GIRI MENANG – Sekotong di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) memiliki banyak potensi. Mulai dari potensi di sektor pertanian, pertambangan, perikanan dan kelautan, terlebih potensi pariwisata yang begitu menjanjikan. Khusus untuk sektor pariwisata, kini mulai focus mempromosikan kawasan Sekotong.

Menurut juru bicara Pemerintah Kabupaten Lobar Saiful Ahkam, bebeberapa kegiatan pun mulai dilakukan dikawasan tersebut, seperti Mekaki Marathon dan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk mempromosikan sektor pariwisata di Sekotong.

Tak hanya dari kalangan pemerintah, masyarakat sekitar pun mencoba mengambil peran untuk mempromosikan daerah paling barat Kabupaten Lobar itu. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang sebelumnya melempem kini mulai menunjukkan aksinya. Promosi melalui media social pun gencar dilakukan dengan mempromosikan hastag #SekotongMendunia.

Gencarnya promosi pariwisata Sekotong yang dilakukan Pemkab Lobar di bawah kepemimpinan Bupatinya Fauzan Khalid, dan masyarakat sekitar pun mulai menunjukkan hasil. Tingkat kunjungan wisatawan pun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Kendati belum terdata maksimal, namun masyarakat sudah mulai merasakan dampak dari meningkatnya sektor pariwisata Sekotong.

Karena itu, munculnya isu ancaman mercury sebagai dampak aktivitas pertambangan liar ditanggapi Camat Sekotong Lalu Ahmad Satriadi. Menurutnya, kembali munculnya isu mercury itu tak lebih dari tourism politic atau politik pariwisata dari daerah pesaing terdekat.

Satriadi berpendapat, saat ini geliat pariwisata di kawasan Sekotong dan Lobar secara umum mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Beberapa agenda sudah mulai digelar di kawasan Sekotong sebagai upaya menarik minat atau kunjungan wisatawan. “Itu kelihatan sekali, karena Sekotong dianggap saingan,” ujarnya.

Lalu Ahmad Satriadi menyangkal adanya temuan mercury terhadap pencemaran air di Sekotong. Jika melihat bahaya jangka panjangnya, manusia yang menanggung beban dampak mercury pada tubuh, mengancam kerusakan otak dan gangguan ginjal. Bahkan terparah, ada isu bahwa ada ditemukan beberapa penyakit aneh yang mulai menjangkiti masyarakat Sekotong.

Menanggapi temuan itu, Satriadi mengatakan bahwa tidak ada penyakit aneh seperti yang diklaim oleh pihak peneliti yang tidak diketahuinya itu. Menurut dia, di Sekotong ada Puskesmas, ada dokter ahli. “Dan saya ingin tanya, diambang berapa yang dikatakan bahaya itu. Kan dokter gigi juga pakai mercury, kenapa itu tidak bahaya. Kosmetik juga pakai mercuri. Tolong jelaskan ambang batasnya berapa,” ucapnya.

Camat Sekotong itu juga menantang pihak yang konon melakukan penelitian terkait ancaman mercury di Sekotong untuk menunjukkan data ilmiah dari hasil penelitiannya. “Jangan ngomong-ngomong tanpa bukti itu,’’ ucapnya. Ini masalah tehnis, ini harus dijawab dengan data. Menurutnya ini hanya politik pariwisata, dia tahu pariwisata Sekotong mulai bangkit dengan mulai dibangunnya jalan, jembatan dan listrik yang rencananya dialirkan ke kawasan Gili Gede.

Satriadi mengatakan bahwa sampai sejauh ini belum pernah ada pihak yang datang ke kantornya untuk meminta izin melakukan penelitian. Tak hanya itu, dari Puskemas setempat pun juga tidak ada informasi terkait adanya penyakit aneh yang menjangkiti warga Sekotong. Kalau mercury itu dianggap bahaya, bagaimana caranya mengantisipasi masuknya. Jalan masuknya, diperketat.(*/sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here