat yang sekolah di sekolah internasional dan juga tenaga kerja Indonesia yang merantau tanpa menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah,” kata Taufiq yang juga tenaga pengajar Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.

Menurutnya, kalau di Malaysia Timur, penyelenggaraan pendidikannya dilakukan oleh pemerintah Indonesia bekerja sama dengan perusahaan yang membangun Community Learning Center (CLC).

Info yang diperolehnya, para TKI asal Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar 90 persen hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Karena itu, menurut Taufiq, ingin mencoba mengangkat upaya Pemerintah Provinsi NTB melakukan pembinaan pekerja migran asal Lombok.

Taufiq Hasyim Salengke berada di Mataram bersama tim Studi Banding Kepala Sekolah, Guru dan Anggota Komite Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur. Mereka bertemu Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat (Sekda NTB) Rosiady Sayuti dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di kantor Gubernur NTB, pagi harinya. Dikatakan oleh Kepala Sekolah Indonesia-Kuala Lumpur Drs. Agustinus Suharto, M.Pd, kehadirannya di Mataram untuk menggali beberapa potensi secara langsung di NTB karena daerah ini dirasa baik dan cukup maju dalam bidang pendidikan dan syariatnya. ”Sepengetahuan saya, NTB telah tumbuh menjadi daerah maju yang menjadi buah bibir masyarakat dunia,” ujarnya.

Tidak hanya pendidikan atau infrastruktur, namun keramahan masyarakatnya juga menjadi kekhasan yang kuat bagi siapa saja yang berkunjung ke NTB. Karenanya, sangat tepat bagi dirinya serta guru-guru Sekolah Indonesia-Kuala Lumpur memilih NTB sebagai lokasi studi banding.

Rosiady Sayuti berharap para guru Indonesia di luar negeri menempatkan diri sebagai duta bangsa. Yakni ikut mempromosikan dan mengenalkan indonesia, khususnya keindahan NTB di kancah internasional. ”Peran sebagai duta bangsa itu sangat mudah dijalankan oleh para guru Indonesia di luar negeri, termasuk guru-guru Indonesia di Kuala Lumpur,” ucapnya.

Katanya, cukup dengan cara menyelipkan cerita dan informasi tentang keindahan dan kakayaan yang dimiliki Indonesia, seperti keindahan alam, budaya serta kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, di tengah menjalankan tugas keseharian untuk mengajar dan mendidik para siswa di sekolah setempat,” katanya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here