MATARAM – Presiden Joko Widodo mengingatkan Menteri Agraria Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil agar menyelesaikan target pemberian sertifikat tanah kepada masyarakat. Selama ini di berbagai daerah di Jawa atau Sumatra tidak sedikit sengketa kepemilikan tanah karena tiadanya sertifikat hak atas tanah.

Joko Widodo mengemukakannya sewaktu melakukan penyerahan sertifikat tanah kepada 2.700 orang warga di empat kabupaten se pulau Lombok, di Kuta Lombok Tengah, Jum’at 20 Oktober 2017 pagi. ‘’Awas kalau tidak bisa. Saya ganti kalau tidak bisa,’’ kata Joko Widodo kepada Sofyan Djalil.

Sebenarnya, sebanyak 3.050 orang penerima sertifikat gratis dari pemerintah alasan kesulitan transportasi tidak bisa dihadirkan ke lokasi acara.

Menurutnya, setiap kepergiannya ke suatu daerah, yang selalu menjadi pertanyaan adan kepemilikan sertifikat tanah. Tahun 2017 ini akan diberikan sebanyak lima juta serrtifikat. Tahun 2018 ditingkatkan menjadi tujuh juta sertifikat dan tahun berikutnya sebanyak sembilan juta sertifikat. ‘’Tahun 2022, seluruh masyarakat sudah pegang sertifikat,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi menyebutkan ada 1,66 juta bidang tanah tetapi yang memiliki sertifikat hanya 52 persen atau sekitar 807 ribu saja. ‘’Warga memiliki tanah bersertifikat tidak ternilai harganya,’’ ucapnya.

Karena itu ia meminta Presiden Joko Widodo agar terus meminta Kementerian ATR/BPN menyelesaikan kekurangannya. Sewaktu menyinggung sertifikat tanah tersebut, Zainul Majdi mengatakan hasil pertanian meningkat 13,5 persen. Hasil gabah kering giling (gkg) mencapai 2,362 juta ton gkg. Jagung bertambah produksinya 95 persen atau 1,2 juta ton. 2017 ini ditargetkan 2,1 juta ton.

Mendengar info tersebut, Presiden Joko Widodo memanggil tiga orang petani penerima sertifikat secara bergantian berdasar pilihannya sendiri. Ini dikaitkan dengan hadiah tiga sepeda yang sudah dibawanya. Pertama Jalaludin asal Desa Jago Lombok Tengah yang menanami jagung lahannya seluas 1.950 meter persegi (m2). Tidak hanya masalah pertanian, Jalaludin juga diminta menyebutkan Pancasila. Ternyata bisa menyebutkannya walaupun ada sedikit kekeliruan penyebutannya yang menimbulkan tawa Joko Widodo. ‘’Keringatnya ke luar sejagung-jagung,’’ kata Joko Widodo meledeknya.

Yang kedua dipanggil adalah Indrayadati asal Kesik Lombok Timur. Petani padi pemilik sawah seluas 4.901 m2 ini juga diminta menyebutkan Pancasila. Terakhir, penerima berusia tertua, Mustapa, 70 tahun asal desa Jago Lombok Tengah. Ia diminta menyebutkan tiga nama suku di Indonesia. Setelah mampu menyebutkannya Sasak, Jawa dan Sunda, dimintanya menyebutkannya satu nama suku lagi yang dikatakan Bali Hindu.

Ketiga penerima sertifikat tersebut langsung disuruh mengambil sendiri sepedanya yang disiapkan di sebelah timur lokasi acara.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here