MATARAM – Salah satu kekuatan yang dimiliki oleh Indonesia adalah tradisi lisannya. Keberadaan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) di Indonesia salah satunya dalam konteks keIndonesiaan, berkontribusi untuk mencoba memberi koridor kemana arah kebijakan revolusi mental melalui basis yang dipunyai di masing-masing budaya.

Tantangan yang ada adalah bisakah ATL memformulasikan agar koridor tersebut dapat menjadi tuntunan bagi para guru dalam memberikan pendidikan karakter bagi siswa-siwinya, dan memberi gambaran kepada masyarakat dalam menerjemahkan arah revolusi mental, serta nantinya akan terus bergelombang sampai ke tingkat yang lebih kecil seperti di tingkat keluarga dan organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hilmar Farid mengatakannya sewaktu bertemu peserta Seminar Internasional Tradisi Lisana X di Aula Pendopo Walikota Mataram, Kamis 25 Oktober 2017 malam. Hadir dalam acara tersebut utusan dari negara Malaysia, Filipina, Australia, dan Amerika Serikat.

Menurutnya, Indonesia saat ini tengah dalam gairah dalam mengembangkan ekonomi kreatif yang dengan cepat mengalahkan sektor-sektor lain. Karena sumbernya adalah dari berbagai keunikan lebih dari 700 suku bangsa. ”Kesemuanya itu, belum termasuk sub-sub kultur yang ada, ” katanya.

Di Nusa Tenggara Barat yang tengah dalam upaya mengembangkan sektor kepariwisataan, senjata utamanya adalah penghargaan terhadap tradisi lisan yang berkembang dan melakukan sosialisasi bagi masyarakat bahwa ini adalah kekuatan mereka untuk mencapai kesejahteraan. Sedangkan dalam kaitannya dengan NKRI, Pancasila dan pluralitas, pendekatan yang paling ramah adalah pemahaman terhadap seni budaya dan keunikan lokal. ”Yang dalam cara mereka mentransformasikannya lebih banyak secara lisan dengan bertutur atau bercerita,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Kota Mataram Effendi Eko Saswito mengatakan bahwa penyelenggaraan seminar merupakan perwujudan komitmen bersama dalam melestarikan budaya sebagai kekayaan kultur daerah. Sedikit disayangkan, pelaksanaan seminar tidak dapat dilaksanakan secara bersamaan dengan penyelenggaraan kegiatan Festival Mataram tahun 2017. ”Pada awalnya direncanakan agar kedua kegiatan dapat dirangkaikan,” ucapnya.

Effendi Eko Sasmito mengatakan tradisi lisan tidak bisa dipungkiri mulai tergerus arus globalisasi dan berada pada ancaman kepunahan. Padahal dari tradisi lisan dapat dipelajari adat istiadat, kearifan lokal, etos kerja, undang-undang, dan lain sebagainya. Sebagai produk kultural, tradisi lisan mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya yang disampaikan melalui tutura, dan sebagian diabadikan melalui naskah.

Diyakini bahwa seminar ini sebagai salah satu upaya penyelamatan yang memang tidak mudah dilakukan, tapi tidak berarti tidak mungkin diwujudkan. Sebagaimana diamanatkan dalam Konvensi UNESCO 2003, bahwa penyelamatan tradisi lebih berorientasi pada proses dan bukan hasil.

Ia mengundang para peserta seminar untuk menikmati potensi-potensi wisata di Mataram. Selain wisata pantai Kota Mataram juga memiliki obyek wisata budaya dan religi, selain wisata belanja dan wisata kuliner.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here