MATARAM – Setelah menggalakan wisata sport melalui cabang olahraga golf, lari ekstrim di gunung, sepeda marathon, Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (DIspar NTB) bersama Dinas Pemuda dan Olahraga NTB dan KONI NTB akan menyelenggarakan HijabRun yang diadakan untuk meramaikan kota tua Ampenan dan pemecahan rekor MURI. Tidak dari jumlah pesertanya. Tetapi keluar masuk kampung di seputaran kota tua Ampenan.

Kepala Dispar NTB Lalu Moh Faozal mengemukakan rencana HijabRun berjarak 3 kilometer tersebut diselenggarakan 10 Desember 2017 setelah Lombok Marathon 2017 yang diselenggarakan 3 Desember 2017 terdiri dari empat kategori yaitu Full Marathon 42 kilometer, Half Marathon 22 Kilometer, 10 Kilometer dan 5 Kilometer. ”Hijab Run ini sebagai semangat menghidupkan kembali kota tua Ampenan yang dulu sangat dikenal sebagai kota pelabuhan,” kata Faozal setelah Coffe Morning di kantornya, Rabu 15 November 2017.

Menurutnya, HijabRun tidak menargetkan jumlah terbanyak karena sudah pernah dilakukan di Padang. Tetapi perjalanan keluar masuk kampung sambil melakukan kegiatan Clean Up membawa kantong sampah mulai dari garis start Taman Jangkar, melalui Pecinan di Jalan Niaga, Jalan Yos Sudarso, Pabean, Jalan Energi hingga Kampung Melayu dan Kampung Bugis, serta Pasar Kebon Roek dan Pondok Prasi.

Sedangkan lari marathon empat kategori 42 kilometer, 22 kilometer, 10 kilometer dan 5 kilometer yang sudah mendapatkan lisensi internasional disiapkan hadiah uang total Rp 500 juta. ”Peserta dari Afrika sudah mendaftarkan diri lagi, ” ujar Faozal. Pelari Afrika pada Lombok Marathon 2016 yang memenangkannya telah mendaftarkan diri secara online. Dari target 5000 peserta telah mendaftar sebanyak 1.500 orang. ”Rute dari Senggigi tidak bisa diubah karena lisensi yang mengesahkannya untuk selama lima tahun,” ucap Wakil Ketua KONI NTB Suhaimi yang juga Ketua PASI NTB.

Untuk menghidupkan kota tua Ampenan di Mataram yang dulu sangat dikenal sebagai kota pelabuhan hasil bumi dari Lombok ke Surabaya sebelum dipindahkan pelabuhannya ke Lembar Lombok Barat. Untuk memugar wajah bangunan dan pertokoan di sana, Dispar NTB membiayai Rp 3,5 miliar. Termasuk merapikan suasana eks pelabuhan.

Secara keseluruhan, Dispar NTB membiayai kebutuhan destinasi wisata sebesar Rp 16 miliar untuk kepentingan pembangunan 34 paket pekerjaan diantaranya toilet di berbagai lokasi, dermaga sepanjang 95 meter di pantai Pink di Kabupaten Lombok Timur menggunakan dana Rp 550 juta.

Di tempat lain, dermaga Gili Trawangan dibangun baru untuk keperluan sandar kapal cepat yang setiap harinya didatangi 1.500 orang wisatawan mancanegara via Bali. ”Tidak ada dana pemerintah. Program CSR pengusaha mengumpulkan Rp 440 juta,” kata Faozal.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here