MATARAM – Selama 1,5 jam Kamis 20 April 2017 kemarin, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi dimintai keterangan oleh penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya di kediamannya di Mataram. Ini berkaitan dengan laporan dugaan tindak pidana ujaran kebencian yang dilakukan oleh Steven Hadisuryo Sulistyo.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi NTB Yusron Hadi menjelaskan adanya kedatangan penyidik Polda Metro Jaya tersebut melalui keterangan pers yang dikirimkan. ”Beliau menyampaikan kronologis peristiwa dan di BAP. Termasuk diminta keterangan juga istrinya Erica Zainul Majdi juga diminta keterangan,” kata Yusron Hadi, Jum’at 21 April 2017 pagi.

Sebagaimana diketahui, kejadian penghinaan yang terjadi pada hari Ahad 9 april 2017 di konter check in Bandara Changi Singapura menjadi perhatian khalayak luas di Indonesia karena mengandung tendensi rasisme. Banyak pihak yang mengadukan peristiwa itu ke kepolisian baik melalui Polda Metro Jaya maupun Polda NTB.

Tercatat bahkan beberapa tokoh nasional dari etnis Tionghoa seperti Jusuf Hamka dan Lieus Sungkharisma juga melaporkan kejadian ini. Mereka menganggap ini sebagai penghinaan tidak hanya pribadi terhadap Muhammad Zainul Majdi – yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdaltul Wathan (organiasi sosial pendidikan dan dakwah Islamiyah) – yang selaku pemuka agama disebut sebagai Tuan Guru Bajang (TGB – bajang karena berusia muda) namun juga kepada seluruh bangsa Indonesia.

Yusron Hadi juga mengutip Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo sebagai Ketua APPSI (Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia) dalam komunikasinya dengan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi juga bereaksi keras dan menyampaikan akan bersurat ke Kapolri untuk meminta penuntasan kasus ini.

Dalam tanggapannya, TGB menyampaikan bahwa beliau dan istri sudah memaafkan sang pelaku. “Kami sudah maafkan karena bagaimanapun kami menghargai pernyataan maaf bermaterai yang disampaikan oleh saudara Steven. Ajaran agama juga mendorong kita untuk memberi maaf kepada orang yang salah”. Namun demikian, TGB tambahkan, karena banyak masyarakat yang mengadukan penghinaan ini ke kepolisian, maka tentu menjadi kewajiban kepolisian untuk menindaklanjutinya dengan baik dan menuntaskannya.

Perlu ada kejelasan, kata TGB, siapa sesungguhnya Steven ini. Banyak spekulasi tentang pribadi yang bersangkutan termasuk informasi yang beredar di tengah masyarakat bahwa yang bersangkutan memiliki KTP yang aspal, bermasalah atau bahkan palsu. Kalau informasi ini benar, menurut TGB, berarti ada potensi pemalsuan dokumen negara. Yang bisa menginvestigasi secara tuntas adalah kepolisian agar semua hal terkait peristiwa ini menjadi jelas.

TGB menjelaskan, selain Surat Permohonan Maaf yang telah dimuat media juga ada surat Pernyataan yang juga ditandatangani yang bersangkutan dan saudara Jones Djatisasmito yang juga menyaksikan peristiwa di Changi serta mengaku sebagai keluarga pelaku. “Saya yakin apabila kepolisian serius, maka yang bersangkutan akan dapat segera ditemukan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya”, ujar TGB.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here