MATARAM – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Nusa Tenggara Barat (PHRI NTB) segera membentuk posko krisis dampak pembatalan kunjungan wisatawan ke Lombok. Anggota PHRI NTB bertemu dengan agen perjalanan untuk membahas kemungkinan timbulnya komplin yang diakibatkan penundaan kedatangan wisatawan.

Ketua PHRI NTB Lalu Abdul Hadi Faishal mengatakan adanya gesekan yang timbul antar agen perjalanan dan hotel. Sebab, pihak hotel dirugikan ketersediaan makanan untuk jamuan para wisatawan yang dipesan oleh agen perjalanan. ”Pantauan saya, terjadi komplin hotel menanggung pembatalan seratusan orang,” katanya, Senin 27 November 2017. Diperkirakan jumlah wisatawan mencapai 300an orang yang mengakibatkan pembatalan ketersediaan makanan.

Ia memaklumi bahwa terjadinya pembatalan kedatangan ini merupakan kejadian force majeur. Walaupun menimbulkan ketidak nyamanan.

Penggagas Desa Wisata Stanggor di Lombok Tengah Ida Wahyuni Sahabuddin mengatakan semestinya ada kunjungan wisatawan yang telah memesan paket empat jam selama empat hari mendatang. Selain dari Jakarta juga ada yang datang dari Jepang. Jumlahnya bervariasi mulai dari lima orang hingga 13 orang. ”Mereka sudah bayar dimuka,” ujar Ida Wahyuni Sahabuddin yang juga ketua Asosiasi Priwisata Islami Indonesia Lombok Tengah.

Per orang dikenai tarif Rp 175 ribu termasuk makan siang di sawah, Welcome Music dan Welcome Dance, petik buah naga, wisata beternak yang disertai mengikuti proses pembuatan pupuk kompos serta mendatangi perngrajin tenunan. Di sana, Desa Wisata Stanggor melibatkan 40 orang warga anggota kelompok sadar wisata. Mereka sudah bekerja sama dengan 12 agen perjalanan dalam negeri maupun luar negeri. ”Sampai April 2018 kami full booked,” ucap Ida.

Salah seorang warga di Mataram Dian Sulastini yang menjadi mitra kunjungan ke Desa Wisata Stanggor mengatakan rencananya Senin 27 November 2017 siang ini kedatangan enam orang wisatawan dari Jakarta. Jadwalnya ke Desa Wisata Stanggor Selasa 28 November 2017. ”Infonya sih dari Jakarta on schedule menggunakan Batik Air,” kata Dian Sulastini.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here