MATARAM – Memasuki musim hujan dan akan menghadapi puncaknya, Januari 2018 mendatang, Stasiun Klimatologi Lombok Barat mengingatkan warga di Nusa Tenggara Barat (NTB). Utamanya yang berada di lereng perbukitan mewaspadai terjadinya tanah longsor, kemungkinan adanya banjir di daerah datar, adanya petir di daerah terbuka, potensi gelombang tinggi di laut sebagai dampak potensi peningkatan kecepatan angin.

Prakirawan Iklim Wilayah Provinsi NTB – Stasiun Klimatologi Lombok Barat Hamdan Nurdin menjelaskan kepada Tempo, bahwa awal Desember 2017 angin baratan sudah konsistem melalui daerah NTB dan hampir seluruh wilayah NTB sudah memasuki musim hujan.

Menurutnya, sepanjang tahun 2017 bencana hidrometeorologi yang sering terjadi banjir dengan frekuensi kejadian 28 kali. ”Frekuensi ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata 2000-2016,” katanya.

Curah Hujan Harian Ekstrem selama tahun 2017 masih kerap terjadi, tertinggi 285 mm/hari terjadi di Pringgasela Lombok Timur pada Bulan Oktober 2017. Suhu maksimun tertinggi tercatat 37,2 di Kabupatan Sumbawa, 20 Juli 2017 dan suhu minimum tercatat tanggal 21 Januari 2017 di Lombok Barat sebesar 22,0.

Ketua Asosiasi Ahli Perubahan Iklim (APIKI) Prov NTB Markum dikutip menyebutkan bahwa informasi iklim yang telah dikeluarkan oleh Stasiun Klimatologi Lombok Barat sangat bermanfaat menunjang kegiatan beberapa penilitian baik itu kehutanan maupun pertanian.(sk)
\

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here