MATARAM – Sampai Rabu 31 Agustus 2016 pagi, Kepolisian Resort (Polres) Mataram belum mengakhiri pemeriksaan terhadap Gatot Brajamusti, istrinya Dewi Aminah, Reza Artamevia, Richard, seluruhnya enam orang yang dinyatakan positif narkoba setelah pemeriksaan urine.

Menurut Kepala Polres Mataram Ajun Komisaris Besar Heri Prihanto, waktu pemeriksaannya masih sehari sesuai ketentuan tiga kali 24 jam sejak ditangkap di kamar 1100 lantai 11 Hotel Golden Tulip Mataram, Ahad 28 Agustus 2016 pukul 23.00 Waktu Indonesia Tengah (Wita). ‘’Pemeriksaannya belum selesai,’’ kata Heri Prihanto yang menemuinya, seusai upacara hari ulang tahun Pemerintah Kota Mataram ke 23 di Lapangan Sangkareang Mataram, Rabu 31 Agustus 2016 pagi.

Sebagai mana diberitakan sebelumnya, mereka ditangkap polisi dari Polres Mataram setelah mendapatkan info dari masyarakat ‘’Ya sebelumnya ada laporan dari masyarakat adanya pesta sabu ni,’’ ujarnya tanpa bersedia menyebutkan waktu menerima laporannya.

Heri Pihanto pun menegaskan bahwa operasi tangkap tangan itu murni dilakukan oleh Polres Mataram tanpa keterlibatan pihak lain. ‘’Info dari mana yang mengatakan ada satgas Merah Putih,’’ ucapnya. Ia mengatakan tim yang menangkap Gatot Brajamusti dan kawan-kawan itu sepenuhnya dilakukan oleh personil Polres Mataram.

Ahad 28 Agustus 2016 pagi pukul 07 Waktu Indonesia Tengah, Gatot Brajamusti terpilih kembali sebagai ketua umum PP Parfi setelah menyisihkan rivalnya Andre da Silva dengan angka perolehan suara 464 suara dan 78 suara.

Barang bukti yang diambil oleh Polres Mataram disaksikan dua orang satuan pengaman Hotel Golden Tulip Mataram M Zaky dan Nutasip yaitu dari Gatot Brajamusti berupa satu klip plastik yang berbentuk kristal putih di duga sabu, satu alat penghisap sabu/bong, satu pipet kaca, dua buah sedotan, satu korek gas untuk membakar bong, dua buah dompet berisi KTP, sejumlah uang dan satu buah telepon seluler.

Dari Dewi Aminah sebagai istri Gatot Brajamusti, berupa satu klip plastik yang berbentuk kristal putih di duga sabu, satu alat penghisap sabu/bong, dua pipet kaca, empat buah sedotan, lima korek gas untuk membakar bong, satu buah dompet berisi KTP, sejumlah uang, satu buah telepon seluler, satu strip obat, dua buah kondom.

Ozzy SS selaku kuru bicara keluarga Gatot Brajamusti mengatakan pemilihan ketua umum PP Parfi selalu diwarnai nuansa hiruk pikuk. ‘’Perkara ini by design,’’ ucapnya. Ia menduga akan ada yang muncul sebagai pahlawan.

Dulu, ketika Kongres Parfi 2011 yang tidak mampu dilaksanakan oleh Ketum Parfi Yenny Rahman, setelah Gatot Brajamusti yang melaksanakan menggunakan biaya sebesar Rp 7 miliar dan memilih Gatot Brajamusti sebagai ketua, menjadi heboh dan berbuntut ke pengadilan. (sk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here