MATARAM – Mulai Kamis 2 Maret 2017, Sembalun dibangkitkan kembali sebagai daerah penghasil bawang putih nasional. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama PT Pupuk Kaltim memulai melakukan penangkaran benih pada lahan demplot seluas dua hektar.

Wakil Bupati Lombok Timur Haerul Warisin dan Direktur Komersil Pupuk Kaltim Gatoet Gembiro Noegroho menyalurkan bantuan pupuk dan bibit senilai Rp 150 juta untuk kepentingan 79 kelompok yang membawahi 300 orang petani bawang. Lombok Timur ingin mengembalikan kejayaan Sembalun sebagai sumber bawang putih seperti era pemerintah Soeharto. ”Sembalun itu penyangga sayur nasional. Bawang putih pernah berjaya, kenapa tidak dikembangkan,” kata Haerul Warisin.

Menurut Ketua Kelompok Tani Lendang Guar Ruspaini menyebutkan semula lahan tanam bawang putih di Sembalum seluas 4.000 hektar. Namun setelah reformasi, karena harganya merosot sehingga petani berkurang menanamnya. Biaya tanamnya cukup tinggi hingga mencapai Rp 110 juta per hektar. Saat ini luas tanam bawang putih tersisa 400 hektar. Sedangkan lahan lainnya digunakan untuk menanam sayur-sayuran yang lain seperti kubis, cabe, kentang dan tomat.

Bantuan yang dibawa oleh PT Pupuk Kaltim berupa Pupuk NPK 16-16-16, Pupuk Hayati Ecofert, Biodekomposer Biodex senilai Rp24 juta dan Bibit Bawang Putih 1,8 ton senilai 126 juta.

Selain bantuan pupuk dan bibit bawang putih, menurut Gatoet Gembiro Noegroho, Pupuk Kaltim juga akan melakukan demplot di dua titik masing-masing seluas satu hektar. Dalam hal ini Pupuk Kaltim akan menyiapkan pupuk, bibit dan pendampingan bersama instansi terkait. ”Sehingga pengembangan pertanian bawang putih di Desa Sembalun dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Untuk keperluan demplot Pupuk Kaltim akan menganggarkan sebesar Rp220 juta, serta dari hasil panen demplot tersebut nantinya akan diserahkan seluruhnya kepada petani pelaksana demplot.

Satu hektar lahan tanam bawang putih yang memerlukan waktu tanam selama empat bulan mampu menghasilkan 25 ton bawang dalam keadaan basah atau 12 ton dalam keadaan kering yang penjualannya untuk benih berlabel Rp 70 ribu per kilogram atau penjualan komersial Rp 60 ribu perkilogram.(sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here