MATARAM – Presiden Joko Widodo membuka Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU) di Mataram, Kamis 23 November 2017 sore. Berlangsung di kompleks Islamic Center Nusa Tenggara Barat (IC NTB), kegiatan NU ini adalah terbesar kedua setelah muktamar NU. Munas dan Konbes NU ini juga berlangsung kedua kalinya di Lombok setelah yang pertama berlangsung 20 tahun lalu, di Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah, 1997.

Sesuai temanya, Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga, pembukaannya diwarnai nasyid (lagu) semangat cinta tanah air Subbanul Wathan Yalal Wathan karya KH Wahab Chasbulloh. ”Presiden Jokowi pun ikut bernyanyi. Saya mendengarnya,” kata Rois Am NU KH Ma’ruf Amin

Adapun lirik lagu tersebut dalam bahasa Indonesia adalah : Pusaka hati wahai tanah airku, Cintamu dalam imanku, Jangan halangkan nasibmu, Bangkitlah, hai bangsaku!Indonesia negriku, Engkau Panji Martabatku, S’yapa datang mengancammu, ‘Kan binasa dibawah dulimu!

Presiden Joko Widodo mengatakan menunggu rekomendasi yang dikeluarkan para alim ulama yang akan bertemu selama tiga hari hingga Sabtu 25 November 2017. ”Apa yang harus dilakukan pemerintah terhadap aliran radikal yang intoleran,” katanya. Agar aparat bertindak tegas terhadap organisasi apa pun yang radikal dan intoleran.

Selama ini Indonesia dilihat oleh pihak luar sebagai negara yang sangat baik. suasana yang sangat dingin dan sejuk. apalagi ditengah ulama dan pesantren NU. Indonesia telah diminta Afghanistan untuk menjadi mediator dari sengketa yang sudah berlangsung 40 tahun antar dua suku dari tujuh suku di Afghanistan. ”Bismillah kami sanggupi. Kami membiayai,” ujarnya. Mereka diundang ke sini untuk dipertemukan dengan para ulama dan umaroh untuk memberikan pengalaman di Indonesia dan sebaliknya mengirimkan.’

Dua hari lalu, Presiden Joko Widodo menerima 35 ulama yang dipimpin bekas Wakil Presiden Afghanistan Moh Karim Alili untuk melihat sendiri keadaan Indonesia setelah kunjungan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, 2016 lalu. Waktu itu Joko Widodo menjelaskan keberadaan 87 persen dari 207 juta jiwa penduduk Indonesia dari 714 suku dan 1.100 bahasa lokal, beragama Islam.

Maruf Amin memuji penetapan Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober setelah 70 tahun dari lahirnya resolusi jihad melawan penjajah Belanda di Surabaya yang kemudian 10 November sebagai Hari Pahlawan. Sesuai tema, ia mengatakan menghadapi ancaman yang berasal dari kelompok radikal dan intoleransi. ”Ini mengancam keutuhan bangsa. Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final,” ucapnya.

Menurutnya, kelompok radikalisme yang ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 sedangkan intoleran adalah kelompok yang dapat merusak keutuhan bangsa dan negara. ”Bagi NU sudah tidak perlu dipersoalkan lagi,” katanya.

Sebelumnya Ketua Umum Pengurus Besar NU Said Agil Siradz menyebutkan bahwa NU tidak pernah pudar dan tidak pernah luntur. Dikaitkan dengan lagu Subhanul Wathan Yalal Wathan yang dibuat oleh KH Wahab Chasulloah memenuhi perintah KH Hasyim Asyari, prinsip perjuangan NU adalah Nasionalis Religius Religius Nasionalis. Beda dengan di Timur Tengah. ”Yang nasionalis tidak religius, yang religius tidak nasionalis,” ujarnya. Waktu itu, dibuat dalam bahasa Arab agar Belanda tidak paham bunyi lagu perjuangan tersebut.

Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi pun mengungkapkan pemberian nama Masjid Hubbul Wathan di kompleks IC NTB yang diberikannya sewaktu peresmian beberapa tahun lalu. ”Hubbul Wathan itu untuk menunjukkan keIslaman dan Keindonesiaan dalam satu tarikan nafas,” ucapnya. Katanya, berislam dalam ruang dan waktu. ruang negara RI dan Waktu adalah sekarang dan masa yang akan datang.

Zainul Majdi pun mengungkap Wathan yang ada dalam syair perjuangan, mengutip satu bait renungan masa yang diberikan pendiri Nahdlatul Wathan di Pancor Lombok Timur Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang tersambung sanat ilmunya dengan para sesepuh ulama Indonesia lainnya. ”Satu bait dari beliau Hidupkan iman hidupkanlah taqwa akan hiduplah semua jiwa cinta teguh kepada agama cinta kokoh kepada negara,” ucapnya.

Menurut Ketua Panitia Munas Alim Ulama dan Konbes NU Robiqi Emhas, akan dibahas 18 persoalan yang sebelumnya telah dikaji melalui beberapa kegiatan focus group discussion sejak Agustus 2017 lalu. Yaitu mulai dari masalah radikalisme, dan negara harus bertanggung jawab dan hadir terhadap masalah ekonomi, pendidikan selain masalah aset yang banyak dimiliki oleh orang tertentu. ”Sedangkan mayoritas warga adalah buruh tani,” katanya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here