MATARAM – Mulai 2017 ini, Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan perbaikan metodologi penghitungan data tanaman pangan. Ini dilakukan mengingat adanya keraguan antara ketersediaan produksi dengan kebutuhan impor yang masih harus dilakukan. BPS melakukan kerangka sampel area (KSA) yaitu mengumpulkan foto tanaman padi pada berbagai fase tanam.

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Nusa Tenggara Barat (NTB) Isa mengemukakannya saat presentasi Mengenal Data Pertanian, Industri dan Konstruksi pada kegiatan Statistical Capacity Building (SCB) Wartawan yang berlangsung di kantornya, Senin 13 November 2017. ”Tujuannya untuk mengestimasi luas panen padi secara lebih akurat,” katanya.

Sebelumnya, kualitas data pangan dipertanyakan khususnya kualitas data luas panen
Menjadi justifikasi berhasil-tidaknya program, peluang terjadi konflik kepentingan sehingga menimbulkan keraguan data produksi beras yang amat tinggi. Selama ini, BPS hanya menghitung luas ubinan berdasar data luas lahan yang diterima dari dinas.

Menurutnya, data produksi padi rutin tidak sejalan dengan dinamika perkembangan harga di pasar. Kenyataannya surplus padi cukup, harga cenderung tinggi dan tidak stabil. Surplus padi rata-rata 10 juta ton setiap tahun semestinya diikuti oleh harga beras yang juga turun. Dikatakan bahwa masalah impor ini adalah kondisi nasional. ”Kalau NTB masih surplus,” ujar Isa.

KSA dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI), tidak melakukan wawancara namun melakukan pengamatan fase tumbuh padi langsung. Statistik produksi tanaman pangan yang disajikan dalam Berita Resmi Statistik (BRS) terdiri dari luas panen, produktivitas, dan angka produksi serta hanya mencakup komoditas padi, jagung, dan kedelai. Angka produksi tanaman pangan yang dirilis tahun 2016 adalah realisasi produksi selama satu tahun (Januari–Desember 2015) dan merupakan BRS melakukan rilis yang terakhir.

Di NTB, produksi padi tahun 2015 sebanyak 2,42 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami kenaikan sebanyak 300,76 ribu ton (14,21 persen) dibandingkan tahun 2014. Kenaikan produksi terjadi karena kenaikan luas panen seluas 33,79 ribu hektar (7,79 persen) dan produktivitas sebesar 2,91 kuintal/hektar (5,96 persen). Produksi padi tahun 2015 sebanyak 2,42 juta ton gabah kering giling (GKG) atau sebesar 1,52 juta ton beras. Konversi gabah kering giling ke beras 62,74 persen. Asumsi konsumsi beras per kapita 114,8 kg/kapita/tahun maka 30,31 ton bisa memberi makan 150 orang selama setahun.

SCB Wartawan di BPS NTB yang dibuka Kepala BPS NTB Endang Tri Wahyuningsih, juga membahas masalah pola perdagangan, angka kemiskinan, indeks pembangunan manusia NTB yang berada di urutan ke empat dari belakang secara nasional.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here