MATARAM – Meskipun belum seluruh rumah warga Desa Puncak Jeringo Lombok Timur yang berada di kaki Gunung Rinjani mendapatkan aliran listrik. Sejak seminggu terakhir ini PLN telah mampu melayaninya. Sebanyak 80 rumah warga di sana yang membayar sekitar Rp 1,3 juta termasuk pemasangan instalasi sudah bisa menikmati penerangan utamanya pada malam hari.

Pelaksana tugas Kepala Desa Puncak Jeringo Hariyanto menyatakan syukurnya masuknya aliran listrik di desanya. Kalau selama ini karena kegelapan malam tanpa aliran listrik sering mengalami gangguan pencurian ternak kambing, maka dirasakan memperoleh keamanan. ”Alhamdulillah tidak gelap lagi. Dulu pakai dile copok. Anak-anak juga bisa belajar di malam hari,” kata Hariyanto kepada Tempo, Jum’at 10 November 2017 siang. Dile copok adalah lampu minyak. Di rumah Hariyanto sendiri belum dialiri listrik karena belum memiliki biaya pemasangannya.

Puncak Jeringo yang meliputi empat dusun berpenduduk 2.620 kepala keluarga diantaranya 200 unit rumah transmigran. Desa tersebut memiliki potensi wisata alam air terjun Slir (Merinding) setinggi 200an meter. Di tebingnya terdapat sarang lebah madu. Jaraknya sekitar 3,5 kilometer dari kantor desa yang bisa ditempuh berjalan kaki. ”Indah panoramanya gunung,” ujar Hariyanto.

Keberadaan desa ini sejak adanya pemekaran, 2010. Sejak zaman Belanda, penduduk yang datang ke desa tersebut merupakan peladang berpindah. Mereka sebagai petani musiman tadah hujan menanam jagung dan padi. Menurut Hariyanto, 55 tahun, asal Sikur, kini mulai banyak penduduknya yang menanam cabe. Selain tanam kacang hijau.

Menurut Manajer PLN Rayon Pringgabaya Firmansyah, tanah di Puncak Jeringo ini isinya batu, jadi ketika menggali pun sangat sulit. Apalagi medan ke sini pun berat, tanjakan belum beraspal. Sewaktu turun hujan, akan semakin sulit. ”Dalam satu hari, petugas hanya bisa menyelesaikan satu atau dua tiang.” ucap Firmansyah.

Untuk melistriki Desa Puncak Jeringo, PLN telah membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 3,79 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 3,31 kms, dan dua gardu distribusi masing-masing berkapasitas 50 kilo Volt Ampere (kVA).

Firmansyah menambahkan, dari hasil pendataan, saat ini terdapat sekitar 250 KK yang belum terlistriki. Meskipun demikian PLN telah menyatakan kesiapannya untuk menyambungkan listrik untuk seluruh warga Desa Puncak Jeringo. “Banyak dari warga yang ingin melakukan penyambungan, namun menunggu hasil panen. Tapi dari sisi kesiapan jaringan dan pasokan daya, PLN siap.” kata Firmansyah.

General Manager PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat Mukhtar menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur kelistrikan di Desa Puncak Jeringo dilakukan melalui Program Listrik Desa. Ini merupakan komitmen PLN untuk menerangi seluruh negeri. ”Kami berusaha untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi dan mewujudkan Nusa Terang Benderang, ” ujar Mukhtar.

Hingga September 2017, rasio elektrifikasi di Provinsi NTB telah mencapai 82,79 persen, dari target tahun 2017 sebesar 80 persen. Untuk meningkatkan rasio elektrifikasi, pada tahun 2018, melalui program listrik desa, PLN berencana melistriki 77 dusun yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Harapannya, pada tahun 2020 rasio elektrifikasi telah mencapai 100 persen.(*/sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here