SURABAYA – Pekan ini, Sabtu – Ahad 21-22 Juli 2017, Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi kembali melakukan lawatan silaturahim ke pondok-pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur.. Setelah siangnya, Sabtu 22 Juli 2017 bertemu bekas Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan di rumahnya, sorenya berada di Pondok Pesantren Masyithoh di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Ponpes Sawahan Mojosari Mojokerto dan malam harinya di Ponpes Hidayatulah Surabaya pimpinan H Abdurrahman.

Di Ponpes Masyitoh pimpinan KH. Abdul Wahid Rozak, Zainul Majdi yang kesehariannya disebut tuan guru bajang (TGB) dan juga menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (organisasi pendidikan sosial dan dakwah Islamiyah) mengadakan acara Ngaji Bareng TGB dengan tema “Hidup Bahagia Barokah Al Quran’’.

Kemudian, di Ponpes Sawahan pimpinan KH Ali Masahadi, TGB mengingatkan agar berhati-hati menyerap ilmu yang tidak jelas sanad atau sumbernya. Seperti yang tersebar di media sosial maupun koran dan majalah saat ini. ‘’Karena, tidak sedikit ilmu yang dimuat dan diperoleh dalam media tersebut tidak jelas sanad dan sumbernya,’’ katanya. Walaupun ada sebagian ilmu yang memang benar dan bermanfaat.

Seperti dirilis Humas Pemerintah Provinsi NTB, TGB menjelaskan bahwa ilmu yang baik dan bermanfaat adalah ilmu yang diperoleh dari sanad atau garis yang jelas. Jika ilmu yang dipelajari memiliki sanad yang jelas maka ilmu itu ibarat pipa yang mengalirkan air dari hulu ke hilir. ‘’Kemurniannya akan terjaga dan tidak terkontaminasi oleh apapun, ‘’ ujarnya.

Sebaliknya ilmu yang tidak jelas sanad atau garisnya, kata TGB maka dapat ditafsirkan sembarangan ataupun mengalami pembelokan makna dari yang sesungguhnya.

Sebelumnya ia menyebutkan bahwa Ponpes Sawahan Mojosari itu sendiri, memiliki hubungan keilmuan yang sangat erat (sanad) antara ilmu yang diperoleh kakeknya Syaikh Tuan Guru Haji Zainudin Abdul Madjid yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan di Pancor Lombok Timur dengan KH. Ali Masahadi, pengasuh Ponpes Sawahan itu.

TGB juga menjelaskan bahwa sanad yang jelas akan mengantarkan penuntut ilmu mendapatkan penjelasan utuh terhadap ilmu yang dipelajari. Lain halnya dengan ilmu yang diperoleh dari sanad yang tidak jelas, akan menimbulkan multi tafsir yang menyebabkan ilmu tersebut tidak bermanfaat. Karena itu, TGB mengingatkan kepada seluruh santri agar berhati-hati menyerap ilmu yang tidak jelas sanadnya.

Lebih lanjut TGB, mengajak kepada semua hadirin, dalam menjalani kehidupan untuk selalu mengedepankan kasih sayang. Sebagaimana yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW ketika menjalankan dakwahnya di masyarakat Arab Badui yang pada zaman itu terkenal dengan sikap kasar, tidak menghargai wanita dan anak anak. TGB kemudian menguraikan bahwa Nabi Muhammad dalam menjalankan amanah sebagai rasul di dunia telah ditanamkan dalam dada beliau kasih sayang oleh Allah Swt sebagaimana yang disebutkan dalam salah satu hadits.
“Kasih sayang yang ditanamkan dalam diri rasul adalah bagian kasih sayang Allah yang seluas bumi dan langit,” ucapnya.

TGB memberi dorongan semangat kepada para santri agar terus istiqomah dalam belajar dan menuntut ilmu. Motivasi yang diberikan tidak terlepas dari janji Allah dalam salah satu surat dalam Al-qur’an yang artinya bahwa satu kesusahan akan dibalas dengan dua kemudahan. Jadi pesan mendalam yang disampaikan adalah bahwa setiap santri tidak mudah putus asa dalam menimba ilmu.

Di Ponpes Masyitoh, ia menyebutkan bahwa lembaga pendidikan adalah bagian dari investasi.
“Kalau mau berinvestasi maka carilah investasi yg paling panjang bahkan tidak terputus selama lamanya,” katanya.

Investasi tersebut adalah amal jariyah berupa sadaqah dan ilmu yang bermanfaat. Menurutnya, salah satu Investasi yang teramat besar ganjarannya adalah investasi dalam mendidik anak anak dan generasi muda sebagai penghafal Al Quran. Karena ganjarannya sangat besar sebagaimana juga janji Allah dalam Al Quran yang artinya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah yang akan menjaganya.

TGB juga menegaskan bahwa barang siapa yang menjaga dan menghafal Al quran maka akan dijauhkan dari tempat tempat yang dilarang karena Al Quran sebagai penjaga dan benteng diri kita dari segala keburukan dan maksiat. “Jika 144 surah atau 30 juz dalam Al Quran di hafal maka makin kokoh benteng dalam diri kita,” ujarnya.

TGB yang berusia 45 tahun ini juga mengingatkan kepada para jamaah yang memadati tempat acara, bahwa generasi yang dibutuhkan ke depan tidak hanya generasi yang pandai berhitung tapi generasi yang tahu apa tugasnya, yaitu menegakkan amar makruf nahi munkar.

Saat itu, TGB juga menjelaskan hadist yang mengilustrasikan umat manusia yang terbagi dalam dua kelompok dalam sebuah kapal yang berlayar mengarungi lautan. Diuraikannya bahwa kelompok pertama di gambarkan berada di bagian bawah kapal dan ingin melubangi kapal supaya mudah untuk mendapatkan air tanpa memikirkan kelompok lain yang berada diatas kapal. Apabila kapal bocor dan tenggelam maka yang jadi korban adalah semua penumpang kapal. ‘’Bukan hanya pelaku atau kelompok yang melubangi kapal tersebut, ‘’ katanya.

Jika kapal yang berlayar itu diumpamakan NKRI, maka semua kelompok, semua etnis dan semua anak bangsa ini, harus saling mengingatkan untuk menjaga NKRI ini supaya tidak tenggelam. “Semua kelompok hendaknya menghadirkan kebaikan dalam kehidupan NKRI,” ujarnya.

Umat islam yang mayoritas haruslah bersama sama umat lain dapat bekerja sama dalam bingkai NKRI, ujar TGB. Diingatkannya kembali, bahwa perbedaan bukan hanya terjadi pada zaman ini saja. Namun sudah ada sejak jaman rasulullah. Karenanya, perbedaan tidak boleh dijadikan ajang menimbulkan perpecahan.

Didalam Islam, kata TGB setiap saat kita dituntun untuk selalu optimis dalam menghadirkan kebaikan. Untuk itu, TGB berpesan agar umat islam selalu menebarkan kasih sayang dan kebaikan. Diakhir tausiyahnya, TGB juga memberikan panduan menyikapi isu perpecahan ummat dan bangsa saat ini, yaitu dengan cara menjauhi saling berburuk sangka dan saling menyalahkan. Kemudian Ikatan sesama umat dan anak bangsa hendaknya didasari atas 5 pondasi, yakni : ad-din (agama), persaudaraan, hubungan kekerabatan, mahabbah atau saling mencintai

Sesuai rilis Humas Pemerintah Provinsi NTB, menurut Dahlan Iskan, biasanya pemimpin berlatar belakang ulama cenderung lemah di manajerial. ‘’Tetapi berbeda dengan TGB, justeru menjadi sosok yang komplit, ‘’ ujarnya.

TGB disebutnya kuat disisi keagamaan juga kuat disisi manajerial, tegasnya. Terbukti dengan usia muda mampu memimpin selama dua periode dan mampu membawa NTB menjadi lebih baik dengan menurunnya angka kemiskinan di Provinsi NTB dari 25 persen pada awal tahun 2007/2008 menjadi 16 persen, pada awal tahun 2017 ini.

Untuk itu, kata Dahlan Iskan, Tuan Guru Bajang harus bersiap untuk tidak hanya menjadi milik Lombok atau NTB saja. ‘’Tapi menjadi milik Indonesia, ‘’ ujarnya.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here