MATARAM – Tingkat pelanggaran iklan obat tradisional dan suplemen kesehatan masih cukup tinggi. Tidak hanya belum mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), mereka mencantumkan testimoni dan klaim berlebihan. Padahal keduanya bukanlah tergolong untuk penyembuhan.

Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisonal, Kosmetika dan Produk Komplemen Badan POM RI Ondri Dwi Sampurno mengemukakannya sewaktu berbicara di depan peserta sosialisasi mengenai Hasil Pengawasan Iklan dan Ketentuan / Persyaratan Iklan Produk Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan, di Hotel Santika Mataram, Rabu 25 Oktober 2017. ”Kalaupun ada yang mendapatkan rekomendasi, tetapi materi iklannya berbeda dengan yang diajukan,” katanya.

Terjadinya pelanggaran yang terjadi di stasiun televisi, radio dan media konvensional lainnya adalah kendala pengawasan iklan marketing, MLM lokal, jasa periklanan kurang mengerti peraturan terkait iklan produk Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan.

Menurut Ondri Dwi Sampurno, hanya apoteker penanggung jawab yang memahami mengerti peraturan terkait iklan produk Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan. Disebutnya, pelaku usaha pangan industri rumah tangga (PIRT) kurang mengerti peraturan terkait iklan dan mengiklankan produk. ”PIRT seolah-olah sebagai obat tradisional dengan klaim yang berlebihan,” ujarnya.

Saat ini, pengawasan iklan dilakukan oleh beberapa instansi pemerintah sesuai tupoksi nya masing – masing yaitu pengawasan iklan produk Obat dan Makanan oleh Badan POM, pengawasan iklan klinik pengobatan herbal oleh Kementerian Kesehatan RI, pengawasan iklan produk PIRT oleh Dinas Kesehatan. Tetapi masyarakat hanya mengetahui bahwa pengawasan obat dan makanan (termasuk PIRT dan klinik pengobatan herbal) dilakukan oleh Badan POM.

Badan POM sudah mengeluarkan 23 surat peringatan terhadap Stasiun TV dan 4 stasiun radio yang menyiarkannya. Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Obat Tradisional, Komestik dan Produk Komplemen Badan POM Indriaty Tubagus menyebutkan pada tahun 2016, untuk iklan obat tradisional (OT) di media cetak (MC) yang tidak memenuhi ketentuan (TMK) 790, televisi (TV) 1.090, Radio 630, luar ruang (LR) 127 dan leaflet 1.625. Sedangkan iklan suplemen kesehatan di MC yang dinyatakan TMK sebanyak 171, TV (1.181), Radio (204), LR (83) dan leaflet (762).

Secara rinci, Kepala Balai Besar POM Mataram Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih, iklan obat tradisional tidak boleh menggunakan kata-kata: super, ultra, istimewa, top, tokcer, cespleng, manjur dan kata-kata lain yang semakna yang menyatakan khasiat dan kegunaan berlebihan. ”Atau memberi janji bahwa obat tradisional tersebut pasti menyembuhkan,” ucapnya.

Dikatakan pula bahwa iklan obat tradisional tidak boleh menampilkan adegan, gambar, tanda, tulisan dan atau suara dan lainnya yang dianggap kurang sopan. ”Adanya iklan obat kuat yang didengarkan anak-anak,” katanya. Sampai saat ini masih bisa didapati iklan tersebut pada jam siar pagi siang dan sore melalui radio.

Selain itu, menurutnya, iklan obat tradisional tidak boleh menawarkan hadiah atau memberikan pernyataan garansi tentang khasiat dan kegunaan obat tradisonal. Iklan obat tradisonal tidak boleh memuat pernyataan kesembuhan dari seseorang, anjuran atau rekomendasi dari profesi kesehatan, peneliti,sesepuh, pakar, panutan dan lain sebagainya.

Sewaktu tanya jawab, pengusaha jamu di Lombok Nasrin menyatakan adanya persaingan dengan produsen obat kuat dari Malaysia yang vulgar. ”Apa salahnya kalau khasiat produksi kami memang benar. Sesuai fakta,” kata Nasrin.

Sedangkan Wayan Rusha Sutya yang menghasilkan jamu dari bahan tanaman lokal Tegining Teganang yang anti racun dan pengobatan lambung mengemukakan bahwa hasil penelitian laboratorium di Universitas Mataram dan Universitas Muhammadiyah Yogayakarta sudah membuktikan tanaman yang digunakan sebagai bahan jamunya. ”Hasilnya terbukti bisa menyembuhkan,” ujarnya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here