MATARAM – Angka inflasi di Nusa Tenggara Barat selama bulan Oktober 2017 mencapai 0,06 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 128,23 pada bulan September 2017 menjadi 128,31 pada bulan Oktober 2017. Angka inflasi ini berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,01 persen.

Untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,08 persen dan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,02 persen. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik NTB Endang Tri Wahyuningsih, tingginya inflasi tersebut karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks.

Kenaikan harga meliputi Kelompok Kesehatan sebesar 0,4 persen; Kelompok Sandang sebesar 0,25 persen; Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,24 persen; Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar sebesar 0,2 persen; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau sebesar 0,14 persen dan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah raga sebesar 0,02 persen. ”Sedangkan penurunan indeks terjadi pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 0,35 persen,” katanya, Rabu 1 November 2017 siang.

Laju inflasi NTB tahun kalender Oktober 2017 sebesar 2,44 persen lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender Oktober 2016 sebesar 1,75 persen. Sedangkan laju inflasi “tahun ke tahun” Oktober 2017 sebesar 3,30 persen lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan Oktober 2016 sebesar 2,87 persen.

Ia juga menjelaskan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) bulan Oktober 2017 sebesar 115,13 atau meningkat 0,73 persen dibandingkan dengan bulan September 2017 sebesar 114,30. Sebagian besar NTUP bernilai di atas 100 kecuali untuk subsektor hortikultura yang hanya sebesar 93,33. NTUP sub sektor lainnya masing-masing sebagai berikut : Peternakan (131,92); Tanaman Pangan (115,02); Perikanan (113,26); dan Tanaman Perkebunan Rakyat (106,94).

Dari 33 provinsi yang dilaporkan pada bulan Oktober 2017, terdapat 27 provinsi yang mengalami peningkatan NTP dan 6 provinsi mengalami penurunan NTP. Peningkatan tertinggi terjadi di Provinsi Jambi yaitu sebesar 1,52 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Bangka Belitung yaitu sebesar 2,12 persen.

Pada bulan Oktober 2017, terjadi deflasi di daerah perdesaan di Provinsi NTB sebesar 0,55 persen. Deflasi disebabkan karena terjadinya penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pada kelompok Bahan Makanan sebesar 1,28 persen.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada 8 kabupaten di Provinsi NTB, terjadi NTP yang berfluktuasi setiap bulannya. Pada bulan Oktober 2017 dengan tahun dasar (2012=100) NTP Provinsi Nusa Tenggara Barat berada di atas 100 ( tercatat 107,20 ) yang berarti petani mengalami peningkatan daya beli, karena kenaikan harga produksi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga input produksi dan kebutuhan konsumsi rumah tangganya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here