MATARAM – Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (Dispar NTB) mulai membenahi kawasan wisata pantai Senggigi di Kabupaten Lombok Barat. Senggigi yang menjadi destinasi pertama di NTB yang dikembangkan 1987, mulai dirapikan agar tidak ditinggalkan wisatawan mancanegara setelah berkembangnya destinasi wisata lainnya di kawasan wisata se pulau Lombok.

Menurut Kepala Dispar NTB Lalu Moh Faozal, akan dilakukan recovery (diratakan) pasir pantai sepanjang sekitar 750 meter mulai dari depan Hotel Kila hingga Pasar Seni. Penempatan perahu-perahu nelayan milik warga kota Mataram yang diparkir di pantai akan ditertibkan untuk memberikan kenyamanan wisatawan.

Selain itu, di sepanjang pantai tersebut juga ditempatkan 25 set tempat duduk dan meja beton di bawah payung terpal untuk menikmati sunset menghadap arah gunung Agung Bali di seberang selat Lombok. Untuk keperluan tempat duduk dan tenda saja, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menyiapkan dana Rp 200 juta. ”Di perairan juga akan dipasangi pongpong pembatas agar wisatawan bisa leluasa berenang tidak terganggu banyaknya perahu nelayan di Teluk Senggigi ini,” kata Lalu Moh Faozal di sela bersih-bersih pantai oleh Dispar NTB bersama mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, Ahad 8 Oktober 2017 pagi.

Kegiatan bersih-bersih pantai Senggigi ini dilakukan untuk mengedukasi warga agar menjaga kebersihan pantainya. Kepala Bidang Destinasi Dispar NTB Lalu Kusuma Wijaya mengatakan bersih-bersih ini sebagai pembelajaran. ”Agar wisatawan mendapatkan kenyamanan di pantai Senggigi,” ujarnya.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, kawasan wisata pantai Senggigi menurun pamornya setelah semakin populernya kawasan wisata Sekotong di bagian selatan Lombok Barat, kawasan wisata pulau Gili Indah – Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Gili Air – di Kabupaten Lombok Utara, kawasan wisata Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah dan pantai Pink dan lembah Sembalun di Kabupaten Lombok Timur.

Selain itu, Dispar NTB juga menyiapkan tambahan mushola, toilet sebanyak empat bilik, tiga unit kendaraan pengangkut sampah terdiri dari dua unit roda tiga dan satu unit mobil pick up ditambah satu unit bak sampahnya.

Kepala Dusun Senggigi Haji Farhan mengatakan keberadaan perahu nelayan yang diparkir di pantai Senggigi selama beberapa bulan pada musim tertentu dianggap mengganggu destinasi pantai yang sudah populer. ”Warga di sini belum sepenuhnya menikmati hasil pariwisata,” ucapnya. Karena dari 620 kepala keluarga sebagian besar masih bergantung nafkahnya dari pertanian.

Di pantai Senggigi, sebagian penduduk bekerja menyewakan tenda berukuran dua kali 2,5 meter dan tikar terutama saat menjelang waktu sunset. Di sana ada 12 anggota perkumpulan usaha dibatasi masing-masing mengelola 10 tenda dan 10 perahu kano. Misalnya Wahyu yang mengelola lima tenda terpal yang dibentangkan sebagai peneduh dan tikar untuk tempat duduknya, bisa mendapatkan sewa Rp 15 ribu per tenda. Adapun sewa kano yang berukuran kecil cukup satu orang Rp 20 ribu dan yang ukuran dua orang Rp 40 ribu. ”Kalau menjelang sunset banyak datang,” katanya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here