MATARAM – Hari ini, Ahad 2 Juli 2017, seusai zikir di makam Batu Layar, Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid dan rombongan berjalan menuju pusat acara lebaran topat di Pantai Duduk. Jarak makam dengan lokasi ini sekitar 200 meter. Iring-iringan Fauzan Khalid dikawal oleh puluhan tokoh agama, para pejabat, kesenian cupak gurantang, dan topat agung.

Di lokasi pantai Duduk sendiri sejak pagi harinya, masyarakat sudah berkumpul menanti acara dimulai. Ibu-ibu terlihat mempersiapkan dulang sesaji. Sembari menanti, warga dihibur dengan kesenian seperti lagu cilokaq sasak islami dan hadrah dari salah satu ponpes di Gunung Sari.

Tak lama berselang, Fauzan Khalid dan rombongan tiba di lokasi acara. Saat memasuki gerbang, dikalungi selendang hijau oleh tokoh agama setempat. Setelah itu menempati podium kehormatan. Sebelum acara dimulai, para tamu disuguhkan tari-tarian Islami dan Rudat.

Saat Fauzan Khalid tiba di pusat acara lebaran topat, nampak lima orang tetua berdiri menyambut di depan gerbang. Tetua ini menggunakan pakaian jas hitam, berpeci, berkain sarung dan berselempangkan sorban di pundak. Mereka terdiri dari tokoh agama dan tokoh masyarakat yang dianggap layak menyambut tamu selevel Bupati. Mereka inilah yang disebut dengan pemucuk.

Pemucuk adalah istilah Barisan terdepan yang terdiri dari tokoh agama dan tokoh masyarakat yang mengawal prosesi adat. Di lebaran Topat kali ini selain mengawal jalannya acara Pemucuk juga mengalungkan Selempang kepada Bupati Lobar tanda dimulainya Prosesi Adat.
Dalam prosesi Lebaran Topat kali ini diturunkan 5 orang Pemucuk diringi sejumlah gadis di belakangnya. Herman, Tetua Pemucuk menjelaskan, tugas pemucuk antara lain adalah menyampaikan kepada bupati sebagai bentuk laporan kesiapan dimulainya acara.

Ketua Panita Penyelenggara, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi menjelaskan, kegiatan lebaran topat ini dimulai dengan prosesi nyekar makam. Para tamu termasuk bupati menggunakan cidomo menuju makam. Digunakannya cidomo, ujar Ispan, untuk mengingat kembali para leluhur dulu yang dari berbagai kabupaten datang ke batu layar menggunakan cidomo saat lebaran topat. Dikatakan juga, kegiatan ini dihajatkan untuk menaikkan angka kunjungan wisata ke Lobar. Lebaran topat ini merupakan salah satu even untuk menggerakkan halal tourism destination. “Tahun kemarin alhamdulillah tidak ada yang low season,” katanya.

Fauzan Khalid mengatakan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam setiap lebaran topat. Pertama, ujarnya, secara internal Lobar punya kewajiban memelihara tradisi turun temurun ini. Dalam tradisi ini tertanam nilai keagamaan yang dibungkus dengan nilai budaya. “Mudahan kedepannya pelaksanaan lebaran topat ini bisa ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya,” ujarnya.

Yang kedua, lanjutnya, even lebaran topat adalah momen untuk memperkenalkan budaya Lobar yang sangat familiar dengan nilai-nilai budaya dan keagamaan di Lobar. “Mudahan ini bisa jadi contoh untuk meningkatkan nilai2 silaturahmi di Lobar,” ucapnya.

Dijelaskan, even lebaran topat dan perang topat merupakan budaya adiluhung masyarakat Lobar yang bisa dicontoh masyarakat luar, di mana di dalamnya terdapat nilai-nilai kebhinekaan. “Hanya dengan silaturahmi akan timbul kebersamaan, dari kebersamaan bisa timbul gotong royong untuk membangun masyarakat agar semakin maju,” katanya.

Acara seremonial ini diakhiri pembacaan doa oleh Ahmad Hanafi yang kemudian dilanjutkan pemotongan ketupat agung oleh Fauzan Khalid.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here