MATARAM -Upaya Bank Indonesia untuk membangkitkan kembali kejayaan bawang putih di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), diwujudkan melalui pengembangan klaster bawang putih yang berlokasi di kecamatan Sembalun.

Penanaman perdana dilakukan Ahad, 7 Mei 2017 yang dilakukan bersama – sama oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB Prijono dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur Zaini, Kepala Sub Divisi Kredit Produktif Bank NTB Ika Ranti, dan kelompok tani Makem. Penanaman perdana ini adalah tindak lanjut dari serangkaian sosialisasi kepada petani bawang putih Sembalun sejak pertengahan Februari 2017 lalu.

BI, menurut Prijono, melihat bahwa tingkat konsumsi bawang putih masyarakat di Indonesia cukup tinggi, sebesar 400 ribu ton per tahun. Namun sayangnya hal tersebut masih belum diimbangi dengan kapasitas produksi yang mencukupi. Data produksi bawang putih Nasional pada tahun 2015 tercatat hanya sebesar 20 ribu ton/tahun, atau setara dengan 5 persen dari total kebutuhan konsumsi. ”Hal tersebut akhirnya berdampak pada tingginya impor bawang putih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Prijono.

Dalam jangka panjang, impor bawang putih yang tinggi tersebut berisiko memberikan tekanan kepada nilai tukar rupiah.

Melihat hal tersebut, Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB berinisiatif untuk membangkitkan kembali kejayaan bawang putih nasional, dengan daerah Sembalun menjadi ujung tombok peningkatan produksi bawang putih tersebut. Provinsi NTB, khususnya daerah Sembalun, berpotensi menjadi sentra produksi bawang putih nasional mengingat 48 persen produksi bawang putih nasional disumbang oleh Provinsi NTB.

Langkah nyata BI untuk membangkitkan kejayaan bawang putih tersebut diwujudkan dengan pelatihan kepada Kelompok Tani Makem yang, untuk pengolahan pupuk, lahan, hingga penanaman bawang putih dengan teknik total organik di lahan demplot seluas 1 ha 10 are.

Penggunakan teknik total organik menjadi hal yang penting, karena apabila dilakukan dengan penggunaan pupuk kimia dapat berdampak pada penurunan kualitas tanah. Hal itu lambat laun akan menurunkan kualitas dan ukuran umbi dari bawang putih. Selain itu kelompok tani juga didukung oleh bantuan sarana prasarana pertanian berupa alat penyiraman, terpal, maupun alat pengolahan pupuk organik. Sementara itu bantuan juga diberikan oleh Dinas Pertanian Kab. Lotim berupa bibit bawang serta sarana pendukung lainnya untuk pengolahan pupuk organik.

BI juga menekankan bahwa dengan menggunakan teknik total organik, diharapkan kualitas tanah pertanian di Sembalun yg tercermin dari unsur hara tanah akan kembali meningkat, sehingga diharapkan bawang putih yang dihasilkan akan memiliki ukuran yang lebih besar, kualitas yang tahan lama, serta rasa yang semakin kuat. Penerapan dengan teknik total organik tersebut diyakini akan meningkatkan daya saing produk bawang putih lokal, apabila dibandingkan dengan bawang putih impor yang memiliki umbi yang besar namun rasa yang tidak kuat.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here