MATARAM – Setelah selesai membantu pembangunan sarana pengolah limbah ternak di Kabupaten Lombok Utara (KLU) senilai Rp 250 juta, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (KPw BI NTB) juga membangun sarana pengolahan limbah ternak senilai Rp 150 juta untuk Kelompok Ternak Liang Bukal, Desa Batu Tering Kabupaten Sumbawa, Sabtu 9 September 2017.

Kelompok ternak Liang Bukal dipilih sebagai percontohan pengembangan konsep peternakan terintegrasi di Kabupaten Sumbawa, yang juga merupakan kelompok ternak binaan KPw BI NTB.

Bantuan yang diberikan Bank Indonesia berupa alat biodigester berkapasitas 17 meter kubik. Bantuan biodigester tersebut lengkap terdiri dari bak penampung limbah ternak, pengolahan pupuk padat dan cair, generator alat pembangkit listrik dari biogas kotoran tenak berkapasitas 1.000 watt, dan alat pengemasan pupuk bio urine. Bantuan tersebut melengkapi serangkaian bantuan yang telah diberikan BI sebelumnya berupa pembuatan jaringan pipa dari sumber mata air ke desa, serta pembuatan kandang komunal.

Menurut Kepala KPw BI NTB Peijono, sektor pertanian dan peternakan merupakan sektor utama penopang perekonomian Kabupaten Sumbawa. Sehingga kedua sektor tersebut pun turut andil dalam menciptakan lapangan kerja dan menjaga stabilitas harga pangan. Untuk mendukung optimalisasi kedua sektor itulah, KPw BI Provinsi NTB membangun sarana pengolahan limbah ternak di kandang komunal kelompok ternak sapi Liang Bukal.

Prijono menghimbau agar warga dapat melakukan ternak dengan metode dikandangkan dibandingkan dengan metode dilepas. Di Sumbawa sendiri budidaya sapi masih menjadi usaha sampingan, dimana sapi dilepas dan tidak dipantau. Dengan metode dikandangkan, peternak dapat memperoleh banyak keuntungan. ‘’Lebih mudah mengontrol kebutuhan pakan, sehingga kenaikan bobot ternak lebih terukur,’’ katanya.

Dalam jangka panjang, metode dikandangkan tersebut akan memudahkan warga dalam memanfaatkan kotoran sapi baik padat maupun cair untuk dijadikan pupuk melalui metode fermentasi. Selama ini kotoran sapi menjadi limbah dan mencemari lingkungan. Padahal apabila diolah secara tepat, kotoran tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi tinggi sekaligus mendorong pertanian organik ramah lingkungan.

Dengan kapasitas puluhan ekor sapi yang ada, diperkirakan mampu menghasilkan pupuk sekitar Sembilan ton per bulannya, sehingga cukup untuk menjadi pupuk dasar bagi Sembilan hektar pertanian.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa sangat mendukung program ini khususnya dalam hal mengintegrasikan pertanian dan peternakan. Limbah peternakan seperti kotoran sapi dapat digunakan untuk pupuk pertanian. Sebaliknya, limbah pertanian seperti bonggol jagung dan batang jagung dapat digunakan untuk pakan konsentrat ternak. Dengan konsep tersebut maka tidak akan ada sumber daya yang terbuang, sehingga baik peternak maupun petani dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri.

Bank Indonesia juga menyerahkan hadiah kepada tiga dusun yang dinilai berhasil melakukan gerakan penanaman hortikultura, sayur-sayuran, dan buah-buahan di pekarangan rumah. Gerakan tersebut telah dilakukan sejak awal tahun untuk mendorong masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani untuk menanam tanaman hortikultura secara organik. Sayuran yang dihasilkan dapat dikonsumsi untuk mengurangi pengeluaran warga, serta lebih sehat Karena menggunakan metode organik.

BI berharap gerakan tersebut dapat terus dilakukan warga, sehingga dapat meningkatan pasokan pangan yang pada akhirnya dapat mendukung stabilitas harga.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here