MATARAM – Saat ini tidak ada situasi lemah yang sangat dikawatirkan terhadap perdagangan eceran di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB). Kecuali barang-barang komunikasi, semuanya dalam kondisi stabil. Misalnya omset 40 orang pedagangnya seluruhnya berkisar rata-rata Rp 125 miliar. Memang terjadi penurunan jika dibandingkan bulan Januari 2017 yang omsetnya mencapai Rp 150 miliar, menurun sejak Februari 2017 menjadi Rp 100 miliar tetapi kemudian naik lagi pada bulan Maret 2017 menjadi Rp 125 miliar.

Ini hasil survey perdagangan eceran (SPE) terhadap para kelompok pedagang makanan, minuman, tembakau, kemudian kelompok pedagang pakaian dan kelompok peralatan komunikasi. Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB. ”Kami masih cukup confidence tidak ada hal yang sangat dikawatirkan, ” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB Prijono, selesai rapat kordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah Nusa Tenggara Barat (TPID NTB) di kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) NTB, Selasa 26 September 2017 sore.

Dari pantauan terhadap kelompok pedagang makanan, minuman, tembakau didapat omsetnya rata – rata sebulan sekitar Rp 3,5 miliar. Kemudian kelompok pakaian mencapai Rp 12,5 miliar dan peralatan komunikasi dari semula Rp 5 miliar menjadi Rp 3 miliar.

Data grafik yang diberikan BI NTB tersebut baru menggambarkan perkembangan per bulan dan belum bisa di cari pertumbuhan tahun per tahunya karena data tahun lalu hanya 25 responden dan tahun ini 40 responden. Secara total pedagang yang menjadi responden, omset penjualan masih cukup bagus, meski sedikit melambat kalau dilihat secara tren bulanan.

Kalau di bagi per kelompok, yang menunjukkan tren peningkatan sampai dengan periode terakhir September 2017data sementara yang agak sedikit melambat adalah makanan, minuman dan tembakau; dan barang lainnya. Sedangkan yang menunjukkan tren agak turun suku cadang dan aksesoris; bahan bakar kendaraan bermotor; perlengkapan rumah tangga lainnya, dan peralatan dan komunikasi di toko; serta barang budaya dan rekreasi. Dua bulan terakhir menurun signifikan.

SPE merupakan survei penjualan eceran terhadap 40 pedagang di Kota Mataram secara bulanan untuk memperoleh informasi pergerakan dan kecenderungan pengeluaran masyarakat (consumtion spending), serta sebagai salah satu indikator dini yang digunakan untuk mengetahui sumber tekanan inflasi dari sisi permintaan. SPE ini dimulai uji coba dari bulan Juli 2016 mencakup 25 responden kemudian mulai Januari 2017 menjadi 40 responden.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here