MATARAM – Di Nusa Tenggara Barat (NTB), penduduk yang mengalami kebutaan akibat katarak mencapai 8.000 orang. Jumlah tersebut adalah sebagian dari penyebab kebutaan. Yang lainnya disebabkan oleh glaucoma dan refraksi.

Secara nasional, saat ini angka kebutaan di Indonesia berada pada angka empat persen dari seluruh populasi. Bila katarak dan glaukoma mengakibatkan kebutaan sebanyak 57 persen dan 30 persen, angka kebutaan akibat kelainan refraksi pada anak usia sekolah dasar tercatat sebanyak 22.1 persen dari seluruh jumlah kasus kebutaan tadi.

Kelainan refraksi sering juga diartikan kelainan mata yang membutuhkan kacamata sebagai terapinya. Jika dilihat dari sebaran umur, anak usia sekolah yang menderita kelainan refraksi tercatat sebanyak 10 persen dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun). Namun, dari angka tersebut, hanya 12.5 persen yang bisa memakai kacamata koreksi akibat berbagai hal. Ada 87.5 persen anak yang seharusnya bisa memiliki penglihatan sempurna tetapi karena sesuatu dan lain hal menjadi mengalami gangguan penglihatan.

Kondisi kesehatan mata tersebut disampaikan oleh Ketua Panitia Bakti Sosial Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia Nusa Tenggara Barat (Perdami NTB) Monalisa Nasrul di sela kegiatan skrining mata di Pondok Pesantren Darul Muhajirin Praya Lombok Tengah, Sabtu 9 Desember 2017.

Selama dua hari, Sabtu – Ahad 9 – 10 Desember 2017, Persatuan Dokter Spesialis Mata Nusa Tenggara Barat (Perdami NTB) bekerja sama dengan Bulan Sabit Merah Indonesia melakukan skrining mata terhadap target 2.100 orang santri dan siswa. Kegiatan yang sama juga dilakukan di SD Negeri 1, SD Negeri 2, Madrasah Ibtidaiyah Islahuddin, di Kediri Lombok Barat. ‘’Jika diantara mereka mengalami kelainan refraksi yang bisa ditangani menggunakan kaca mata, disiapkan gratis,’’ kata Monalisa Nasrul.

Sekitar 3.000 kacamata disiapkan oleh penyandang dana LAZNAS Bank Syariah Mandiri (BSM) bersama Ikatan Refraksionis Indonesia NTB.

Monalisa Nasrul menjelaskan kondisi kesehatan mata di Indonesia menjelang program global vision 2020 yang hanya tinggal dua tahun lagi, angka kebutaan dan ganguan penglihatan di Indonesia justru meningkat. ‘’Tiga penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia adalah katarak, glaucoma, kelainan refraksi,’’ ujarnya.

Hal tersebut hanyalah satu sisi dari permasalahan gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi di Indonesia. Sisi yang lain meliputi kurangnya sosialisasi akan pentingnya pemeriksaan kesehatan mata anak usia pra dan sekolah, kurangnya kesadaran orangtua akan hal ini, belum adanya program terpadu untuk skrining pemeriksaan kesehatan anak usia pra sekolah dan sekolah dasar mengakibatkan adanya risiko anak yang terlambat didiagnosis dan memperoleh terapi yang tepat.

Ketidakseimbangan distribusi tenaga kesehatan dengan jumlah populasi mengakibatkan perlunya mobilisasi tenaga non kesehatan yang berpotensi untuk membantu mendeteksi secara dini di komunitas. Saat ini, rasio dokter mata di Indonesia adalah 1:250.000 dan rasio refraksionis optisien 1:100.000. Sedangkan rasio yang ditetapkan WHO adalah 1: 20.000 untuk dokter mata dan 1:10.000 untuk refraksionis optisen. Seluruh fenomena secara sendiri-sendiri atau bersamaan dapat mengakibatkan gangguan pada proses belajar sehingga mempengaruhi juga hasil pendidikan.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here