MATARAM – Untuk membangkitkan motivaasi para pelaku pariwisata di daerahnya, Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (Dispar NTB) menghadirkan penggagas Jember Fashion Carnival (JFC) Dynand Fariz ke rapat kordinasi NTB Menuju 4 Juta Wisatawan di Hotel Golden Palace Mataram, Selasa 24 Oktober 2017.

Di depan para pelaku pariwisata se NTB, Dynand Fariz membagi pengalamannya menghidupkan festival di kotanya yang berawal dari kegiatan keluarganya sendiri. Jember Fashion Carnival ini tidaka bergantung dana pemerintah daerah. ”Kami hanya minta izin saja ke Bupati Jember,” katanya. Bahkan, mampu menghasilkan dana dari ticket yang dijual untuk calon penontonnya, tidak hanya ditonton oleh warga Jember saja.

Guru Sekolah Mode Internasional di Jakarta ini yang setiap hari Selasa aktif di Kantor Kementerian Pariwisata, telah membawa JFC memperoleh penghargaan internasional dan menempatkan pada peringkat tiga dunia tetapi satu-satunya kota yang memiliki rangkap peran sebagai kota karnaval dan fashion. Catwalknya sepanjang jalan lurus di tengah kota Jember sejauh 3,6 kilometer.

JFC terdiri dari empat kategori yang berlangsung berbeda hari yaitu Kids Carnifal, Artwear Carnival, Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) Carnival ticketnya dijual mulai dari terendah Rp 25 ribu sampai Rp 75 ribu, dan Grand Carnival mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

Menurut Dynan Fariz, yang saat ini sedang menyiapkan atraksi Grand Carnival Indonesia untuk keberlangsungan pembukaan Asian Games 2018, setiap kegiatan JFC sudah ditetapkan waktu dan tema tahun berikutnya sehingga wisatawan asing bisa memastikan kedatangannya. Jadwal tidak bisa mendadak. Wisatawan kehadirannya kembali tahun berikutnya sejak selesai menyaksikan tahun sebelumnya. ”Kalau tidak, sulit mendapatkan tempat menginap di Jember, ” ujarnya. Bahkan ada yang sampai menginap di kota tetangga Probolinggo.

Kepala Dispar Sumbawa Barat Sumbawanto secara spontan meminta Dynan Fariz untuk memoles kegiatan festival. ”Kalau bisa datang, agar melihat kekurangannya demi perbaiki penyelenggaraan festival berikutnya,” ucapnya.

Kepala Dispar NTB Lalu Moh Faozal mengatakan industri pariwisata sudah semakin mengglobal. Asosiasi pelaku pariwisata seperti ASITA dan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia sudah menembus mancanegara. ”Jadi harus diimbangi pembenahan destinasi,” kata Faozal.

Tahun 2017, Dispar NTB yang di tingkat nasional ikut diandalkan sumbangsihnya mendatangkan wisatawan asing, memasang target kunjungan wisatawan empat juta orang – setengahnya wisatawan asing. Ada 18 kegiatan pariwisata yang tersebar di seluruh kabupaten-kota se NTB. Mulai dari Lombok Sumbawa Great Sale untuk memancing minat kunjungan, Bau Nyale (menangkap cacing laut), Festival Lawata di kota Bima, Festival Tambori di Doro Ncanga Kabupaten Dompu, Festival Mutiara, Festival Bunga, Festival Nyesek (Menenun) dan berbagai wisata sport internasional mulai dari lari 100 kilometer di gunung Rinjani, balap sepeda Tour de Lombok dan Gran Fondo New York Asia.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here