MATARAM – Penghasilan tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) di luar negeri selama dua triwulan Januari – Juni 2017 mencapai Rp 590,586 miliar. Jumlah tersebut yang dikirimkan (remitansi) ke keluarganya di kampung halamannya.

Dari remitansi melalui bank yang dapat dirincikan asal negara tempat mereka bekerja, terbanyak jumlah tersebut dikirimkan oleh mereka yang bekerja di Saudi Arabia. Nilainya mencapai Rp 65,55 miliar atau 50,44 persen disusul mereka yang bekerja di Malaysia sebanyak Rp 7,90 miliar atau 6,08 persen dan urutan ketiga adalah asal Uni Emirat Arab sebanyak Rp 6,8 miliar atau 5,26 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik NTB Endang Tri Wahyuningsih menjelaskan bahwa remitansi dilakukan melalui bank dan pos. Tetapi yang dapat diketahui rinciannya yang dilakukan melalui bank. ”Ada juga yang berasal dari Jepang, Qatar, Kuwait, Hongkong, Singapura dan lainnya,” kata Endang Tri Wahyuningsih, Selasa 4 Juli 2017.

Selain itu juga ada yang bekerja di negara Eropah dan Amersika Serikat yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang nilai remitansinya mencapai Rp 43,484 miliar. ”Secara keseluruhan terbanyak dilakukan penerimaannya di kota Mataram, Sumbawa dan Bima,” ujar Endang Tri Wahyuningsih.

Sesuai data Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Mataram jumlah pekerja terbanyak sekitar 90 persen diberangkatkan ke Malaysia. Tahun 2016 jumlah pekerja resmi asal NTB di luar negeri mencapai 22.902 orang. Jumlah tersebut sudah menurun dibanding 2015 yang mencapai 28 ribuan orang.

Menurut Kepala BP3TKI Mataram Mucharom Ashadi, selama lima bulan pertama Januari – Mei 2017 ada 7.829 orang calon pekerja yang diproses pemberangkatannya untuk bekerja formal 7.821 orang laki-laki dan 166 orang perempuan. Adapun yang bekerja informal hanya delapan orang perempuan.

Dikaitkan dengan kemampuan penduduk NTB yang mayoritas petani, BPS NTB juga mencatat selama bulan Juni 2017, daya beli petani di NTB lebih tinggi dari pembiayaan yang dikeluarkan untuk produksinya. Jika penghitungan daya beli petani atau disebut sebagai Nilai Tukar Petani (NTP-biaya produksi tanaman dan biaya hidupnya) menggunakan tahun dasar 2012=100 tercatat NTP petani NTB mencapai 105,09 atau meningkat 0,47 persen dibandingkan bulan Mei 2017 yang mencapai 104,37.

Sedangkan Nilai Tukar Usaha Pertanian yang diperoleh dari hasil bagi antara indeks yang diterima petani dengan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM), pada bulan Juni 2017 tercatat 117,03 yang berarti mengalami peningkatan 0,47 persen dibandingkan bulan Mei 2017 dengan Nilai Tukar Usaha Pertanian 116,49.

Secara terinci tercatat Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 104,98; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 90,20; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 93,32; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 120,55 dan Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) 105,28. Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) dirinci menjadi NTP Perikanan Tangkap (NTN) tercatat 113,72 dan NTP Perikanan Budidaya (NTPi) tercatat 91,66. Secara gabungan, Nilai Tukar Petani Provinsi NTB sebesar 105,09 yang berarti NTP bulan Juni 2017 mengalami peningkatan 0,68 persen bila dibandingkan dengan bulan Mei 2017 dengan Nilai Tukar Petani sebesar 104,37.

Dari 33 provinsi yang dilaporkan pada bulan Juni 2017, terdapat 12 provinsi yang mengalami peningkatan NTP, 20 provinsi mengalami penurunan NTP dan 1 provinsi tidak mengalami perubahan. Peningkatan tertinggi terjadi di Provinsi Banten yaitu sebesar 1,34 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Bangka Belitung yaitu sebesar 1,42 persen, dimana indeks yang diterima petani meningkat sebesar 1,23 persen.

Selanjutnya, Endang Tri Wahyuningsih juga menjelaskan bahwa pada bulan Juni 2017, terjadi inflasi di daerah perdesaan di NTB sebesar 0,58 persen. Inflasi disebabkan karena terjadinya peningkatan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pada semua kelompok yang terdiri dari Sandang1,55 persen, Perumahan 0,78 persen, Bahan Makanan sebesar 0,72 persen, Kesehatan 0,53 persen, Transportasi dan Komunikasi 0,40 persen, Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0,20 persen serta Makanan Jadi 0,12 persen.(*/sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here