MATARAM – Mengisi acara Meet & Greet menjelang buka puasa dalam rangkaian Festival Pesona Khazanah Ramadhan 2017 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), Tere Liye hadir di Ball Room Islamic Center NTB, Ahad 18 Juni 2017 petang. Di sana, penulis 27 karya novel ini bertemu anak-anak muda di Lombok selama hampir dua jam.

Tere Liye yang berada di Lombok untuk yang kesekian kalinya, mengaku terkesan. “Ini kesekian kalinya saya datang ke Lombok, dan Lombok sangat spesial sekali bagi seorang Tere Liye,” katanya.

Kekagumannya terhadap keindahan alam, seni dan budaya, serta kehidupan sehari-hari masyarakat di Pulau Lombok Itu bahkan telah dituangkan dalam sejumlah karya novel miliknya, yang mengambil setting lokasi cerita di beberapa tempat di Pulau Lombok dan juga Pulau Sumbawa. Seperti novel yang berjudul “Sunset Bersama Rosie” di Lombok, dan novel “Tentang Kamu” yang bersetting di Pulau Bungin, Sumbawa. ”Saya juga tidak mengerti, entah kenapa kalau mau setting yang eksotis, langsung yang teringat di kepala saya adalah Pulau Lombok dan Sumbawa,” ujarTere.

Tere Liye mengaku pernah menjelajahi destinasi wisata maupun budaya yang ada di Lombok pada tahun 2005 lalu. Selama tujuh hari, hampir seluruh tempat wisata mulai dari Pantai Senggigi, kawasan Gili Indah di Lombok Utara, hingga mendaki Gunung Rinjani pun dia lakukan.

Berbagi riwayatnya menjadi seorang penulis novel, sewaktu berbicara mengenai karyanya, Tere Liye mengatakan dunia kepenulisan yang dia jalani adalah penulis novel fiksi. Tere mengungkapkan alasannya terjun ke dunia penulisan, karena ingin memberikan alternatif bacaan kepada masyarakat.

Menurutnya, kunci menulis itu adalah latihan. Tere mengibaratkan seperti ibu-ibu yang pandai memasak lantaran terbiasa memasak. Sebaliknya, bapak-bapak tidak bisa memasak karena tidak pernah melakukan itu. “Sama dengan menulis, semakin terlatih, maka semakin gampang terimajinasi,” ucap Tere.

Disebutkan, penulis novel di Indonesia masih terbilang sangat terbatas. Padahal menurutnya, novel bisa menjadi alternatif bacaan bagi para generasi muda. “Saya memutuskan menulis novel sejak tahun 2005,” kata Tere.

Dikatakannya, seorang penulis memiliki tanggungjawab dalam memberikan alternatif bacaan bagi masyarakat. “Berapa banyak buku yang terbit dan laku? Sedikit sekali dibanding gadget dan tv. Kalau datang ke toko buku, ya itu-itu saja,” ucap Tere.

Tere menilai setiap orang sejatinya bisa menjadi penulis. Manusia modern saat ini bisa menulis minimal seribu kata setiap harinya, baik menulis di Whatsapp, BBM, Instagram, dan sosial media lainnya. Jika hal ini dikonversi dalam sebuah tulisan novel, tentu akan menambah penulis-penulis muda di Indonesia.

Realitanya, saat ini anak muda lebih sering menghabiskan waktu dengan dunia maya (internet). Hal ini bukan kesalahan anak-anak muda, tetapi juga para pemangku kepentingan, termasuk dia sebagai penulis.

Dari 27 karya yang dihasilkan, terbagi dalam beberapa genre yakni novel roman seperti “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”, yang terinspirasi oleh Buya Hamka. Kemudian ada genre anak-anak dan keluarga seperti “Hapalan Shalat Delisa” dan “Moga Bunda Disayang Allah”, serta novel bergenre fantasi berjudul “Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang”. “Semakin ke sini saya menulis banyak genre berbeda. Salah satunya “Rindu”. Tetapi ini bukan soal cinta anak muda,” ujarnya.

Novel “Rindu” tersebut menceritakan perjalanan haji pada masa sebelum kemerdekaan. Tere mengaku tidak memiliki ambisi apapun dalam menulis. Sederhana saja, dia hanya menekankan pentingnya memberikan alternatif bacaan.

Hani, warga Mataram, bertanya bagaimana sikap Tere menanggapi cibiran dan kritikan? Menurut Tere jangankan dia, seorang penulis blog, bahkan penulis status di sosial media juga memiliki kans yang sama untuk tidak disukai pembacanya. “Cara terbaik menanggapinya adalah terus produktif, dan buktikan tulisan kita lebih baik,” sarannya.

Salah seorang yang hadir, warga Mataram Laili justru menyampaikan keluhannya terhadap isi cerita novel “Tentang Kamu”. Laili yang mengaku membaca novel tersebut secara non stop dalam kurun waktu 12 jam, merasa akhir cerita yang ditampilkan kurang bagus.

Tere mengapresiasi Laili yang menghabiskan waktunya membaca novel dalam kurang dari sehari. “Masalah kamu itu merasa novelnya kurang tebal. Bayangin, dia baca 12 jam nonstop, tapi protes endingnya,” ujar Tere.

Menurut Tere, akhir cerita dalam sebuah novel tentu tidak bisa menyenangkan semua pembaca. Pun dengan dirinya yang pernah kurang sreg dengan cerita di novel “Siti Nurbaya”.(*/sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here