MATARAM – Politikus Djoko Edhi Abdurahman yang pernah menjadi anggota Fraksi PAN DPR RI 2004-2009 menyatakan Pancasila yang selama ini menjadi permainan rezim yang berkuasa dari waktu ke waktu, masih layak terus dibicarakan.

Menurutnya, hingga 22 tahun ke depan masalah Pancasila ini masih akan dihadapi. ”Belum final. Selama ini masalah Pancasila selalu mengepung kita,” kata Djoko Edhi Abdurahman yang berbicara dalam forum Ngobrol Politik di kantor Lembaga Kajian Politik dan Sosial M16 di Mataram, Selasa 28 November 2017 sore.

Kehadirannya pada Ngomong Politik di Mi6 tersebut ingin memberikan second opinion terkait konstruksi politik di nasional yang terkesan tidak dipahami secara utuh oleh publik sehingga menimbulkan multi tafsir dan prasangka yang kontra produktif.

Djoko Edhie Abdurahman pernah menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan 10 Jawa Timur-Madura. Selanjutnya saat Pilpres 2014, ia menjadi pendukung Jokowi. Setelah Jokowi terpilih ia memilih sebagai salah tokoh oposisi nasional hingga saat ini.

Djoko yang mengaku bukan sebagai oposisi karena keberadaannya di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kemudian mengatakan bahwa untuk menjadi seorang anggota DPR memerlukan biaya hingga Rp 15 miliar. Ini untuk memenuhi kebutuhan saweran yang harus dilakukan sewaktu pemilihan umum. ”Dari mana biaya sebesar itu kalau tidak didukung uang haram,” ucapnya. Jika memiliki dana sebesar itu, lebih baik digunakan untuk membuka kos-kosan.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here