LONDON – Setelah melewati dua hari penuh berkumpul membangun jejaring, bertukar pikiran sambil berkolaborasi untuk pribadi, akademik dan professional, pelaksanaan gabungan Konvensi Internasional Akademisi Indonesia atau Indonesian Scholars International Convention/ISIC dari Perhimpunan Pelajar Indonesia-Inggris Raya (PPI-UK) dan Simposium Internasional/SI ke-9 dari PPI-Dunia (ISIC-SI 2017) dilanjutkan pada tahapan berikutnya.

Peserta ISIC-SI 2017 memfokuskan diri dalam mengusung misi bersama yaitu menginspirasi generasi muda Indonesia, bukan hanya yang sedang menuntut ilmu di Inggris Raya ini, tapi juga yang berada di seluruh dunia dan Tanah Air.

Penyelenggaraan ISIC-SI 2017 bertemakan: “Memacu Potensi Nasional Indonesia Menuju Tahun 2030” diangkat dari berbagai sumber, termasuk The Mckinsey Global Institute, yang mengatakan bahwa bonus demografi yang akan Indonesia alami mencapai puncaknya pada 2030. Fenomena ini terjadi bila penduduk usia-kerja, yaitu antara 15-64 tahun melebihi dari mereka yang berusia tidak bekerja.

Pada kata sambutannya, Samuel Leonardo Putra yang ketua panitia pelaksana ISIC-SI 2017 mengatakan, “Fenomena tersebut memberikan kesempatan dan juga tantangan,” begitu imbuhnya. Selain sibuk berorganisasi, Samuel sedang mengerjakan riset untuk PhD.-nya, setelah menyandang predikat Summa Cum Laude – penghargaan bergengsi dari Universitas Oxford tahun lalu.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris, Republik Irlandia dan IMO: Dr Rizal Sukma pada pidato pembukaannya mengakui bahwa mahasiswa PPI masa kini menghadapi berbagai tantangan, namun pula membuka kesempatan bagi mereka untuk mengatasinya dengan ilmu mereka, pungkasnya, “Seiring dengan mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang meraih tingkat S-2 atau master dan sedang membuat tugas disertasi, saat di mana terasa penulisan itu sangat mencemaskan yang terasa, – seperti itulah ‘tanggung jawab terakhirnya’.”

Untuk itu, Rizal mengingatkan, “10 tahun dari sekarang, coba melihat kembali ke belakang, di saat penulisan dulu dan menemukan ‘karya hebat/masterpice’ itu berubah 180 derajat, bahwa hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya, bahkan itu, pada kenyataannya, merupakan ‘awal profesi’ sebagai sarjana.”

Konvensi ISIC-SI 2017 diikuti lebih dari 500 mahasiswa dan sarjana Indonesia yang mewakili lebih dari 50 negara serta 70.000 mahasiswa dan sarjana yang sedang menuntut ilmu di berbagai penjuru dunia.

Pada sesi diskusi panel yang bertema ‘Cara Terbaik Mempersiapkan Generasi Muda Indonesia dalam Menghadapi Bonus Demografi di tahun 2030’, Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi mempresentasikan transformasi propinsi NTB menjadi propinsi dengan Human Development Index tertinggi di tahun 2015 dan pelaksana e-procurement terbaik di Indonesia.

Gubernur memaparkan pendidikan menjadi kunci utama kesuksesan NTB dan pendidikan juga menjadi senjata melawan kemiskinan. Oleh karena itu, 20 persen dari anggaran belanja NTB dialokasikan untuk pendidikan.” Dalam merancang program pembangunan NTB, dia melibatkan pemuda di mana mereka bisa berperan secara signifikan. “Selain pendidikan, dukungan masyarakat dalam membangun nilai-nilai kebersamaan terutama nilai-nilai agama membuat NTB sukses,” kata Zainul Majdi.

CEO GE Indonesia Handry Santiago selaku panelis sesi ini mengatakan, “Global Competitiveness Index (GCI) Indonesia masih rendah dibanding Negara-negara Asia Tenggara lainnya. Rendahnya GCI menunjukkan rendahnya kesejahteraan masyarakat.” Ini artinya kita belum memiliki kepemimpinan global, dia mengingatkan, “Bonus demografi tidak ada artinya tanpa akselerasi keterampilan dan kita harus bisa mengambil manfaat dari keberagaman yang ada di dunia global,” menurutnya, “Kita harus memotong rantai di mana para pelajar yang memiliki ilmu dan keahlian tinggi dari luar negeri pulang dan menunggu serta berharap ada kesempatan kerja yang ditawarkan kepada mereka. Hal ini harus diubah dengan memulai dari diri sendiri, harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari generasi sebelum kita, sehingga generasi setelah kita akan memiliki kesempatan yang baru.”

Pula dalam diskusi panel ini, Dr. David Johnson, Reader in Comparative and International Education – Pencermat Pendidikan Komparatif dan Internasional dari Universitas Oxford berurun saran sebagai berikut: “Kita harus mengasah kapak kita,” dia menambahkan, “Untuk membangun Indonesia kita harus melakukan apa yang negara-negara lain tidak lakukan – think outside the box. Kita bukan hanya harus menggunakan keterampilan dan ilmu yang kita miliki tetapi kita juga harus menyebarkan keterampilan dan ilmu tersebut secara kolektif dan distributif.”

Kemudian, Sudirman Said, ex Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral memberikan penutup dalam sesi diskusi panel Hari ke-3 dengan memberi dorongan dan menyampaikan, pelajar Indonesia yang saat ini sedang belajar di luar negeri untuk ketika sepulangnya kembali ke Indonesia berkontribusi di bagian hulu pembangunan, duduk di kursi parlemen sebagai pembuat kebijakan,” dengan memberikan penjelasan bahwa, menurutnya, “Karena sebagian besar pelajar Indonesia lulusan luar negeri berkontribusi di bagian hilir pembangunan di mana ide serta inovasi yang mereka ajukan tidak akan dapat terealisasi jika tidak ada persetujuan dari bagian hulu pembangunan atau pembuat kebijakan.”

Pada sesi parallel berdurasi delapan jam, ISIC-SI 2017 bidang Kelompok Lingkar Studi Papua (LSP) berdiskusi dengan 6 orang panelis yang masing-masing berangkat dari latar yang berbeda: tenaga pendidik, akademisi, wartawan dan wakil dari salah satu LSM lokal di Papua. Semua panelis menyoroti sistem pendidikan di Papua secara umum lewat paparan, diskusi meja bundar dan menghasilkan: 3 rencana utama untuk Papua, yakni 1) menerbitkan buku yang berisi pengalaman-pengalaman dari tenaga pendidik selama mereka mengajar di Papua berbagi kendala dan solusi, 2) bekerjasama dengan satu media untuk mempublikasi kegiatan LSP, dan 3) membuat proyek rintisan untuk meningkatkan pendidikan Papua. Semua itu ditargetkan untuk dilaksanakan dalam jangka satu tahun ke depan.

Pada ISIC-SI 2017 ini, panitia menyelenggarakan Kompetisi Karya Ilmiah yang diperuntukkan bagi pelajar dan peneliti Indonesia di seluruh dunia. Penyelenggara menerima lebih dari 800 abstrak dan terdapat 40 karya tulis terpilih berdasarkan kualitas dan relevansinya pada tema ISIC-SI 2017 ini untuk dipresentasikan di depan seluruh audiens.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here