MATARAM – Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mengindikasikan konsumen di Kota Mataram- Provinsi NTB masih menunjukkan optimisme (IKK 100). Namun optimisme konsumen tersebut melambat dibanding triwulan. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2017 sebesar 105,8, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 110,1 dan Desember 2016 sebesar 117,3.

Penurunan IKK tersebut bersumber dari penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 16,2 poin dan penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 6,8 poin dari posisi Desember 2016.

Kepala Perwakilan BI Nusa Tenggara Barat (NTB) Prijono mengatakan bahwa terhadap penghasilan saat ini, tingkat optimisme rumah tangga menurun dari akhir tahun 2016. Sedangkan terhadap aspek ketersediaan lapangan kerja, rumah tangga cenderung pesimis. Begitu pula untuk 6 (enam) bulan ke depan. ”Tingkat optimisme rumah tangga masih menurun terhadap aspek peningkatan penghasilan, usaha, dan lapangan kerja,” katanya melalui keterangan pers yang diberikan, Rabu 12 April 2017.

Survei Konsumen merupakan survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk melihat tingkat optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ke depan. Survei Konsumen menghasilkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dibentuk dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). IKE dihasilkan dari indeks kegiatan usaha saat ini, penghasilan saat ini, konsumsi barang tahan lama, dan ketersediaan lapangan pekerjaan. IEK dihasilkan dari indeks perkiraan kegiatan usaha, perkiraan penghasilan, dan perkiraan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Konsumen memperkirakan tekanan harga pada tiga bulan mendatang cenderung meningkat, terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) tiga bulan mendatang sebesar 189, naik 16.5 poin dari Desember 2016. Hal ini dipengaruhi oleh perkiraan meningkatnya permintaan saat Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri pada Juni 2017. Namun, tekanan kenaikan harga pada enam bulan mendatang diperkirakan menurun sebagaimana tercermin dari penurunan IEH enam bulan mendatang sebesar tiga poin menjadi 172,5 dibanding Desember 2016. Diperkirakan dalam enam bulan mendatang permintaan akan kembali normal. ”Pasca kenaikan pada saat Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri,” ujarnya.

Menurutnya, pengeluaran rumah tangga lebih banyak untuk konsumsi dengan porsi sebesar 64,4 persen pada triwulan I 2017, diikuti dengan cicilan pinjaman sebesar 19 persen dan tabungan sebesar 16,6 persen. Jika dilihat berdasarkan pendapatannya, tingkat pengeluaran konsumsi yang tertinggi dilakukan oleh kelompok rumah tangga berpendapatan Rp7,1 – 8 juta dan Rp1 – 2 juta. Sedangkan kelompok rumah tangga dengan pendapatan tinggi (> Rp8 Juta) memiliki tingkat pembayaran cicilan pinjaman yang paling tinggi (30 persen). ”Hal tersebut menyebabkan potensi tabungan yang semakin rendah dari kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi,” ucapnya.

Pada triwulan I 2017 terjadi sedikit peningkatan risiko dari sisi kredit karena peningkatan jumlah rumah tangga yang memiliki Debt Service Ratio lebih dari 30 persen (DSR > 30 persen). Jumlah rumah tangga dengan DSR > 30 persen pada triwulan I 2017 naik sebesar 4,7 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Kelompok rumah tangga dengan pendapatan Rp1 – 2 Juta memiliki rasio DSR > 30 tertinggi di antara kelompok rumah tangga lainnya, yaitu sebesar 6,2 persen. Institusi keuangan menilai bahwa rumah tangga dengan DSR > 30 persen memiliki risiko tinggi dan dapat menjadi penyebab kredit bermasalah. Peningkatan DSR > 30 persen terutama terjadi pada kelompok rumah tangga dengan pendapatan Rp4,1–5 Juta dengan peningkatan sebesar 66,7 persen, sementara itu penurunan DSR > 30 persen tertinggi terjadi pada kelompok rumah tangga dengan pendapatan Rp2,1 – 3 Juta.

Sedangkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) mengindikasikan kegiatan usaha triwulan I-2017 melambat dibanding triwulan sebelumnya. Perlambatan kegiatan usaha tersebut diikuti oleh penurunan penggunaan tenaga kerja dan penurunan rentabilitas. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha melambat hingga 0,07, dari triwulan sebelumnya sebesar 3,72. Perlambatan tersebut terkait penurunan kegiatan usaha Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, serta Sektor Bangunan.

SBT pada kapasitas produksi terpakai yang dihitung dari 4 (sektor) yaitu Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan, Sektor Pertambangan, Sektor Industri Pengolahan, serta Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih menunjukkan sedikit peningkatan. Peningkatan kapasitas produksi pada Sektor Pertambangan mendorong peningkatan SBT secara keseluruhan pada keempat sektor tersebut.

Kondisi keuangan dari sisi likuiditas usaha menunjukkan peningkatan dengan nilai Saldo Bersih (SB) 42,35 persen, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang sebesar 36,05 persen. Pada triwulan I 2017, sebanyak 48,24 persen kondisi likuiditas baik, 45,88 persen kondisi likuiditas cukup, dan hanya 5,88 persen kondisi likuiditas buruk.

Sebaliknya, dari sisi rentabilitas atau kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan menunjukkan penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, dengan nilai SB sebesar 38,82 persen dari triwulan sebelumnya sebesar 43,02 persen. Dari sisi akses kredit juga menunjukkan penurunan. Nilai SB akses kredit sebesar 50 persen, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 52,38 persen.

Penggunaan tenaga kerja mengalamai penurunan dengan nilai SBT -0,51, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,43. Penurunan penggunaan tenaga kerja tersebut dialami oleh Sektor Bangunan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, serta Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan.

Harga jual pada triwulan I-2017 menunjukkan peningkatan dengan nilai SBT 17,30, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 7,45. Peningkatan pada harga jual tersebut terutama pada Sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan, serta Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran.

Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) merupakan survei triwulanan untuk melihat perkembangan kegiatan usaha. Metode perhitungan dilakukan dengan metode saldo bersih (SB-net balance), yakni dengan menghitung selisih antara persentase jumlah responden yang memberikan jawaban “meningkat” dengan presentase jumlah responden yang memberikan jawaban “menurun” dan mengabaikan jawaban “sama” . Khusus perhitungan saldo bersih kegiatan usaha, harga jual, penggunaan tenaga kerja, kondisi investasi, dilakukan dengan metode Saldo Bersih Tertimbang (SBT-weighted net balance) yag diperoleh dari perkalian saldo bersih sektor/subsektor yang bersangkutan dengan bobot sektor/subsektor yang bersangkutan sebagai penimbangnya.

SUPRIYANTHO KHAFID
 
Adapun dari Surbvei Pemantauan Harga dan Perkembangan Inflasi didapatkan tekanan harga di Provinsi NTB pada Maret 2017 menurun sebagaimana pola bulanannya, yaitu mengalami deflasi 0,68 persen (mtm) setelah dalam bulan sebelumnya (Februari) mengalami inflasi sebesar 0,24 persen (mtm).

Deflasi NTB jauh lebih dalam dari pada deflasi nasional sebesar 0,02 persen (mtm). Secara spasial, deflasi NTB Maret 2017 merupakan terdalam ketiga setelah Provinsi Kepulauan Riau (-0,80 persen), dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (-0,79 persen). Secara historis, deflasi Maret 2017 yang terendah dibandingkan dengan bulan Maret dalam 5 (lima) tahun terakhir. Sumber deflasi terutama berasal dari komoditas makanan bergejolak (volatile food) yang mengalami deflasi sebesar 3,63 persen (mtm). Sebaliknya, komoditas yang harganya diatur pemerintah (administered price) mengalami inflasi sebesar 0,54 persen (mtm). Kota Mataram dan Kota Bima juga mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,62 persen dan 0,91 persen (mtm).

Sumber deflasi komoditas makanan bergejolak (volatile food) terutama karena meningkatnya pasokan seiring dengan telah mulainya panen beberapa komoditas. Komoditas penyumbang deflasi terbesar adalah beras, tomat sayur, daging ayam ras, cabai rawit, dan tongkol/ambu-ambu. Sementara itu, terdapat komoditas yang mengalami inflasi antara lain: tarif listrik, batu bata, jeruk, sewa rumah, dan anggur.

Tekanan inflasi pada April 2017 diperkirakan masih rendah dan di dalam sasaran inflasi nasional. Dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir secara historis rata-rata harga komoditas pada bulan April mengalami deflasi 0,05 persen (mtm). Survei yang dilakukan Bank Indonesia terhadap perkembangan komoditas pada akhir Maret dan minggu pertama April 2017 menunjukan adanya tren penurunan pada komoditas beras, cabai rawit merah, dan daging ayam ras.

Bank Indonesia dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB telah menyusun program kerja yang akan menjadi pedoman dalam pengendalian inflasi daerah selama tahun 2017. Sebagai upaya untuk monitoring harga antar daerah di Provinsi NTB, saat ini di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) nasional (www.hargapangan.id) telah dilakukan proses penambahan pasar selain di Kota Mataram dan Kota Bima, yaitu pasar di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa.

Dalam 1-2 bulan kedepan diperlukan langkah-langkah strategis dalam mengantisipasi perkembangan harga dan kecukupan pasokan komoditas menjelang dan pada bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Inflasi bulanan (mtm) pada saat bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri rata-rata dalam lima tahun terakhir sekitar 1,18 persen (mtm). Kami prakirakan pada bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri (Juni 2017), inflasi akan berada di kisaran rata-rata lima tahun tersebut.

Sementara itu, komoditas makanan bergejolak yang kerap mendorong terjadinya inflasi pada momen tersebut yaitu beras, daging sapi, daging ayam, kangkung, apel, dan tomat sayur.
Secara keseluruhan tahun 2017 inflasi NTB diperkirakan berada dalam target inflasi nasional sebesar 4±1 persen. Meskipun demikian, terdapat beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai, diantaranya: Risiko cuaca dan anomali iklim yang masih berpotensi mengganggu produksi tanaman pangan maupun hortikultura di tahun 2017. Meningkatnya permintaan masyarakat seiring dengan peningkatan kunjungan wisatawan ke NTB. Kemungkinan penyesuaian tarif administered price (BBM dan Listik) seiring dengan fluktuasi harga minyak dunia.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here